Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Rencana


__ADS_3

"Abang, gue mau keluar bentar. Bosen nih". Thian mendatangi kamar Fathan. Meminta ijin untuk keluar rumah. "Kemana dek". Fokus Fathan tetap pada bukunya walaupun sedang berbincang dengan sang adik.


"Ambil obat Oma, sekalian main tempat papa". Thian menjelaskan tujuannya sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang sang Abang. "Oma gak diajak dek. Dah waktu kontrol kan". Fathan menutup bukunya sejenak dan mendekat kearah sang adik. "Kata papa tinggal ambil obat aja. Tadi papa kirim chat ke gue". Jelas Thian kepada sang Abang.


"Oh. Ya udah sana. Keburu Oma minum obat lagi". Fathan beralih menyalakan televisi yang berada didalam kamarnya. "Obat Oma masih ada sampai nanti malam. Tadi udah gue cek. Makanya gue ambil siangan". Thian masih santai diatas ranjang. "Oh. Mama pergi kemana sih. Gue tadi kebawah nyari kok gak ada". Fathan menanyakan keberadaan sang mama.


"Pengajian dirumah Bu RW bang. Tadi pamitan ke gue. Mama lihat ke kamar loe. Tapi loe lagi mandi. Jadi mama cuma pamit ke gue". Thian menjelaskan secara gamblang. "Huh. Ya udah gue pergi dulu bang. Jagain Oma dulu bentar". Thian beranjak dari ranjang dan merapikan penampilannya kembali.


"Sama supir kan loe dek". Fathan memperhatikan sang adik yang sedang merapikan penampilannya. "Sendiri aja bang. Paling sama Markono". Thian berjalan keluar kamar Fathan. Sampai didepan pintu Fathan kembali memanggil sang adik. "Dek. Hati-hati". Pesan Fathan kepada Thian. Thian hanya mengangguk lalu meninggalkan kamar sang abang.


Sebelum meninggalkan rumah, Thian melihat keadaan sang Oma. Perlahan Thian masuk kedalam kamar sang Oma. Thian mengecup kening sang Oma sebelum pergi. Thian mengendari mobil pribadinya dan hanya ditemani oleh Ono. Dia yang selalu setia mengawal kemanapun Thian pergi.


"Bos. Nyalain musik dong. Biar rame". Pinta Ono kepada Thian. "Loe mau konser". Tanya Thian pada Ono. "Dikit bos. Biar gak sepi gini". Jawaban Ono dibalas decakan oleh Thian. Thian menyalakan musik didalam mobil. Dan Ono semangat bergoyang kekanan dan kekiri. Ono hanya bisa berdehem mengikuti syair lagu. Karena sekali saja Ono mengeluarkan suara emasnya Thian akan memintanya diam.


Thian melajukan kendaraannya dengan santai. Jalanan ibukota tak pernah sepi. Namun hari ini juga tidak terlalu padat. Tiga puluh menit waktu yang ditempuh Thian untuk sampai di rumah sakit milik papanya. Thian masuk kedalam lobi setelah memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Kedatangan Thian menjadi pusat perhatian. Walaupun dia sudah menutup wajahnya, tetap saja masih dikenali. Thian langsung menuju ruangan sang papa. Para perawat berbisik mengagumi ketampanan Thian. Dan beberapa dari perawat disana adalah fans si kembar.


Tok tok tok


"Masuk". Suara Airil dari dalam ruangan. Thian membuka pintu dan mengucapkan salam kepada sang papa. "Assalamualaikum pah. Lagi sibuk". Airil tersenyum melihat sang putra. "Waalaikumsalam. Nggak dek. Sini masuk". Thian menghampiri sang papa dan mencium telapak tangannya. "Sendiri dek". Tanya Airil sambil memperhatikan Thian. "Sama Ono pah". Thian duduk dikursi ya g berhadapan dengan sang papa.


"Gak sama sopir atau Abang". Airil kembali bertanya kepada Thian. "Gak pah. Abang jaga Oma. Thian lagi pingin nyetir sendiri". Thian menjelaskan sambil memainkan kalender duduk diatas meja kerja Airil. Airil tersenyum menanggapi sang putra. Tak lama pintu ruangan Airil kembali diketuk. Salah seorang perawat masuk dan memberitahukan jika ada seorang teman Airil ingin bertemu dengannya.


"Assalamualaikum dokter Airil. Lama tidak bertemu". Sapa seseorang setelah masuk ruangan Airil. Airil berdiri dan menyambut sang kawan lama. "Wah Dimas. Apa kabar bro". Airil memberikan pelukan kepada teman lamanya. "Alhamdulillah masih waras. Haha". Teman Airil menjawab dengan candaan dan sambut gelak tawa keduanya.


"Ini anak gue yang nomor dua Dim". Jelas Airil kepada temannya. "Bentar. Bentar. Kok wajahnya kayak familiar banget ya". Pak Dimas mengamati Thian sambil menginta sesuatu. "Perasaan loe aja dim. Ayo duduk". Airil mengalihkan pembicaraan. Airil tak pernah mempromosikan anaknya dihadapan teman-teman sejawaatnya ataupun teman lamanya. Airil ingin mereka mengenal putranya tanpa harus Airil perjelas mereka siapa.


"Lama gak ketemu. Kemana aja loe dim. Ngilang gitu aja". Tanya Airil kepada sang teman yang sudah duduk disamping Thian dan berhadapan dengan dirinya. "Gue pindah keluar kota ril. Sorry kontak kalian banyak yang hilang". Jelas sang teman. Teman Airil kembali memperhatikan Thian yang hanya diam memperhatikan kedua teman ya g sedang melepas rindu.


"Ah gue ingat sekarang. Ini si kembar yang bintang film itu kan". Pak Dimas kembali menunjuk kearah Thian. Thian hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Airil pun ikut tersenyum. "Jadi mereka anak loe ril. Gue gak nyangka banget. Anak-anak loe udah cakep terkenal lagi". Pak Dimas masih tak percaya dengan fakta didepannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah rezeki mereka sendiri dim". Ucap Airil tetap merendah. "Omong-omong loe udah merried belum". Tanya Airil sambil diiringi suara tawa. "Gila apa gue sudah setua ini belum nikah. Gue juga ganteng kali". Pak Dimas tidak terima dengan perkataan Airil. Airil hanya menanggapi dengan tawa.


"Gue udah punya anak tiga ril. Satu perempuan dua laki-laki". Jelas pak Dimas. "Wah Alhamdulillah. Senang gue dengarnya". Jawab Airil dengan senyuman. "Anak gue yang perempuan seusia anak loe ril. Kalau yang cowok masih sekolah semua". Jelas pak Dimas.


Thian ingat harus segera kembali. Karena memang tujuannya hanya mengambil obat sang Oma. "Pah. Aku ambil obat Oma dulu. Sekalian mau pulang". Sela Thian ditengah perbincangan sang papa dengan temannya. "Oh iya papa lupa dek. Ini resepnya". Thian memberikan resep obat untuk ditebus. "Ya udah. Thian pamit ya pah, om". Thian berdiri dan mencium telapak tangan mereka bergantian. "Ya nak hati-hati". Pesan Airil kepada sang putra.


"Ya pah. Assalamualaikum". Thian berjalan meninggalkan ruangan sang papa. "Waalaikumsalam". Jawab Airil dan pak Dimas bersamaan. Obrolan kedua teman lama itu terus berlanjut.


Thian berjalan menuju parkiran usai menebus obat sang oma. Salah seorang penggemarnya memanggil nama Thian. Thian berhenti sejenak melayani beberapa penggemar yang ingin berfoto bersamanya. Usai melayani beberapa penggemarnya, Thian kembali kerumah. Entah kemana perginya Markono. Karena sejak masuk rumah sakit dia tidak menemani Thian.


"Assalamualaikum". Ucap Thian saat tiba dirumah. "Waalaikumsalam. Darimana loe Yan". Sapa emak saat melihat cucunya baru saja sampai. "Dari rumah sakit ambil obat Oma". Jawab Thian. Thian duduk disamping sang Oma. "Oma nonton apa. Serius banget". Tangan Thian cekatan mengambil cemilan yang berada dipangkuan emak.


"Ini loh drama Korea lagi hits". Emak yang fokus dilayar televisi tidak menyadari jika toples cemilan milik ya sudah berpindah tempat. "Oh. Ya udah Thian ke kamar dulu". Thian beranjak dengan membawa toples milik emak. Emak meraba pangkuannya mencari toples miliknya. Namun tak ditemukan. "Thian kampret. Balikin punya Oma". Emak berteriak lantang setelah sadar jika Thian membawa toples miliknya. Hanya suara tawa Thian ya g terdengar.


Sedangkan dirumah sakit, Airil masih membahas hal pribadi bersama Dimas temannya. "Hmm. Coba gue diskusi dulu ya dim. Dan gue gak bisa janji ini bisa disetujui keluarga gue". Jelas Airil kepada pak Dimas. "Iya ril gapapa. Apapun keputusan loe nanti gue terima". Jawab pak Dimas yang disambut senyuman Airil.

__ADS_1


__ADS_2