
"Kebiasaan sok jadi secret admirer. Untung gue bisa atasin Thian. Kalau gak habis loe". Shadam memarahi seseorang yang selalu mengirimi hadiah Zee. Orang itu tertawa terbahak mendengar Omelan Shadam.
"Hahaha. Gapapa kali bang. Asyik ngerjain mereka berdua. Lagian gue juga belum pernah ketemu sama calon adik ipar. Biar ada sensasinya". Shadam memukul kepala orang tersebut karena kesal dengan jawabannya.
"Loe belum kenal siapa Fathian. Kalau sampai kemarin gue biarin dia cari tahu tentang loe, sudah pasti loe sekarang nangis. Kapan loe balik. Kok udah nyusul kesini aja. Gak betah loe di Jepang". Pria itu tersenyum tipis. Dia juga menikmati segelas kopi yang sudah dipesannya tadi.
"Gue sebenernya lagi butuh bantuan bang". Pembicaraan mereka mengarah ke hal yang lebih serius.
"Tumben seorang keturunan Afnan Santoso meminta bantuan". Orang yang datang menemui Shadam dan menjadi secret admirer Zee adalah cucu dari Afnan Santoso. Saudara dari Shadam.
"Buntu bang. Gue mau minta tolong papa, tapi kasian papa masih sakit. Gue juga gak mau papa tau masalah ini". Shadam diam mendengarkan. Jika sudah terlalu berat, Kenzie akan datang meminta bantuan kepada saudara-saudaranya.
"Ada apa Zie. Separah apa itu. Loe gak hamilin anak orang kan di Jepang". Kenzie menggeleng dengan cepat. Walaupun terkenal dengan sebutan bad boy, tapi Kenzie masih tau batasan.
"Gue salah perkiraan bang. Ada proyek baru. Dan cerobohnya gue gak cek lagi hasil kerjaan sekretaris baru gue. Semua kacau bang. Gue rugi banyak. Pihak investor minta gue ganti bang. Kalau gue cerita ini ke papa, bisa-bisa papa serangan jantung. Apalagi opa. Bisa kena omelan gue bang". Shadam Tertawa jika ingat sifat Afnan yang tegas tapi tetap menyayangi keluarganya.
"Kerjasama dengan siapa. Terus kemana Yuka. Bukannya biasanya loe percaya sama kerjaan Yuka". Yuka adalah asisten Kenzie. Dia mendampingi Kenzie dari awal Kenzie berada di Jepang.
"Yuka sakit. Dan gue cari sekretaris pengganti sementara. Eh gak taunya malah kacau semua". Kenzie mengusap kasar rambutnya. Harapan dia hanya Shadam.
"Dan perusahaan itu cukup bonafit bang. Pusatnya di Indonesia. Perusahaannya The Royal Company. Dan gue emang sengaja mau ke Indonesia buat ketemu langsung pimpinannya. Makanya gue butuh bantuan loe bang. Siapa tau loe kenal. Jadi bisa tolong di negokan". Shadam berfikir sejenak. Dia merasa kenal dengan nama perusahaan itu.
"Oh Royal. Bukannya itu anak perusahaan Zie. Bukan perusahaan utamanya". Kenzie mencoba mengingat kembali setelah mendengar perkataan Shadam.
"Iya bang. Itu cabang di Jepang. Kemarin gue udah sempat ketemu pimpinan cabangnya. Dan mereka minta gue langsung ketemu pimpinan utamanya". Shadam tersenyum. Dia mengambil ponselnya menghubungi seseorang. Kenzie hanya diam mendengarkan. Bahkan Shadam sengaja menyalakan spiker ponselnya.
"Assalamualaikum bang. Ada apa"
"Sibuk gak loe. Ada yang mau gue tanyain"
"Lagi break bang. Kenapa bang. Serius amat"
"Yang megang Royal di Jepang, loe apa Fathan"
"Gue bang. Kenapa. Ada masalah kah"
__ADS_1
"Ada sedikit masalah sama partner loe"
"Maksudnya gimana bang"
"Partner loe sekarang lagi ngobrol sama gue. Loe belum lama kerjasama dengan perusahaan San's Company Jepang Yan"
"Oh. Iya. Tapi mau gue batalin bang. Kerjaannya berantakan"
"Hahaha. Loe bisa pertimbangkan gak Yan. Orangnya frustasi sekarang"
"Lah emang Abang kenal sama pimpinan San's Company Jepang"
"Bukan kenal lagi Yan. Pimpinannya sepupu gue Yan. Cucunya Opa Afnan Santoso"
"Benarkah. Kok gue gak tau. Terus gue harus gimana bang"
"Kasih kesempatan dia buat perbaiki semuanya. Bisa gak Yan. Itu memang kesalahan Kenzie karena tidak teliti. Tapi Abang yakin dia kompeten"
"Oh. Oke. Suruh temuin Alan aja bang. Gue gak bisa ketemu. Gue masih syuting diluar Jakarta. Bang udah dulu ya. Gue mau take. Nanti gue telpon lagi"
Kenzie diam mendengarkan semua pembicaraan Thian dan Shadam. Kenzie tak menyangka jika abangnya dekat dengan pimpinan perusahaan bonafit itu.
"Dah. Loe nanti ketemu asisten pribadinya dia. Kalau mau ketemu langsung sama dia gak bisa sekarang dia sibuk syuting". Jelas Shadam yang membuat lipatan didahi Kenzie nampak jelas.
"Syuting. Emang dia aktor bang". Shadam tertawa melihat reaksi kaget Kenzie.
"Loe gak kenal siapa pimpinan Royal Jepang". Kenzie menggeleng. Karena selama ini dia hanya bertemu pimpinan cabang.
"Gak bang. Baru tau juga gue dia aktor. Dan kok Abang kayaknya dekat banget sama dia. Gue aja sampai sekarang nyari tau tentang dia susah banget". Shadam kembali tertawa. Mungkin Kenzie adalah satu-satunya keluarga Santoso yang lambat cara berpikirnya.
"Ya jelas kenal. Bahkan dekat. Dia itu tunangan Zee. Pimpinan Guardian. Royal itu cabang di Jepang. Makanya kalau punya calon ipar itu diajak kenalan". Kenzie melongo mendengar itu. Dia gak menyangka jika akan terlibat masalah dengan calon iparnya.
"Seriusan bang. Jangan bercanda dong bang". Kenzie masih belum percaya dengan perkataan Shadam. Shadam pun membuka data pribadi Thian yang memang tidak sembarangan bisa diakses.
"Gila, gila ini gila. Calon suami Zee gila. Gak nyangka gue bang. Gue kira suami Zee cuma aktor biasa saja. Gak taunya". Shadam tersenyum mendengar perkataan Kenzie.
__ADS_1
"Ya udah loe mau ketemu sama Alan kapan". Kenzie kembali antusias mendengar pertanyaan Shadam.
"Secepatnya bang. Sekarang juga gapapa. Gue harus segera menyelesaikan ini semua secepatnya". Shadam mengangguk paham. Dan kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Alan.
"Lan. Kamu bisa ketemu saya gak dikafe biasa sekarang"
"----"
"Oke saya tunggu"
Kenzie benar-benar semangat mendengar jika orang yang ingin dia temui bisa datang. Kenzie segera menyiapkan laporan yang sudah dia bawa untuk kembali diberikan kepada Alan. Lima belas menit kemudian Alan sudah sampai dan berjalan menuju meja Shadam dan Kenzie.
"Kenapa mas manggil saya kesini. Kan belum waktunya makan siang". Shadam tertawa melihat wajah Alan yang sedikit cemberut. Karena Shadam mengganggunya saat Alan sedang banyak pekerjaan.
"Hahaha. Jangan cemberut. Ada yang mau ketemu sama kamu. Duduk dulu". Alan merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin setelah melihat Kenzie .
"Selamat siang pak. Perkenalkan Saya Kenzie Ramadhan Santoso. Saya dari San's Company Jepang". Mendengar nama itu, Alan langsung tau maksud Kenzie.
"Ada mau melakukan negosiasi lagi tuan. Tapi sepertinya itu tidak akan berhasil. Saya sudah berbicara dengan pimpinan saya setelah mendapatkan laporan dari Royal Jepang". Wajah Kenzie berubah sendu mendengar penolakan Alan. Shadam berusaha membantu menengahinya.
"Lan. Saya tadi udah bicara sama Thian. Thian mau ngasih kesempatan buat Kenzie. Makanya dia minta ketemu sama kamu". Alan mencoba menyelidik perkataan Shadam dengan tatapannya. Shadam paham maksud Alan.
"Kenzie ini cucunya Opa Afnan Santoso. Keluarga dari Opa Reino saudara dari buyut kami di London". Alan mengangguk paham. Karena Shadam tidak akan membantu sampai sejauh ini jika tidak ada sesuatu yang dekat dengannya.
"Oke baiklah. Saya juga gak mau kena omelan Tuan Afnan. Cukup sekali. Pusing kepala saya". Kenzie dan Shadam tertawa mendengar keluhan Alan yang memang pernah berurusan dengan Afnan.
"Apa tuan membawa proposal dan laporan yang sudah diperbaiki. Nanti saya periksa dulu". Kenzie mengeluarkan apa yang Alan minta. Kenzie bahagia bisa memiliki harapan baik nantinya.
"Oke. Ini saya bawa dulu. Nanti hasilnya saya kabari bagaimana. Saya harus kembali ke kantor sekarang". Alan membereskan berkas yang akan dibawanya.
"Loe gak makan atau minum dulu Lan. Saya traktir". Alan tetap berdiri dan bersiap pergi.
"Bentar lagi saya ngantar mbak Zee ambil souvenir mas. Kalau gak saya antar, tuh manusia posesif bisa ngamuk. Dah dulu. Nanti malam aja nraktirnya mas". Kenzie bingung melihat ekspresi wajah Alan yang berubah seketika.
"Gak. Saya nawarinnya sekarang. Gak berlaku nanti malam. Ya udah sono pergi". Alan memincingkan matanya. Dan berdecak.
__ADS_1
"Jangan pelit-pelit. Nanti kuburannya sempit"? Alan berjalan meninggalkan Shadam yang sudah akan mengamuk mendengar perkataan Alan. Kenzie tertawa terbahak mendengar olokan Alan kepada Shadam.