Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Akhir Sebuah Cerita


__ADS_3

Bulan sudah berganti. Ini adalah saat yang dinantikan Thian. Sejak semalam Thian sudah merasakan mulas sama seperti Zee. Saat Zee kontraksi, Thian merasakan hal yang sama. Suara teriakan saling bersahutan dari Thian dan Zee membuat kedua orangtua mereka bingung.


Zee sudah berada dirumah sakit sejak subuh. Dokter yang memeriksa Zee mengatakan jika Zee sudah pembukaan empat. Dan hingga pagi ini pembukaan Zee mulai bertambah dan semakin cepat. Thian merasakan betapa sakitnya Zee saat mengalami kontraksi. Bahkan Thian berusaha menahannya agar bisa menemani Zee diruang persalinan.


"Dek". Fathan yang baru saja datang, segera menemui Thian diruang rawat karena Thian dipindahkan setelah hampir pingsan menahan sakit.


"Bang. Akhhh. Sesakit ini bang". Fathan segera memeluk tubuh adiknya yang sudah penuh keringat dan juga air mata yang terus mengalir.


"Kamu hebat dek. Kamu istimewa. Abang iri sama kamu dek yang bisa merasakan apa yang istri kita rasakan saat ini". Tak terasa Fathan ikut menangis. Thian terus merintih dan berguling-guling saat kontraksi yang Zee rasakan menyerang.


Zee ditemani oleh Eneng dan maminya secara bergantian. Hampir delapan jam Zee mengalami kontraksi dan akhirnya waktu yang dinantikan pun tiba. Zee sedang berjuang melahirkan seorang malaikat kecil kedunia ini.


Thian tetap merasakan sakit yang Zee rasakan saat ini. Fathan dan Almeer menemani Thian. Sedangkan istri mereka berada diruang tunggu didekat ruang bersalin Zee.


"Oek oek". Suara tangis begitu kencang telah terdengar. Semua berucap syukur karena perjuangan Zee terbayarkan sudah. Thian pun juga sudah tak merasa sakit lagi. Dia berjalan dengan dipapah Fathan menuju ruangan Zee. Wajahnya penuh dengan keringat bahkan tubuhnya benar-benar lunglai tanpa tenaga.


Thian masuk kedalam ruang bersalin setelah mendapat izin. Matanya sudah berkaca-kaca. Melihat wanita kedua yang dia cintai sedang terbaring lemah diatas ranjang. Bayi mungil yang sudah berada diatas dada sang mami, menggeliat pelan dan merengek mencari sumber makanannya.


"Mami, sayang". Lirih suara Thian memanggil sang pujaan hati dan berdiri disampingnya. Zee menoleh tersenyum lemas. Wajah pucatnya masih tampak jelas. Sisa keringat pun tampak membasahi seluruh wajah dan rambut Zee.


"Terimakasih mami. Terimakasih sayang. Kamu sudah berjuang untuk putri kecil kita". Thian mengecup dalam kening Zee setelah mengucapkan kata itu. Bahkan air mata bahagia keduanya begitu deras menetes. Saat Thian masuk dokter memberitahukan jika buah hati mereka berjenis kelamin perempuan.


"Terimakasih juga papi hebat. Suami terhebatnya Zee. Kamu juga merasakan apa yang aku rasakan sayang. Terimakasih atas besarnya cintamu sayang. Sekarang lakukan tugas pertamamu sebagai papi". Thian mengangguk paham. Dia meminta tolong kepada perawat agar mengangkat tubuh putrinya untuk dia pangku. Thian mulai mengadzani dan mengiqomahi sang putri.

__ADS_1


"Welcome to the world my princess. Welcome to our life. Elnaura Malik Prasaja". Nama yang indah untuk bayi yang cantik. Elnaura memiliki arti keindahan, kecantikan dan kecerdasan.


"Welcome baby El. Mami dan papi akan selalu menyayangi dan menjagamu". Ucap Zee lirih dan menatap kedua pujaan hatinya dengan penuh cinta yang tengah duduk disofa.


Keluarga Malik dan Prasaja segera mengumumkan kelahiran putri Thian. Sama seperti saat si kembar Elfano dan Elfino lahir. Kebahagiaan kedua kuarga semakin bertambah dengan kehadiran Naura. Mereka juga sudah mempersiapkan acara aqiqah putri cantik itu setelah hari kelima dia lahir kedunia.


Dua tahun kemudian


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa usia Naura sudah dua tahun. Dia tumbuh dengan baik. Namun hal yang paling mengejutkan adalah sifat Naura yang berbanding terbalik dengan kedua sepupu kembarnya.


Naura sangat dingin. Dia tidak akan berbicara banyak jika itu tidak penting. Naura sangat suka menghabiskan waktunya didalam kamar saat liburan. Dia suka sekali rebahan dan akan marah jika diganggu. Jika kedua sepupunya datang dan membuat ribut, Naura memilih pergi menjauh dan menyendiri.


"Papi Thian. Naura kemana". Fino bingung mencari keberadaan adiknya. Thian juga ikut mencari keberadaan Naura setelah mendengar teriakan keponakannya.


"Lah tadi bukannya duduk disini juga". Thian mulai bingung karena tidak melihat sang putri. Thian hari ini membawa Naura ke kantor dan si kembar menyusul Naura sepulang sekolah.


"Princess. Baby. Kenapa disini sayang. Abang nyariin didepan". Naura hanya melirik saja melihat papinya membangunkannya.


"Ndak mau". Naura menjawab dengan nada cedalnya. Thian tersenyum paham. Naura sudah mulai tidak nyaman jika sudah begini.


"Ya sudah. Nanti segera bangun ya sayang. Sebentar lagi kita makan siang keluar. Sekalian jemput mami". Thian mengusap sayang surai Naura. Dan mengecup pipi gembulnya.


Thian meninggalkan Naura didalam kamar dan kembali keruangannya. Fano dan Fino menatap Thian mencoba mencari jawaban dimana Naura berada. Karena Thian kembali tanpa Naura.

__ADS_1


"Naura mengantuk bang. Kalian main sendiri dulu ya. Setalah papi selesaikan ini, kita makan siang diluar". Si kembar bersorak senang dengan tawaran Thian. Sejak sebelum adanya Naura, si kembar memang sering bersama Thian. Itu yang membuat mereka begitu dekat saat ini.


Sebelum jam makan siang, Naura sudah siap diruangan Thian. Mereka segera meninggalkan kantor Thian dan akan menjemput Zee terlebih dahulu dikantor Zee. Usai menjemput Zee, mereka menuju resto yang juga menyediakan permainan anak-anak.


Jika diluar ruangan atau tempat umum, si kembar El akan selalu menjadi penjaga Naura. Bak bodyguard yang menjaga sang tuan putri. Naura berada diantara si kembar yang siap sedia menjaganya. Thian dan Zee berjalan dibelakang mereka sambil bergandengan tangan dan tersenyum melihat tingkah si kembar.


Mereka benar-benar tampak bahagia. Bahkan banyak mata memandang iri melihat keharmonisan keluarga itu. Apalagi sepasang suami istri yang sangat serasi, dan dikenal banyak orang.


"Tak terasa usia El sudah hampir tiga tahun ya mi. Ada niatan buat adek gak nih". Thian menggoda sang istri disela-sela makan siang mereka.


"Hush. Belum waktunya. Lupa apa siapa yang ikut teriak pas aku kontraksi. Hem". Thian hanya tertawa mendengar sindiran sang istri.


"Kan susah senang bersama baby. Kamu sakit akupun sakit". Zee hanya menghela nafasnya saja mendengar pembelaan sang suami.


"Nanti ya suamiku tercinta. Tunggu El sudah sekolah dulu". Thian tersenyum menanggapi jawaban istrinya. Dalam hati Thian sebenarnya sudah tidak ingin lagi menambah momongan, mengingat seperti apa perjuangan Zee saat mengandung dan melahirkan. Dia pun ikut merasakan sebagian kecil proses itu.


Beberapa kali Zee membahas tentang rencana memiliki adik untuk El, itu yang membuat Thian mengurungkan niatnya untuk mengatakan keinginannya tidak memiliki anak lagi. Thian tidak ingin Zee kecewa dan sedih.


-______-


Hidup tak selalu indah sesuai impian dan harapan kita. Semua akan ada waktunya. Bagaimana cara kita menjalankan dan menerima keadaan kita, akan membentuk karakter dalam diri kita sendiri.


Terkadang apa yang kuta lihat dari indahnya hidup oranglain, tak seindah apa yang mereka rasakan sebenarnya. Cukup syukuri apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Jalani dengan ikhlas dan sabar. Karena semua akan indah pada waktunya jika kita bisa tetap bersyukur.

__ADS_1


Terimakasih sudah menjadi reader setia dan tercintaku. Kisah ini saya tutup disini. Maaf saya hanya penulis amatir yang sangat banyak kekurangan. Semoga kalian diberikan kesehatan dan kecukupan dalam segala hal. Terimakasih dan Terimakasih guys. Love u. Jay, Rashsya, Eneng dan Si kembar pamit undur diri. Ono dan Kunkun juga pamit ya gess.


Sampai ketemu next story'...bye bye. Have a nice day...


__ADS_2