Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Penyemangat


__ADS_3

Dua Minggu berlalu keadaan Oma masih sama. Dan Oma dinyatakan koma. Walaupun Airil masih bingung apa penyebab ibu mertuanya itu koma. Mereka hanya bisa berdoa yang terbaik agar Oma segera sadar.


Jika sikembar tidak ada jadwal ke luar kota, mereka akan bergantian menjaga Oma dirumah sakit. Terkadang keluarga Malik juga ikut berjaga. Rencana pernikahan Thian diundur sampai Oma sehat. Karena Thian ingin Oma datang ke pernikahannya.


Satu bulan sudah Delisha dirumah sakit barunya. Dan sudah ada perkembangan yang baik. Anam dan Putra selalu datang mengunjungi Delisha. Dokter Key mengatakan kepada Thian, jika kondisi emosi Delisha sudah lebih baik lagi. Delisha akan diijinkan pulang dan menjalani rawat jalan saja.


Hari ini Thian akan mengajak Zee bertemu Delisha untuk pertama kalinya. Thian sudah menjemput Zee dikantor saat makan siang. Karena sore hingga malam hari Thian ada pekerjaan. Zee juga sudah menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk Delisha.


Thian masuk kedalam hotel milik Arsya dan langsung menuju ruangan Zee. Bagi para pegawai hotel tersebut sudah tidak asing melihat Thian datang. Thian masih menunggu Zee diruangannya. Zee sedang meeting bersama Arsya dan Serkan.


"Kakak. Sudah lama nunggunya". Sambut Zee ketika dia sudah masuk kedalam ruangannya dan melihat Thian sedang duduk dan bermain game online dari ponselnya.


"Gak begitu beib. Udah selesai meetingnya". Thian menarik tangan Zee agar duduk disampingnya dan menyelipkan rambut Zee yang berantakan.


"Hmmm. Sudah. Kita langsung ke rumah sakit aja gimana kak. Keburu sore nanti. Jam besuk juga terbatas kan". Thian mengangguk menyetujui perkataan Zee. Zee berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil paper bag berisi hadiah untuk Delisha.


Thian menggandeng tangan Zee keluar dari hotel dan segera menuju rumah sakit tempat Delisha dirawat. Saat mereka melintasi lobby hotel, banyak fans Thian yang ingin berfoto bersama. Thian hanya bisa menanggapi beberapa saja. Karena dia memang diburu waktu.


Hampir satu jam perjalanan mereka menuju rumah sakit tempat Delisha dirawat. Thian sengaja membawa Delisha kerumah sakit yang jauh dari pusat kota agar proses penyembuhannya maksimal. Thian takut jika Delisha berada dikota, dia tidak bisa tenang jika sudah ada wartawan yang mengetahui keberadaannya. Yang terpenting bagi Thian, kesehatan mental Delisha harus segera pulih.


Thian kembali menggandeng tangan Zee setelah mereka sampai dirumah sakit. Thian selalu menggunakan penyamarannya jika sedang keluar. Thian menuju ruangan dokter Key. Sebelumnya dia sudah membuat janji dengan dokter Key.


"Siang dok". Sapa Thian setelah diantar masuk oleh salah seorang perawat yang menjadi asisten dokter Key.


"Selamat siang, mari masuk. Wah gak nyaka saya kedatangan artis top ini". Dokter Key sedikit bercanda agar mencairkan suasana. Thian dan Zee duduk berdampingan setelah dipersilahkan.


"Ah dokter bisa saja. Bagiamana kabar adik saya dok". Tanpa basa-basi Thian segera mengatakan apa tujuannya datang.

__ADS_1


"Delisha sudah lebih baik. Bahkan sekarang sudah bisa berinteraksi dengan pasien lain. Jika kita ajak bicara juga sudah lebih tenang". Jelas dokter Key yang membuat hati Thian benar-benar bahagia.


"Lalu apa adik saya sudah boleh pulang dok". Thian sangat berharap Delisha pulih total dan kembali bersama keluarga kecilnya.


"Untuk kepulangan saya masih belum memberikan ijin. Kita tunggu dia bulan kedepan dulu. Apa pasien masih ada tanda-tanda yang mengarah ke depresinya atau tidak. Memang akhir-akhir ini Delisha sudah lebih ceria lagi. Apalagi dianjyga sudah bisa mengenali suami dan anaknya. Tapi tetap kuta harus lihat kemajuannya dua bulan lagi ". Thian mengangguk paham. Ada sedikit kecewa mendengar penjelasan dokter Key. Tapi setidaknya Delisha ada harapan untuk sembuh dan normal seperti semula.


"Baiklah kalau memang harus begitu dok. Saya akan ikuti prosedurnya. Boleh saya bertemu adik saya dok". Thian sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Delisha.


"Tentu boleh. Mari saya antar". Dokter Key beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruangan Delisha diikuti Thian dan Zee.


Ditaman rumah sakit, Delisha sedang bermain dengan teman-temannya. Walaupun dari kejauhan sudah tampak jika Delisha lebih baik dari sebelumnya, namun dokter masih belum bisa menyatakan kesembuhan Delisha.


"Assalamualaikum dek". Sapa Thian perlahan. Delisha segera menengok kearah suara. Matany berbinar-binar dan dia segera memeluk Thian.


"Kakak kemana saja. Apa kakak tidak sayang sama Delisha lagi. Kok gak pernah jenguk Delisha". Thian mengusap lembut surai Delisha. Delisha menangis sesenggukan dipundak Thian.


"Maaf Kakak terlalu sibuk. Kamu sehat kan dek. Sudah jangan menangis lagi". Tatapan Delisha baru menyadari jika ada perempuan cantik yang sedang berdiri dibelakang Thian sambil tersenyum kepadanya.


Thian menarik tangan Zee agar berdiri lebih dekat lagi. Delisha noak terdiam saja, sedangkan Zee sudah tersenyum tulus dan manis kepada Delisha.


"Kenalkan ini Nadzeera. Dia tunangan kakak sayang. Delisha kembali menatap Zee, Zee semakin maju dan saling berhadapan dengan Delisha.


"Hai. Kenalkan namaku Nadzeera. Kamu bisa panggil Zee. Ternyata kamu memang cantik". Walaupun mendapat pujian, reaksi Delisha masih tetap sama.


Thian menyadari perubahan sikap Delisha. Thian menggenggam tangan Delisha dan mencoba menjelaskan tentang kondisi yang dia lihat saat ini.


"Dek. Zee dan kakak kenal sedari kecil. Dan kami bertunangan tahun lalu. Maaf jika kalian berdua bari kakak pertemukan. Jadi Delisha, usahakan untuk tetap sopan dengan kak Zee"

__ADS_1


Delisha mulai paham arah pembicaraan dari Thian. Delisha pun berdiri dan memeluk tubuh Zee.


Begitu bahagianya Thian melihat kedua orang yang disayanginya. Setelah melepaskan pelukannya, Zee menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Delisha.


"Ini apa kak". Tanya Delisha penasaran karena hadiah yang dibawa Zee sangat banyak. Thian hanya duduk memperhatikan saja. Dokter Key juga ikut memantau.


"Ini hadiah perkenalan kita. Maaf kakak baru bisa mengenalmu sekarang. Karena dia tidak pernah cerita sama kakak". Zee sengaja melirik Thian saat mengatakan hal itu. Delisha pun tersenyum.


"Tapi ini banyak sekali kak. Dan semua punya Delisha". Delisha tanpa bahagia mendapat banyak hadiah tapi juga bingung karena baru sekarang ada orang lain memberikan dia hadiah sangat banyak kecuali si kembar.


"Disini juga ada buat Putra keponakan kakak". Zee menunjuk beberapa paper bag yang memang dia tujukan untuk Putra. Delisha sempat terkejut mendengar Zee menyebutkan nama anaknya.


"Jangan kaget dek. Kakak sudah cerita semua ke kak Zee. Kamu gak usah khawatir ya". Thian paham dengan reaksi Delisha. Karena terlalu sering dibully. Membuat rasa cemas Delisha muncul.


"Iya. Kak Thian sudah cerita semua. Bahkan kakak pengen ketemu keponakan kakak. Apa kamu mengijinkan". Bisa saja Zee langsung meminta Thian mempertemukan dirinya dengan Anam dan Putra, tapi Zee ingin Delisha juga tahu dan mencoba terbuka.


"Apa kakak tidak jijik seperti orang-orang saat melihat Putra. Mereka bilang putra anak haram". Dokter Key sudah sigap saat mendengar suara putus asa yang keluar dari mulut Delisha.


"Shut. Gak boleh bilang gitu. Putra anak hebat. Gak ada istana anak haram. Dia anak kamu dek. Jangan pernah bilang seperti itu. Dia keponakan kakak. Dan kakak sayang sama dia". Tiba-tiba Delisha memeluk Zee dan menangis tersedu-sedu. Dokter Key sudah bersiap dan memanggil dua orang perawat jika mendadak Delisha mengamuk.


"Andai semua orang bisa seperti kakak. Dan andai ibu juga bisa menyayangi putra seperti kakak. Ibu hanya akan terlihat sayang kepada Putra jika dia memiliki tujuan tertentu". Thian dan dokter Key terkejut mendengar Delisha bisa mengatakan sedikit bebannya kepada Zee.


"Sudah kamu jangan mengingat apa yang membuat kamu sakit dan sedih. Yang terpenting sekarang, kamu sehat. Kamu sembuh dan buktikan kepada semua orang kalau Putra anak hebat". Delisha melepas pelukannya dan kembali menatap Zee. Zee dengan telaten meyisipkan rambut Delisha kesamping agar rapi.


"Tapi bagaimana cara Delisha mbuat Putra menjadi anak hebat sedangkan Delisha tidak punya apa-apa. Bahkan mungkin jika nanti Delisha sembuh, apa ada yang mau menerima Delisha bekerja ". Dokter Key nampak terkejut dengan penuturan Delisha. Rasa khawatir yang dimiliki Delisha adalah cara berpikir yang normal.


"Kamu gak usah takut. Nanti kamu bisa kerja sama kakak. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu. Sehat dan bisa pulang kerumah menemani Putra". Anggukan antusias dari Delisha membuat Thian bahagia. Thian tak menyangka jika pertemuan Delisha dan Zee akan menjadi penyemangat bagi Delisha.

__ADS_1


Karena waktu berkunjung sudah habis, Zee dan Thian berpamitan pulang. Zee berjanji akan kembali menjenguk Delisha nanti. Dan Delisha juga berjanji akan segera sehat dan akan mewujudkan mimpinya yang tetunda. Dalm perjalanan, Zee tertidur pulas. Thian tersenyum melihat wajah tenang Zee.


"I love you to the moon and back baby".


__ADS_2