
"Papaaaa". Thian berteriak kencang begitu dia sampai dirumah. Thian hanya akan mengambil beberapa keperluan untuk bekerja dan langsung menuju lokasi.
"Apa dek. Kenapa teriak gitu sih". Eneng yang melihat kelakuan putranya hanya menggeleng saja.
"Thian mau kawinnnnnnn". Thian kembali berteriak. Emak yang sedang ikut duduk bersama anak dan menantunya, spontan melemparkan sandal yang dipakainya kearah Thian.
"Emang loe turunan kucing apa. Langsung kawin aja. Nikah dulu baru kawin". Eneng dan Airil menepuk jidat mereka bersamaan mendengar omongan emak.
"Kan sama aja Oma. Cuma beda nyebutnya aja". Kilah Thian. Bukan emak namanya jika tidak ada perdebatan.
"Beda, beda banget. Nih ya Oma jelaskan. Nikah itu pengucapan janji sebelum loe celap-celup, ajep-ajep. Nah kalai kawin. Itu namanya celap-celup ajep-ajep. Dan banyak yang nglakuin tanpa nikah. Loe mau kayak gitu. Awas aja berani kayak gitu. Terus kalau loe mau lihat perbedaannya secara detail. Noh minta papa mama praktekin". Airil seketika melotot mendengar penjelasan terabsurd dari emak.
"Kok kita Mak yang disuruh praktek". Airil tidak menyadari jika membantah perkataan emak adalah satu hal yang membahayakan.
"Heh air muncrat. Kalau bukan kalian yang praktek terus emak gitu. Kalian mau bully emak. Kalian lihatkan sampai sekarang aja Kim Taehyung belum mau lamar emak. Gimana emak mau praktek ajep-ajep. Apa jangan-jangan punya loe udah semakin jompo. Berubah dan karatan jangan-jangan". Thian tertawa terbahak mendengar Omanya terus memojokkan papa tercintanya. Airil pasrah dengan kesalahannya membantah emak.
"Dahlah Thian mau siap-siap berangkat kerja". Thian hendak masuk ke kamar dan bersiap. Namun emak kembali berteriak karena Thian belum selesai memberi penjelasan.
"Heh cucu somplak. Loe tadi ngomong belum kelar. Loe mau nikah ma siapa. Kecebong mana yang mau sama loe Yan". Thian kembali duduk dan menceritakan apa yang baru saja dia alami.
"Apa kamu berhasil dek". Sebelum Thian bercerita Airil sudah menebaknya. Thian mengangguk antusias. Eneng dan emak semakin mendesak Thian untuk bercerita.
"Thian sudah melamar Zee secara pribadi. Tapi tadi Thian sempat dikerjai papi. Dan sampai sekarang Thian belum bisa hubungi Zee. Mungkin Zee masih ngambek". Eneng dan Airil tersenyum lega mendengar penuturan Thian. Emak pun ikut tersenyum. Tapi masih menyimpan kegundahan dalam hatinya.
__ADS_1
"Dikerjain gimana dek sama papi". Eneng bertanya antusias. Karena sangat langka seorang Serkan bisa diajak bercanda.
"Papi menolak lamaran Thian dihadapan Zee. Itu membuat Zee kecewa dan sedih pah. Awalnya Thian juga kecewa dan Thian menyalahkan diri sendiri karena terlalu lama berfikir. Waktu Thian mau pulang, papi tiba-tiba bilang. Papi nolak lamaran kamu karena kamu datang tanpa orangtua kamu. Jika ingin melamar anak papi datanglah bersama orangtua kamu". Thian menjelaskan semuanya kepada keluarganya. Airil dan Eneng saling menggenggam tangan dan tersenyum.
"Terus kenapa Zee masih marah kalau papinya sudah setuju dan cuma bercanda". Airil masih penasaran dengan cerita Zee yang masih marah kepada Thian.
"Zee gak tau papi bilang itu. Karena Zee sudah keburu kecewa dan masuk kamar. Zee masih mengira Thian pasrah dan gak mau berjuang lagi". Airil dan Eneng saling tatap. Kedua orangtua si kembar merencanakan sesuatu untuk Zee dan Thian.
"Ya sudah dek. Masalah itu biar papa dan mama yang selesaikan. Sana bersiapm Sebelum Luki datang ngomel-ngomel". Thian tersenyum dan segera kembali melangkah untuk bersiap.
Eneng menyadari jika ibunya sedang khawatir setelah mendengar cerita Thian. Eneng dan Airil mencoba meyakinkan jika keputusan Thian adalah yang terbaik. Emak berpesan agar keluarga Airil segera mempersiapkan segala sesuatunya sejak sekarang. Jangan sampai terjadi hal memalukan dikemudian hari.
Airil segera menghubungi Serkan membahas kelanjutan hubungan putra putri mereka. Tak lupa Airil juga mengatakan rencana spesial untuk keduanya. Serkan menyetujui apa yang direncanakan Airil dan Eneng.
a itu kepada Arash dan Rasya. Mereka segara akan mengadakan pertemuan keluarga membahas hari bahagia Thian dan Zee.
Thian sudah sampai dilokasi. Dan dia hampir terlambat. Beruntung syuting iklan belum dimulai. Thian sedang berganti pakaian dan berias diri dibantu seorang make up artis. Ada dua orang artis lain yang ikut bekerja sama dengan Thian.
"Yan, yang lagi viral loe apa Abang loe". Tanya salah satu rekan kerja Thian. Para make up artis dan salah satu artis juga penasaran dengan berita pagi tadi. Mereka menunggu jawaban Thian.
"Kenapa emangnya. Kepo ya". Bukan menjawab Thian malah meledek mereka semua.
"Pelit amat sih. Kasih taulah Yan. Kita kan teman". Pria itu masih memaksa agar Thian mengatakan tentang berita pagi tadi.
__ADS_1
"Tunggu saja. Kalian akan tau sendiri nanti Joe. Apa berita itu benar atau tidak. Tapi kalau loe sama Tiara masih penasaran, telpon aja Abang gue. Kan loe udah tanya gue, biar adil tanya Abang gue sekalian". Jawaban Thian menghentikan mulut Joe untuk kembali bertanya.
"Ya sudahlah". Jawab Joe pasrah. Thian dan para make up artis tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Joe. Tiara terdiam mendengar mereka bercerita.
Tiara adalah teman si kembar saat sekolah menengah pertama. Dan Fathan adalah cinta pertama Tiara. Awal mula Tiara menjadi artis, karena melihat Fathan juga menjadi artis. Bahkan Tiara sempat mendaftar diagensi milik Almeer, namun tidak diterima.
"Sebegitu susahnya kah untuk kamu menatap kearah ku. Bahkan aku yang lebih dulu mengenalmu. Tapi kenapa bukan aku yang kamu cintai. Bahkan semestapun tak mendukungku memilikimu".
Tiara bermonolog dalam hatinya. Hingga saat ini tak sekalipun Tiara bisa bekerjasama dengan Fathan. Tiara lebih sering bertemu Thian dibandingkan Fathan. Tiara selalu berharap bisa bekerjasama dengan Fathan. Namun harapannya selalu gagal.
Saat si kembar sedang fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Almeer sang manager sedang pusing karena mendapat ceramah dadakan dari Arash.
"Pokoknya ayah gak mau tau. Kalau sampai si kembar tunangan dan Abang belum bawa calon mantu, ayah akan langsung nikahkan kamu dengan Shabila. Gak ada penolakan". Melihat wajah Almeer yang ingin meminta pertolongan Icha, Ichapun hanya menggeleng sambil tertawa.
"Buna. Ayolah, Abang belum siap Buna". Almeer merengek kepada Icha. Arash sudah masuk kedalam ruangan kerjanya setelah memberi ultimatum putra sulungnya.
"Kapan mau siap kalau gak dicoba. Lagian Buna heran sama kamu bang. Mau umur berapa kamu siap nikah. Gak kasian tuh sama senjata sampai karatan. Jangan-jangan tuh bulu udah ubanan semua bang. Hahaha". Icha tertawa bahagia karena bisa mengolok Almeer.
"Aish Buna fulgar amat ya ngomongnya. Lagian kalau ubanan bisa disemir lagi kok Bun. Hahahaha". Almeer malah semakin menanggapi perkataan bunanya.
"Dahlah sekarang kamu pikirkan buat malam pertama nanti. Jangan sampe istrimu pingsan karena gas beracun. Dan satu lagi. Berani kamu kabur lagi besok, Buna sunat sampe habis. Kalau perlu ganti apem aja". Icha pergi meninggalkan Almeer yang semakin pusing dengan tuntutan orantuanya.
"Dasar duo cebong menyebalkan. Awas kalian". Almeer meluapkan kekesalannya sendiri.
__ADS_1