Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Kangen


__ADS_3

"Mel. Kamu gak usah kerumah sakit ya nak. Dirumah saja. Biar kami yang jaga Oma. Kamu gak usah takut kami kelelahan nak. Banyak yang mau menjaga Oma. Sekarang kamu fokus menjaga kesehatan kamu dan calon cucu mama". Eneng menasehati Melody karena Melody sempat mengalami kram saat ikut berjaga dirumah sakit. Sejak awal kehamilan Eneng sudah meminta Melody untuk tidak ikut menjaga Oma, tapi Melody menolak dengan alasan bosan dirumah sendiri.


"Iya mah. Maafkan Mel yang kurang bisa jaga diri". Melody merasa bersalah karena sikap keras kepalanya.


"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat dan menjaga pola makan. Maaf jika mama tidak bisa mengawasi dan menjaga kakak selama hamil". Melody menggenggam tangan Eneng. Dan mengusapnya perlahan.


"Mama adalah mama terbaik buat Melody. Terimakasih ya mah. Mama juga harus jaga kesehatan. Melody nanti juga ditemani kakak disini. Gapapa kan mah". Istri Iqbal lebih sering menemani Melody selama Eneng fokus menjaga Oma.


"Iya sayang. Gapapa. Mama lebih tenang jika ada yang menjaga kamu dan calon cucu Oma". Eneng memeluk menantu tercintanya itu.


Eneng segera berangkat ke rumah sakit, setelah Thian pulang kerumahnya untuk bersiap berangkat kerja. Thian akan pergi keluar kota selama beberapa hari. Dan Fathan kembali dari luar kota besok siang.


Komunikasi antara Zee dan Thian berjalan dengan baik. Mereka selalu menceritakan apa yang mereka alami seharian. Bahkan ada jam khusus bagi mereka untuk melakukan panggilan video.


Hubungan jarak jauh tidak mudah untuk dijalani jika kedua belah pihak tidak mengerti dengan kondisi pasangannya. Thian juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Thian sudah mengambil libur untuk menemui Zee. Saat Thian akan meninggalkan rumah, Thian bertemu dengan istri Iqbal dan kedua anaknya. Seperti biasa mereka datang untuk menemani Melody.


"Kak. Sudah sampai". Sapa Thian yang sedang memasukan koper kedalam bagasi mobil.


"Sudah. Kamu mau berangkat". Istri Iqbal menaruh makanan yang dibawanya dari rumah diatas meja makan.


"Iya kak. Dimana dua krucil. Kok sepi". Thian memanggil kedua anak Iqbal dengan duo krucil.


"Lagi tidur. Tadi dijalan udah pada tidur duluan. Kamu sudah makan belum. Kakak bawa makanan banyak nih". Istri Iqbal menawari makanan kepada Thian.


"Sudah kak. Thian berangkat dulu kak. Titip rumah sama kak Mel". Setelah mendapat anggukan, Thian segera masuk kedalam mobil dan melaju menuju tempat diadakan konser musik. Karena Thian akan menjadi salah satu host diacara tersebut.

__ADS_1


Zee dan Serkan sudah dua Minggu di Singapura. Hari ini Shadam, kakak Zee akan menyusul mereka. Shadam akan menggantikan papinya membimbing Zee dan sekaligus menjaga adik tercintanya itu. Serkan harus kembali ke tanah air karena mengurus perusahaan disana dan menjaga istri tercinta.


"Zee, papi besok jadi pulang. Bang Adam sudah dalam perjalanan. Gapapa kan papi tinggal". Zee dan Serkan sedang sarapan di resto dekat tempat mereka menginap. Beruntung Arsya, kakek mereka memiliki cabang hotel di Singapura. Jadi mereka tak repot untuk mencari tempat tinggal.


"Iya, gapapa Pi. Keburu mami ngambek. Terus gak bukain pintu papi". Zee dan Serkan asyik bercanda dan saling menggoda.


"Selamat pagi Zee, pak Serkan". Seseorang datang menghampiri meja Zee dan papinya.


"Oh selamat pagi Pak Johan. Mau sarapan juga". Terlihat pria muda itu membawa nampan berisi makanan.


"Iya benar pak. Apa boleh saya ikut bergabung dengan bapak dan Zee". Johan meminta ijin untuk ikut bergabung dalam satu meja yang sama.


"Tentu saja boleh. Silahkan duduk". Serkan mempersilahkan rekan bisnisnya itu untuk duduk. Zee hanya diam menikmati makanannya.


"Tumben sendiri, sekretaris pak Johan gak ikut sarapan". Johan tersenyum mendengar pertanyaan Serkan. Bukan hanya kali ini saja dia mendapatkan pertanyaan seperti itu. Karena Irene, sekretaris Johan selalu saja menempel pada Johan. Hingga banyak yang mengira dia kekasih Johan.


Serkan hanya ber'o' ria. Zee tak menanggapi apapun. Johan mencoba untuk mencari perhatian Zee.


"Wah ternyata kamu suka makanan pedas ya Zee". Zee hanya tersenyum tipis sebagai jawaban kepada Johan. Sejak awal bertemu Johan, Zee sudah tidak nyaman. Namun karena Johan adalah anak dari rekan bisnis sekaligus sekarang menjadi partner mereka dalam menangani proyek di Singapura.


"Oya nak Jo. Bagaimana proges kita ini. Apa akan sesuai target atau malah melebihi batas waktunya". Serkan mencoba mengalihkan perhatian Johan yang terus mencuri pandang kepada Zee.


"Kemungkinan untuk melebihi waktu yang sudah ditentukan, pasti ada. Tapi kita akan usahakan semaksimal mungkin agar tidak terlalu molor". Zee mendengarkan percakapan keduanya berbicara. Zee juga sedang membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Thian.


"Bagus kalau memang sudah ada rencana matang seperti itu. Zee kamu sudah selesai makannya". Papi Zee tau jika Zee tidak nyaman dengan keberadaan Johan dimeja mereka.

__ADS_1


"Sudah Pi. Mau jalan sekarang". Zee masih sesekali menatap ponselnya. Berharap bisa segera bertemu.


"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu nak Johan". Serkan dan Zee sudah beranjak. Dan Johan mengangguk.


Zee memeluk lengan papinya dan berjalan keluar dari resto. Johan masih terpaku menatap Zee. Bahkan dia tidak sadar jika Irene sekretarisnya sudah berada disampingnya.


"Bapak lihat apa sih kok fokus banget". Suara Irene mengagetkan Johan yang masih menatap Zee, walaupun Zee sudah tak tampak lagi karena sudah masuk kedalam mobil.


"Eh. Kamu Ren. Gak lihat apa-apa. Kamu mau sarapan Ren". Irene duduk disamping Johan tanpa dipersilahkan.


"Ih bapak gak ngajak saya kalau mau sarapan". Irene bersikap manja kepada Johan . Tak peduli jika itu adalah atasannya.


"Lah mana saya tau kalau kamu mau makan juga disini. Nanti saya ajak kamu kesini, kamunya gak suka". Johan menghabiskan sisa makanannya tanpa memperdulikan sikap Irene yang begitu ingin mencari perhatian Johan.


"Asal sama bapak, saya mah oke saja". Rayuan Irene hanya ditanggapi dengan senyuman tipis Johan.


Irene memang selalu memberikan sinyal jika dia menyukai Johan. Namun Johan tidak memperdulikan. Karena sikap Irene juga masih wajar tidak berlebihan. Dan pekerjaan Irene selalu selesai tepat waktu dan tidak ada kesalahan. Jadi tak ada alasan Johan memecat Irene.


Johan juga belum memiliki pasangan. Tapi dia bukan tipe pria yang mudah jatuh hati. Walaupun dia begitu humble kepada siapa saja, untuk masalah hati. Johan sangat pemilih.


Johan dan Irene segera berangkat kelokasi setelah selesai makan. Disana sudah ada Zee yang sedang memantau pekerja. Nampak dari jauh Zee sedang menerima telepon dan tersenyum begitu indah. Membuat Johan benar-benar diam terpaku.


Johan berjalan mendekati Zee. Sedangkan Zee sedang mendapat telepon dari Thian. Seperti biasa rutinitas sebelum Thian melakukan aktivitas.


"Hem. Aku akan menunggu. Jaga kesehatan. Ingat jangan bandel. Miss u". Ucap Zee kepada Thian sebelum mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Johan yang sempat mendengar mencoba untuk berfikir positif. Apalagi menurut Serkan, Zee akan ditemani abangnya. Johan berfikir mungkin itu Abangnya Zee.


__ADS_2