Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Delisha


__ADS_3

"Bismillah. Semoga Engkau mempermudah jalan hamba ini. Hamba hanya ingin semua selesai tanpa ada permusuhan lagi". Thian berdoa pelan saat akan melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah sakit khusus untuk orang depresi.


Thian belum menyadari jika orang suruhan Almeer masih terus mengikutinya. Setiap gerakan Thian, dia laporkan kepada Almeer. Dan kali ini Fathan pun mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh saudara kembarnya. Fathan sudah merasa tak nyaman sejak kepergian mendadak Thian.


SEND PICTURE


"Bos. Target masuk kedalam rumah sakit"


Almeer membaca pesan dari anak buahnya. Almeer memperhatikan nama rumah sakit tersebut. Karena didalam ruangannya saat ini juga ada Fathan, Almeer pun menunjukkan apa yang dia dapat.


"Adek loe kesini. Sebenarnya apa yang kian sembunyikan dari gue. Tolong jelaskan ke gue. Gak mungkin kan loe gak tau masalah Thian". Tatapan Almeer cukup mengintimidasi Fathan. Fathan cukup terkejut dengan foto yang didapat Almeer.


"Ternyata dia masih mengganggu loe dek. Kenapa loe gak pernah cerita ke gue. Maaf kalau gue kurang peka sama loe". Fathan bergumam pelan, namun Almeer dan Satria masih mendengar.


"Ada apa Than. Jangan loe sembunyikan sesuatu yang akhirnya merugikan kalian juga". Satria penasaran dengan reaksi Fathan setelah melihat foto itu.


Fathan mengembalikan ponsel Almeer. Dia berusaha untuk memulai menjelaskan apa yang sebenarnya sedang Thian lakukan saat ini. Tapi Fathan yakin adiknya bisa menyelesaikan semuanya.


"Bang Al ingat gak waktu kita liburan empat tahun lalu. Saat kakek dan nenek masih ada. Liburan terakhir kita dengan mereka". Almeer mencoba mengingat momen yang Fathan katakan

__ADS_1


"Oh ya gue ingat. Kalau gak salah kita waktu itu pergi ke vila. Terus kakek kalian ngajak tetangganya sama anak perempuannya itu kan". Almeer mengingat apa yang Fathan tanyakan. Dan memang saat itu Almeer ikut liburan dengan mereka.


"Gadis itulah yang jadi masalah untuk Thian sampai saat ini". Almeer dan Satria menatao Fathan. Almeer tak mengerti maksud Fathan.


"Mungkin Abang bingung dengan perkataan gue. Abang ingat gak saat makan malam waktu itu, kakek punya impian ingin menikahkan gadis itu dengan salah satu dari kita". Almeer mencoba mengingat kembali. Dan perlahan Almeer ingat dengan momen itu.


"Iya gue ingat. Tapi bukankah gadis itu sendiri yang menolak salah satu dari kalian. Bahkan mengatakan jika sampai matipun gak akan pernah mau berjodoh dengan kalian". Satria hanya menjadi pendengar saja. Karena memang dia tidak mengetahui masalah itu.


"Hmmm. Setelah makan malam, kita bertiga pergi berjalan-jalan kesekitar vila. Abang ingat itu. Tapi pagi harinya gue gak lihat tuh cewek cuma ibunya saja. Dan sorenya gue harus pulang duluan". Almeer kembali mengatakan apa yang diingatnya.


"Ibunya itu ternyata bermuka dua. Dia belum bisa membedakan antara gue dan Thian. Saat itu dia mengira orang yang dia temui ditaman belakang vila itu Thian, tapi sebenernya gue". Fathan menyambung cerita yang sebenarnya terjadi.


"Gila. Padahal wajahnya sama tutur katanya lembut banget. Benar-benar gila itu ibu". Almeer mulai kesal begitupun Satria.


"Malam setelah Abang pulang, ada tragedi yang menyeret gue sama Thian. Walaupun sebenarnya malam itu juga masalahnya bisa selesai, tapi ternyata tidak semudah itu". Fathan diam sejenak mencoba menenangkan hatinya. Dia begitu emosi jika mengingat hal itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya Than. Dan kenapa loe sembunyikan semua dari gue". Almeer sangat penasaran dengan apa yang disembunyikan si kembar.


"Delisha nama anak itu. Malam itu kami baru tahu jika Delisha sedang mengandung. Itu karena papa sudah sangat curiga sejak awal. Papa seorang dokter, walaupun dia bukan dokter kandungan. Papa paham dengan kondisi Delisha. Tujuan ibu Delisha ikut berlibur, ingin agar salah satu dari kita bisa menjadi ayah dari bayi yang Delisha kandung. Karena kami menolak, ibu Delisha membuat ulah sehingga Delisha trauma". Fathan diam sejenak. Tak ada sahutan dari Satria maupun Almeer.

__ADS_1


"Gue baru paham kenapa ibu Delisha terus menyodorkan anaknya ke kita. Bahkan mau diapakan saja beliau tidak akan marah. Ternyata memang ada maksud lain. Setelah rahasianya terbongkar, kakek masih memberikan solusi terbaik. Kakek bertanya kepada Delisha siapa pria yang menjadi ayah bayinya. Apalagi Delisha masih sekolah. Delisha terus diam. Hanya ibunya yang terus menjawab jika mereka tidak tahu. Gue sama Thian sebenarnya juga sudah merasa ada yang aneh saat melihat Delisha yang tenang gak membuat onar. Apalagi dia paling gak suka sama Thian". Fathan mengetuk-ngetuk pena yang dipegangnya.


"Bang Juna, akhirnya menjauhkan Delisha dari ibunya, kami bertiga bersama mama duduk digazebi belakang. Kami kasihan karena melihat Delisha begitu tertekan. Perlahan kami menanyakan siapa pria itu. Delisha memeluk Thian secara refleks. Dia hanya bilang. Tolong gue, gue udah gak kuat. Habis itu dia pingsan. Mungkin sudah terlalu depresi. Tanpa kita tau, ibu Delisha sangat licik. Diam-diam dia mengambil gambar saat Delisha memeluk Thian. Dengan gambar itu dia mulai mengancam Thian. Bahkan dia benar-benar mengirim berita itu ke salah satu kantor berita dikota kakek. Beruntung Adrian langsung bisa ngeblokir". Almeer semakin terkejut. Karena dia benar-benar tidak tahu akan hal itu.


"Kenapa kalian gak ngomong. Itu bukan masalah sepele. Untung Adrian tahu. Kalau gak gimana nasib kalian. Terus dimana bukti itu. Apa masih mereka simpan". Fathan memang tahu dia salah. Dan tidak membantah perkataan Almeer.


"Beberapa foto sudah berhasil kita dapat dari Adrian yang coba bobol ponsel ibunya. Ada satu video yang masih kita cari bang". Satria dan Almeer diam mendengarkan dengan seksama.


"Jadi itu video yang ibunya ambil saat kita ngantar Delisha ke rumah sakit. Kebetulan Bang Juna memakai hoodie milik Thian. Dan Thian gak ikut ke rumah sakit. Saat video itu diambil, memang posisi bang Juna membelakangi mereka dan sedang mengusap kening Delisha karena Delisha terus mengigau ketakutan. Video itu dikirim ke kita dalam bentuk potongan. Abang ingat video itu pernah heboh". Satria dan Almeer kembali mengingat tentang video yang mirip si kembar Prasaja. Namun bisa mereka bantah.


"Jadi video itu bang Juna. Gue langsung blokir rumor tanpa persetujuan kalian. Karena gue tahu itu bukan kalian. Walaupun jujur saat itu gue sama Satria ragu. Hoodie Thian itu pemberian Zee. Dan hanya ada satu". Almeer ingat kejadian video yang sempat heboh.


"Nah kami masih berusaha mencari dimana ibu Delisha menyimpan file itu. Untuk berjaga-jaga. Mungkin kalian penasaran kenapa ibu Delisha ternyata cerdik". Satria dan Almeer sama-sama mengangguk.


"Ibu Delisha adalah mantan papa saat sekolah. Beliau saat perguruan tinggi mengambil jurusan informatika. Makanya dia cerdas. Sekarang video itu kuncinya". Satria mengangguk paham. Satria memang lebih memilih menjadi pendengar saja.


"Lalu siapa ayah bayi itu". Almeer masih ingin tahu siapa pria yang menjadi dalang sebenarnya.


Fathan tersenyum tipis disudut bibirnya. Pena yang dipegangnya sudah patah menjadi dua. Rasanya dia ingin menghabisi orang itu saat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2