
Dua hari sudah sikembar berada di Jogja. Kedua orangtuanya dan Emak sudah dalam perjalanan menyusul si kembar. Selama dua hari, mereka sudah tau tentang Delisha gadis menyebalkan yang selalu mengajak ribut Thian.
Delisha Putri. Kedua orangtuanya sudah berpisah. Saat si kembar syuting waktu itu, Delisha sedang berada dirumah ayahnya. Dan Jogja adalah kota Ibunya. Ayahnya sudah menikah kembali sedangkan ibunya memilih untuk tetap sendiri dan hanya ditemani Delisha.
Delisha memiliki seorang adik lelaki yang hidup bersama ayahnya. Sejak mereka kembali bertemu dengan Delisha, ada saja yang diributkan antara Thian dan Delisha.
"Bang jalan yuk". Ajak Thian pada Fathan.
"Mau kemana dek". Tanya Fathan.
"Disekitar sini aja bang. Kayaknya ada danau buatan tak jauh dari sini". Jawab Thian.
"Ya udah yuk. Abang juga bosan dirumah". Jawab Fathan.
Keduanya berpamitan kepada kakek dan neneknya. Biasanya mereka akan keluar ditani Arjuna, namun itu harus menunggu Arjuna saat hari libur. Walaupun usaha yang sedang dijalani Arjuna itu milik keluarga, Arjuna tak pernah seenak hati dalam bekerja.
Si kembar menggunakan sepeda yang berada dirumah kakeknya. Mereka menyusuri jalan-jalan dikampung. Si kembar sangat suka tinggal dikota gudeg karena masyarakatnya yang begitu ramah.
Byurrr
Seketika sepeda Thian berhenti. Dia menunduk melihat keadaan tubuhnya yang basah tersiram air dari dalam warung tenda. Fathan juga berhenti disamping sang adik. Fathan turun dari sepedanya dan membantu membersihkan baju sang adik.
"Maaf. Maaf nak. Ibu tidak sengaja. Ibu gak lihat tadi ada yang naik sepeda". Ucap seorang ibu yang keluar dari warung tenda.
"Oh gapapa Bu. Ini nanti juga kering kok". Jawab Thian.
"Ibu. Ada apa kok ribut-ribut". Tanya seseorang dari dalam warung tenda.
"Ini nak tadi ibu buang air cucian piring, gak sengaja kena orang lewat". Jawab sang ibu.
Gadis itu melihat keluar dan melihat siapa korban yang tersiram air cucian piring. Delisha tertawa terbahak-bahak melihat siapa yang menjadi korban tersiram air.
"Hahaha. Ibu sudah bener kok. Dia itu gak pernah mandi. Jadi pantes diguyur air bekas cucian". Jawab Delisha.
Thian menatap sinis Delisha. Ingin rasanya Thian turun dari sepeda dan membalas perbuatan Delisha. Namun dia urungkan karena menghargai ibunda Delisha.
"Awas loe ya". Gumam Thian dengan geram.
"Dek sabar. Nanti kita balas". Bisik Fathan menenangkan sang adik.
"Nak, kalian bukan berasal dari kampung ini. Karena ibu baru lihat". Tanya ibu Delisha.
"Iya bu. Kami dari Jakarta". Jawab Thian.
"Oh pantas. Kalian tinggal dimana". Tanya ibu Delisha kembali.
__ADS_1
"Kami tinggal dirumah kakek Prasaja". Jawab Thian.
"Apa kalian anak dari Airil. Putra kedua pak Prasaja". Tanya ibu Delisha.
"Iya benar Bu". Jawab Thian.
"Ya Allah. Kalian mirip sekali dengan Airil waktu remaja. Apa kabar orangtua kalian". Tanya ibunda Delisha.
"Alhamdulillah baik Bu". Jawab Thian.
"Syukurlah. Kalian mau kemana". Tanya
"Kami mau jalan-jalan saja Bu". Jawab Thian.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati nak. Sekali lagi maafkan ibu". Jawab ibu Delisha.
"Terimakasih Bu. Tidak apa-apa Bu". Jawab Thian.
"Kami pamit Bu". Ucap Fathan
Mereka melanjutkan bersepeda setelah berpamitan. Delisha menatap sinis kepada si kembar. Namun tak dipedulikan oleh si kembar.
Thian tetap mengenakan pakaiannya yang sedikit basah. Fathan mengajak Thian untuk mampir di masjid yang cukup megah didekat tempat tinggal neneknya. Beruntung hari ini Fathan menggunakan hoodie. Fathan ingin Thian menggunakan hoodie miliknya agar Thian tidak masuk angin.
"Dek mampir toilet masjid dulu yuk". Ajak Fathan
"Ganti bajumu dek. Pakai hoodie Abang". Jawab Fathan.
"Emang Abang pakai baju dobel". Tanya Thian.
"Iya. Tadi agak dingin. Jadi Abang pake baju dua. Dah yuk". Ajak Fathan.
"Oke bang". Jawab Thian.
Mereka masuk kedalam masjid dan mencari toilet. Setelah bertukar pakaian, mereka melanjutkan bersepeda disekitar masjid. Dan menuju danau buatan
"Wah rame juga ya bang". Ucap Thian.
"Iya dek". Jawab Fathan.
Mereka menyusuri tepian danau setelah meletakkan sepeda ditempat penitipan sepeda. Suasana taman didekat danau tersebut sangat ramai. Banyak orang yang sedang duduk santai dibawah pohon. Si kembar pun mencari tempat untuk duduk.
Para pengamen berlalu lalang. Bahkan ada beberapa aktivis masjid sedang mengajak para anak muda muslim untuk hadir dalam acara kajian selepas ashar. Si kembar menikmati sore hari ditepi danau itu.
Suara adzan yang berkumandang membuat sikembar segera beranjak menuju masjid tempat mereka singgah tadi. Saat akan mengambil sepeda, mereka bertemu seorang ustad yang sedang mengobrol dengan pengamen asoy geboy.
__ADS_1
"Kalian ayo ikut kemasjid . Ucap si ustadz.
"Insyaallah ya ustadz. Tapi kami gak janji loh". Jawab si asoy geboy.
"Harus dong. Biar kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik". Ucap sang ustad.
"Iya iya. Kami datang. Tapi kami pulang dulu ya tadz ganti baju. Gak mungkin kan masuk masjid dengan baju sekseh gini". Jawab asoy geboy.
"Alhamdulillah. Saya tunggu ya". Ucap ustadz itu lagi.
Si kembar masih mengantri mengambil sepeda karena para pengunjung taman satu persatu keluar taman membuat tempat penitipan sepeda semakin padat. Si kembar memang tak bermaksud menguping pembicaraan ustad tadi, tapi mereka berbicara disamping sikembar.
Asoy geboy melangkah melewati si kembar sambil berbincang. Mereka berjalan bertiga dengan pakaian yang memang sangat sekseh dan dandanan super menor.
"Beb. Mungkin ini saatnya kita berhijrah". Ucap salah satu asoy geboy.
"Iya loe bener Ki. Mungkin hidayah sudah sampai ke kita dan kita harus segera berhijrah". Jawab teman lainnya.
"Ih kiamat udah dekat cin. Ayo kita tobat. Hii ngeri gue kalau kiamat datang kita belum tobat". Ucap asoy geboy ketiga.
Si kembar yang mendengar ucapan trio asoy geboy tersebut merasa sangat kagum dengan cara ustad muda yang mengajak mereka bertobat. Bahkan si kembar saling pandang dan tersenyum saat mendengar ucapan trio asoy geboy.
Si kembar menuju masjid untuk melaksanakan ibadah. Dan benar usai sholat dimasjid tersebut diadakan kajian. Karena masih ada waktu sebelun kajian dimulai, si kembar berpindah keberanda masjid untuk mencari angin segar.
"Assalamualaikum ustad". Ucap salam salah satu jamaah masjid.
"Waalaikumsalam. Astaghfirullah". Jawab sang ustad sekaligus terkejut.
Si kembar menengok kearah suara. Mereka seketika melotot karena kaget melihat adanya penampakan dihadapan mereka.
"Kalian..". Tanya sang ustadz kembali.
"Iya. Ustad ini kami. Alhamdulillah kami sudah berhijrah sekarang". Jawab jamaah itu.
"Ya Allah. Bukan gini juga maksud saya". Ucap sang ustad dengan nada bingung.
"Lah terus gimana. Kan kami sudah benar ustad. Kami sudah berhijrah". Jawab sang jamaah.
"Ya kali kalian pakai gamis sama hijab. Ya Allah Gusti". Jawab sang ustad sambil memijat keningnya.
"Ih ustad mah gitu. Salah kita dimana coba". Tanya sang jamaah.
"Salah kalian. Karena kalian itu pria. Masa berhijab. Duh Gusti". Jawab sang ustad makin pusing.
Si kembar menahan tawanya melihat trio asoy geboy datang ke kajian dengan tampilan menggunakan hijab dan bergamis. Tak lupa gincu merah merona.
__ADS_1
_______
Hai maaf kalau kalian lelah menunggu. karena si emak memang belum begitu bisa fokus nulis lagi. Tadinya mau emak hapus gak dilanjutkan. tapi emak urungkan... terimakasih sudah setia....