
Maaf terlalu lama menunggu. Aku kembali... terimakasih sudah menunggu....
Manusia hanya bisa berdoa dan berharap akan segala sesuatu. Tak lupa usaha pun sudah dilakukan. Namun jika sang pencipta sudah memiliki kehendak lainnya, manusia hanya bisa bersabar dan ikhlas.
Dua bulan setelah pernikahan Thian dan Zee, Oma menghembuskan nafas terakhirnya tanpa beliau sempat membuka matanya. Si kembar berusaha untuk tetap tegar dihadapan sang mama dan bibinya. Mereka berusaha untuk menguatkan sang mama diatas kerapuhan mereka sendiri. Terlebih Fathan yang juga harus menjaga Melody yang sedang mengandung. Jika Fathan terlalu terlarut dalam sedihnya, sudah pasti akan menambah beban pikiran Melody.
Walaupun Oma sudah tenang dalam tidur panjangnya tiga bulan yang lalu, namun duka belum juga bisa lepas dari raut wajah Eneng. Zee yang seharusnya kembali ke Singapura untuk menyelesaikan pekerjaannya, lebih memilih menemani Eneng. Apalagi Melody akan segera melahirkan.
"Mah, makan dulu ya. Zee suapi". Eneng menoleh sambil tersenyum kepada menantunya itu. Melihat reaksi Eneng yang sudah bisa tersenyum kembali tidak seperti sebelumnya, membuat Zee bahagia dan langsung memeluk mama mertuanya itu.
"Mama. Mama kembali". Zee pun meneteskan air mata bahagianya. Mendengar suara Zee yang cukup kencang, membuat Thian segera menyusul sang istri ke kamar sang mama. Begitu juga Airil.
"Baby. Ada apa. Kenapa berteriak sayang". Thian melihat sang istri yang sedang memeluk mamanya dan menangis.
"Mama Sayang. Mama sudah merespon perkataanku tadi". Airil segera duduk ditepi ranjang dan mencoba berbicara dengan sang istri.
"Sayang. Sayang kamu bisa mendengarku". Airil melihat Eneng menoleh kearahnya. Senyum itu tampak jelas. Eneng pun mengangguk. Membuat Airi dan Thian tersenyum bahagia. Airil juga menangis karena bahagia sang istri yang sejak lama tak mau merespon apapun, kini sudah kembali.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu kembali sayang. Aku sangat merindukanmu sayang". Airil memeluk Eneng erat. Airil semakin bahagia setelah Eneng membalas pelukannya .
"Maafkan mama pah. Maafkan mama". Mendengar kembali suara sang istri, Airil semakin bahagia.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus disalahkan sayang. Aku mengerti dengan keadaanmu. Sekarang kamu harus sehat sayang. Beberapa hari lagi, cucu kita akan lahir. Kita harus menyambutnya dengan bahagia sayang". Airil sudah melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Eneng.
Thian dan Zee memilih meninggalkan kamar kedua orangtuanya. Mereka memberikan waktu untuk kedua orangtuanya. Thian mengajak Zee ketaman belakang. Duduk diayunan yang sering Oma gunakan saat sedang ingin duduk ditaman.
"Akhirnya mama sudah pulih. Terimakasih baby, sudah sabar mengurus mama. Terimakasih sudah membuat mama kembali. Terimakasih". Hanya kata itu yang bisa Thian ucapkan. Thian memeluk tubuh Zee dari samping.
"Itu sudah menjadi tugas Zee sayang. Tak perlu berterimakasih. Zee yang harusnya berterimakasih karena sudah diijinkan untuk merawat mama". Zee mencium pipi Thian. Thian membalas dengan senyuman.
"Kapan kamu akan kembali ke Singapura sayang. Pekerjaanmu pasti sudah sangat menumpuk". Thian mengusap lembut surai sang istri.
"Nanti sayang. Setelah kak Mel melahirkan. Aku ingin melihat wajah keponakanku dulu. Dan Zee ingin melihat mama benar-benar pulih dulu, baru Zee akan kembali ke Singapura". Thian spontan memeluk Zee karena sangat bahagia dan bangga dengan istrinya itu. Walaupun Zee tidak berada di Singapura, semua pekerjaan Zee dikirim melalui email oleh asistennya.
Mereka menghabiskan waktu berdua ditaman belakang. Fathan dan Melody tidak tinggal dirumah Airil, mereka sudah memiliki rumah sendiri dan lokasinya tidak jauh dari kediaman Airil.
"Mintalah. Selagi aku bisa mengabulkan, akan aku berikan. Jangan takut baby". Kecupan hangat jatuh dipucuk kepala Zee.
"Maaf sayang. Aku hanya minta, boleh gak kalau kita menunda sebentar untuk memiliki momongan. Aku ingin menyelesaikan dahulu pekerjaanku di Singapura". Zee tidak berani menatap mata Thian. Apalagi Tjoan pernah berkata jika dia ingin segera memiliki momongan.
"Sebenarnya, aku juga ingin mengatakan hal yang sama sayang. Tapi aku takut melukai perasaanmu". Zee menatap mata sang suami. Zee pun langsung memeluk tubuh Thian.
"Aku juga gak ingin saat kamu hamil, kita jauh. Setidaknya selesaikan dulu pekerjaan kamu di Singapura. Aku ijinkan permintaan kamu sayang. Kita juga belum satu tahun menikah. Tak apa menunda sebentar". Zee tersenyum bahagia. Dia juga tak menyangka jika suaminya memikirkan hal yang sama.
"Terimakasih sayang, kamu sangat mengerti akan diriku". Thian mengangguk dan tersenyum. Mereka menghabiskan waktu berdua ditaman belakang. Hingga malam kian larut, mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Fajar belum juga muncul, bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Suara dering ponsel Thian mengusik tidur nyenyaknya. Thian segera mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari sang Abang.
"Assalamualaikum. Kenapa bang". Terdengar suara Fathan yang sangat tidak tenang.
"_"
"Ya bang. Gue langsung kerumah loe". Thian segera mematikan ponselnya. Thian juga membangunkan Zee. Setelah Zee bangun. Thian segera berganti pakaian begitupun Zee. Mereka segera berangkat menuju rumah Fathan setelah bersiap.
Thian mengetuk pelan kamar sang papa untuk berpamitan. Airil terbangun dan perlahan membuka pintu kamarnya agar tidak mengusik tidur nyenyak sang istri.
"Pah. Kita kerumah Abang dulu. Kak Mel mau melahirkan, mobil Abang mogok". Airil mengangguk dan meminta Thian cepat kesana.
Thian membawa laju kendaraannya dengan cepat. Beruntung jalanan masih sepi. Hanya lima belas menit Thian sudah sampai dikediaman sang Abang. Segera Melody dibawa kedalam mobil dan Thian membantu memasukan barang-barang yang harus mereka bawa.
Fathan duduk dibelakang sambil menenangkan sang istri. Dan memberikan aba-aba mengatur nafas seperti saran dokter. Thian berusaha untuk tidak panik. Mereka menuju rumah sakit milik papanya. Dan segera mendapat penanganan setibanya dirumah sakit.
Setelah diperiksa ternyata Melody sudah pembukaan lima. Melody segera dibawa keruang bersalin ditemani oleh Fathan. Thian segera menghubungi keluarga Melody dan mengabarkan kondisi Melody.
Zee dan Thian menunggu diluar kamar bersalin. Terdengar suara teriakan Melody saat kontraksi datang. Zee sempat meringis mendengar suara rintihan dan teriakan Zee. Thian memeluk tubuh sang istri. Dia tahu jika Zee sedikit ketakutan.
"Semua wanita akan mengalami fase itu sayang. Jangan takut. Jika nanti masanya tiba, kamu pun akan merasakan hal yang sama. Dan aku akan selalu ada disampingmu". Kata-kata Thian membuat Zee tenang. Zee yang masih mengantuk kembali tertidur dipangkuan Thian.
Saat keluar Melody tiba, Zee masih terlelap. Thian sengaja tak membangunkan Zee. Melody masih terus berjuang didalam ruang bersalin. Keluarga Melody dan Thian berdoa dari luar ruangan. Suara adzan berkumandang menandakan pagi menjelang, bertepatan dengan lahirnya sesosok mungil keturunan Fathan Prasaja.
__ADS_1
Keluarga menyambut dengan bahagia. Melody mampu melewati proses panjang menyambut kehadiran buah hatinya. Mereka dianugerahi sepasang putra kembar. Airil yang mendapat kabar dari Thian, segera bersujud syukur. Dia juga memberitahukan kabar gembira ini kepada Eneng. Begitu juga keluarga Malik yang turut bahagia karena bertambah lagi keluarga baru mereka.