
"Mah. Bagaimana kondisi Oma". Fathan yang sedang berada di luar kota panik mendengar kabar Oma tercintanya tak sadarkan diri.
"Oma masih ditangani dokter bang. Abang doakan saja Oma yang terbaik". Eneng berusaha menahan agar suara paraunya tidak terdengar oleh Fathan.
"Abang akan pulang sore nanti mah". Fathan tidak peduli jika harus mendapatkan denda karena meninggalkan pekerjaannya.
"Gak usah bang. Selesaikan dulu pekerjaan abang. Adek sudah jalan kesini kok". Thian segera berangkat bke rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya. Beruntung Thian tidak pergi keluar kota.
"Ya sudah kalau memang begitu. Tapi Abang akan tetap pulang besok pagi mah". Fathan tetap bersikeras untuk pulang. Fathan juga sudah meminta ijin kepada produser dan sutradara. Fathan hanya diberikan ijin satu hari saja. Mengingat film yang sedang Fathan perankan harus segera tayang.
"Ya bang. Hati-hati ya bang. Nanti mama kabari lagi". Eneng menutup panggilan dari Fathan. Melody setia menemani mama mertuanya.
"Mah, makan dulu ya. Mel suapin. Mama juga harus sehat". Melody perlahan menyuapi Eneng. Eneng belum memberi tahu Titi mengenai emak. Airil keluar ruangan bersama rekannya setelah memeriksa emak.
"Mah". Airil memeluk tubuh Eneng yang sudah lemas. Eneng sudah tidak bisa menangis lagi. Dia menatap Airil penuh harap.
"Emak harus menginap dulu disini. Emak perlu pengawasan ekstra. Semoga semua segera membaik". Airil menjelaskan secara perlahan kepada Eneng. Thian berlari mendekati kedua orangtuanya. Dia tidak perduli dengan banyaknya mata memandangnya. Thian memang tidak mengenakan masker wajah.
"Mama, papa". Suara panggilan Thian membuat Eneng memalingkan wajahnya. Thian memeluk sang mama yang sudah terlihat sangat rapuh.
"Bagaimana keadaan Oma pah". Thian bertanya kepada Airil dan masih tetap memeluk Eneng.
__ADS_1
"Sudah membaik dek. Kita berdoa saja yang terbaik untuk Oma". Thian mengusap pundak Thian. Luki segera datang menghampiri Thian dan menjaga Thian karena tanpa mereka sadari sudah banyak fans Thian berdiri mengambil gambar Thian dan keluarganya.
Airil sudah memindahkan Oma keruangan VVIP agar lebih nyaman. Malam hari Zee datang bersama keluarganya. Zee baru mendapatkan kabar sore tadi. Zee sudah mulai belajar diperusahaan milik kakeknya Arsya. Dan hari ini dia pergi untuk mengikuti meeting diluar kota menemani Arsya.
"Mah. Maaf Zee baru datang. Oma bagaimana mah". Zee memeluk Eneng. Eneng tersenyum melihat Zee dan keluarganya.
"Oma sudah mulai baik sayang. Terimakasih sudah menjenguk emak". Eneng mengucapkan terimakasih kepada Serkan dan juga Arsya yang datang menjemput. Arsya segera memeluk Eneng. Begitu juga Serkan. Bagi mereka Eneng adalah orangtua kedua.
"Jangan seperti itu. Emak juga emak kami. Kenapa tidak bilang sejak tadi. Kalau bukan karena Zee, kami gak tau kondisi emak". Arsya memprotees Eneng karena tidak memberi kabar tentang emak.
Arsya dan Serkan memilih keluar ruangan untuk berbicara kepada Airil dan juga dokter yang merawat emak. Melihat kondisi emak yang masih belum sadar sejak masuk ke rumah sakit.
"Ril, gimana kondisi emak. Kok bisa gak sadar sampai sekarang". Arsya mulai bertanya kepada Airil. Mereka duduk diruang tunggu depan kamar Emak.
"Mungkin juga karena faktor usia Ril. Walaupun sudah kita jaga, namanya faktor usia kita juga tidak tahu". Arsya menambahkan seperti apa kondisi Oma.
Mereka berbincang hingga malam. Thian sempat pulang ke rumah sebelum Zee datang. Thian kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa makanan dan pakaian ganti Oma dan mamanya. Setelah menaruh semua bawaannya, Zee mengajak Thian pergi ke taman kecil disamping kamar Oma.
"Kapan kamu sampai sayang. Maaf kakak gak jadi jemput". Thian memang berjanji akan menjemput Zee saat dia selesai kerja. Namun karena ada keadaan darurat, Thian membatalkan janjinya.
"Tadi sore kak. Gapapa kak, Zee paham kok. Kakak sudah makan". Zee melihat Thian agak pucat dan mata lelahnya begitu tampak jelas.
__ADS_1
"Hmmm sudah kok sayang. Apa kamu lapar. Mau kakak temani makan". Zee tau jika Thian berbohong. Tapi Zee tidak mempermasalahkan karena Zee tak mau membuat suasana hati Thian menjadi semakin buruk.
"Iya Zee belum makan. Tapi Zee tadi sempat beli tiramisu ditoko biasanya". Zee mengeluarkan sekotak cake favoritnya dan Thian. Zee sengaja membeli itu agar bisa dia makan bersama Thian.
Thian hanya tersenyum saja saat Zee membuka penutup box berisi kue lezat itu. Perlahan Zee menyuapkan satu sendok kue itu kemulutnya. Dan dia juga sengaja mengajak Thian bercerita hingga tanpa Thian sadari, Thian ikut menghabiskan kue itu. Karena Zee juga menyuapinya disela-sela percakapan mereka.
"Sayang kamu curang". Zee tertawa karena Thian sudah menyadari jika dia ikut menghabiskan kue tadi.
"Oya kak. Kapan Delisha bisa ditemui". Memang saat mereka merencakan akan menemui Delisha, dokter yang merawat Delisha meminta mereka untuk tidak menemuinya dahulu. Karena Delisha sempat mengamuk.
"Nanti ya sayang. Tunggu setelah Oma sadar. Dokter Key juga belum kasih kabar lagi. Apa Delisha sudah keluar dari riang isolasi atau belum". Thian tetap berkomunikasi dengan dokter yang menjaga Delisha walaupun dia masih belum bisa dikunjungi.
"Apa separah itu kak. Bukannya kakak cerita, Delisha akan tenang kalau dengar suara kakak". Delisha sempat mengamuk saat tiba di rumah sakit yang baru. Bahkan dokter menghubungi Thian melalui telepon dan memperdengarkan suaranya, namun Delisha masih saja mengamuk.
"Kakak juga tidak tahu sayang. Apa penyebab Delisha seperti itu. Dokter masih mencoba mengobservasi. Kita doakan saja semoga Delisha cepat pulih. Kakak merindukan adek kakak itu sayang". Zee memeluk Thian dan mengusap lembut punggungnya. Walaupun hanya adik angkat, nampak sekali Thian tulus menyayangi Zee.
Malam ini Thian menemani kedua orangtuanya menjaga Oma dirumah sakit. Oma benar-benar harus dijaga ekstra karena sampai tengah malam Oma masih belum sadar juga. Airil akan meminta beberapa pemeriksaan lebih untuk Oma agar dia tahu apa yang sedang Oma alami. Jika sampai subuh Oma belum sadar juga.
Karena ditubuh Oma tidak ada tanda-tanda luka atau lebam yang disebabkan oleh benturan ataupun terjatuh, maka Airil hanya melakukan pemeriksaan biasa saja. Dan Airil mengira Oma akan segera sadar. Namun hingga tengah malam keadaan Oma sama saja. Lebih mirip dengan orang yang sedang mengalami koma.
Agar Eneng tidak panik, Airil tidak memberitahu tentang pemeriksaan yang akan Oma jalani hari ini. Bahkan Airil meminta Thian membawa mamanya pergi meninggalkan ruangan Oma, saat nanti pemeriksaan akan dilakukan.
__ADS_1
Fathan sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia meminta sang istri menemuinya di rumah sakit saja. Thian segera membawa mamanya untuk jalan-jalan. Membujuk Eneng sangatlah susah, namun Thian berhasil. Thian membawa Eneng ke taman rumah sakit dan berjemur disana.