
"Thian, Fathan. Malam ini kalian pulang jam berapa". Tanya Airil kepada kedua putranya disela sarapan pagi mereka.
"Kalau Abang nanti setelah Ashar selesai pah" . Jawab Fathan sambil menoleh kearah sang adik.
"Thian sepertinya habis Maghrib pah. Memangnya ada apa pah". Thian bertanya kepada sang papa. Karena tak biasanya Airil menanyakan jadwal mereka.
"Papa sama Mama mau ada yang dibicarakan sama kalian. Kalau misal kalian tidak ada jadwal lagi, bisa kita nanti malam makan malam diluar". Tanya Airil kepada kedua putranya.
"Bisa pah". Jawab sikembar kompak. Mereka akan menomor satukan keinginan kedua orangtuanya dibandingkan yang lain.
"Terimakasih nak. Nanti papa kirim alamat restaurannya. Jadi kalian bisa langsung kesana setelah selesai bekerja. Ajak sekalian Luki dan Adrian". Airil tersenyum mendengar jawaban kedua putranya.
"Baik pah". Fathan dan Fathian menjawab secara bersamaan.
Usai sarapan, mereka sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Thian akan berangkat lebih siang hari ini. Sedangkan Fathan sudah lebih dahulu berangkat.
"Oma. Lagi tapa bisu ya". Thian meledek sang Oma yang hanya terdiam sejak pagi tadi. Emak tak merespon apapun. Hanya diam fokus kepada televisi dihadapannya.
"Wah wah. Ada apa gerangan Oma sampai puasa ngomong. Padahal Thian mau ngajak beli cuanki pedes. Beuh sedep bener". Thian membujuk sang Oma dengan makanan. Namun tetap sama emak tak bergeming.
Ono yang melihatpun ikut heran. Ono pun ikut berulah. Ono berdiri didepan emak sambil berjoget tak beraturan. Dan meledek emak. Emak melepas sandalnya dan melemparkan kearah Ono.
"Aduh. Kanjeng ratu sakit tau". Ucap Ono kepada emak. Thian makin heran ada apa dengan Omanya.
Thian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Disana Eneng sedang membersihkan dapur. Thian berjalan perlahan mendekati Eneng.
"Mah". Panggilan Thian lembut kepada sang mama.
"Kenapa dek. Udah mau berangkat atau adeknaku sesuatu". Tanya Eneng kepada Thian yang sangat xah berdiri disampingnya.
"Oma kenapa. Kok diem aja sih mah". Thian sangat khawatir dengan keadaan Oma tercintanya.
"Emang masih diam sampai sekarang dek". Eneng kembali bertanya kepada sang putra.
"Loh sejak kapan Oma diam seperti itu mah". Thian semakin penasaran setelah mendengar penjelasan sang mama.
__ADS_1
"Oma ngambek dari kemarin. Gara-gara kemarin kumpul sama ibu-ibu". Eneng menceritakan asal mula emak ngambek.
"Kok bisa. Emang diapain Omanya. Sampe manyun gitu. Si Ono kena timpuk sendal tadi". Thian semakin ingin tahu.
"Jadi kemarin kan ibu-ibu pada kumpul depan rumah kita makan cuanki bareng-bareng. Teruskan Bu Saodah cerita kalau habis dibeliin berlian sama suaminya. Taukan dek Bu Saodah itu kayak apa sifatnya". Eneng melihat kearah sang putra.
"Hemmm. Masih suka pamer". Jawab Thian singkat.
"Emak masih santai aja. Yang lain pun sama. Nah tiba-tiba Bu Meri cerita, kalau anaknya mau nonton konser BTS di Seoul. Kebetulan kan udah liburan sekolah. Emak lagi makan kesedak. Tuh cuanki nyangkut. Paniklah kita semua. Papamu ikut panik". Eneng bercerita dengan semangat.
"Hah. Terus gak masuk paru-paru kan mah". Thian mulai khawatir.
"Ya nggaklah. Oma masih sehat gitu". Jelas Eneng kepada Thian. Eneng melanjutkan ceritanya kembali.
"Nah kita berusaha nolongin Oma. Dan akhirnya tuh cuanki kelempar keluar. Tau gak tuh cuanki kena siapa". Eneng menggantung ceritanya membuat Thian menggeleng penasaran.
"Siapa mah". Thian penasaran. Begitu juga dengan Ono yang ikut bergabung mendengar cerita Eneng.
"Tuh cuanki melesat kearah jidat Bu Saodah. Ibu-ibu mencoba menahan tawa. Karena kamu tau kan dek Bu Saodah paling anti ditertawakan. Oma yang melihat wajah Bu Saodah yang shock langsung tertawa. Ngamuklah tuh Bu Saodah. Mereka adu mulut sampe timpuk-timpukan. Dan bukan hanya bi Saodah yang kena amuk. Ibu-ibu lain yang melerai pun jadi sasaran". Cerita Eneng kepada sang anak.
"Huh. Oma ngambek sama papa. Karena negur Oma yang ngetawain Bu Saodah". Eneng kembali menjelaskan.
"Lah kok bisa. Emang papa gimana ngomongnya sampe bikin Oma cemberut". Thian berbicara dengan diselingi suara tawa.
"Papa bilang. Oma besok lagi jangan spontan ketawa. Kan kasian Bu Saodahnya. Udah nolongin kena timpuk. Gitu bilang papa". Ujar Eneng.
"Terus ngambek". Thian kembali bertanya.
"Oma ngamuk. Bilang papa lebih belain Bu Saodah. Udah gak sayang Oma lagi. Taukan Oma biang drama". Jawab Eneng dan disambut tawa oleh Thian.
"Thian yakin, nanti pulang kerja papa bawa sesajen buat Oma. Hahaha". Thian sudah paham jika ingin berbaikan dengan Oma harus ada sogokan.
"Hem. Padahal itu mustahil". Jawab Eneng meragukan sang suami.
"Emang apa maunya Oma kali ini mah". Thian ingin tahu apalagi yang diinginkan sang Oma.
__ADS_1
"Baju mermaid yang lagi hits. Kamu bayangin aja Oma pake baju mermaid. Bukan jadi duyung malah jadi Dugong". Perkataan Eneng ternyata didengar oleh emak. Sandal ajaib melayang ke Eneng. Thian dan Ono memilih Kabir sebelum ikut terkena amukan. Bahkan Luki yang baru sampai ikut diseret oleh Thian.
Dikediaman seorang pengusaha, kini sedang duduk sang empunya rumah menanti kedatangan putra dan putrinya. Dimas Aditya. Pengusaha ternama dan sekaligus sahabat Airil. Hari ini dia berharap bisa bertemu sang putri. Beberapa anak buah sudah dia sebar untuk bisa membawa sang putri pulang kerumah.
"Selamat pagi tuan". Sapa seorang bodyguard yang dia utus mencari sang putri.
"Pagi. Bagaimana. Apa kalian bertemu Tifanny". Tanya Tuan Dimas dengan antusias.
"Sudah tuan. Nona sedang dalam perjalanan". Jelas sang bodyguard.
"Baiklah terimakasih". Tuan Dimas meminta sang bodyguard untuk kembali berjaga.
Tak lama terdengar suara deru mesin kendaraan memasuki kediamannya. Dan suara khas seorang gadis yang menolak untuk masuk kedalam rumah. Tuan Dimas berdiri dan menyambut sang putri.
"Sayang kemarilah. Apa kamu tidak merindukan ayah". Ucap tuan Dimas dengan nada sendu. Tatapan penuh kerinduan.
"Ayah. Ayah yang mana. Ayah yang mengusir putrinya demi sekretaris kesayangannya. Ayah yang membentak putrinya demi membela anak sekretaris kesayangannya. Itukah ayahku". Ungkap Tifanny dengan begitu marahnya.
"Fany benar. Ayah mana yang lebih membela anak sekretarisnya dibandingkan anak kandungnya sendiri. Iqbal kecewa sama ayah". Seorang pemuda seusia Almeer masuk kedalam rumah tuan Dimas. Dia adalah kakak tertua Tiffany.
"Abang". Tifanny menoleh dan langsung memeluk sang Abang. Iqbal membalas pelukan hangat sang adik tersayang.
"Apa kabar sayang. Kemana saja kamu selama ini. Abang mencarimu kemanapun. Kenapa tidak pernah menemui Abang". Iqbal meluapkan segala rasa rindunya kepada adik perempuan satu-satunya.
"Fanny baik Abang. Abang tidak usah khawatir. Fanny masih bisa bertahan hidup walaupun tanpa uang dari seorang yang menyebut dirinya ayah". Ucapan Fanny membuat tuan Dimas semakin menyesal dan sakit.
Tuan Dimas berusaha mendekati sang putri. Rasa rindu yang ingin sekali dia luapkan. Namun Tifanny terus menghindar. Rasa kecewanya sudah begitu mendalam.
"Maafkan ayah. Maafkan ayah nak. Ayah salah. Ayah tidak mempercayai perkataanmu. Kembalilah nak. Kembali kepada ayah". Tuan Dimas menangis tersendu dihadapan kedua anaknya. Hati Tiffany tidak tega melihat sang ayah menangis. Tapi dia juga masih sakit mengingat perlakuan sang ayah.
"Sayang. Jika kamu sudah memaafkan ayah kembalilah. Tapi jika kamu masih belum bisa menerima semua. Tinggallah bersama Abang. Abang gak mau kamu terlunta-lunta diluar sana. Masih ada bang Iqbal. Masih ada ada Nanda saudara kembarmu. Dia juga masih abangmu". Iqbal mencoba menenangkan sang adik. Tuan Dimas memiliki tiga anak. Yang tertua adalah Iqbal dan si kembar Nanda dan Tiffany. Mereka kembar beda kelamin.
"Iya nak. Jika kamu belum mau pulang kerumah ini. Pulanglah bersama abangmu". Tuan Dimas ikut membujuk sang anak.
"Baiklah. Fanny akan ikut bersama Abang dan tinggal bersama Abang". Keputusan terakhir dan terbaik yang diambil oleh Tiffany. Membuat hati tuan Dimas dan putranya lega.
__ADS_1