Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Salah Alamat


__ADS_3

Semenjak bertemu Melody dikantor Almeer beberapa bulan yang lalu, Fathan lebih sering singgah dikantor. Walaupun jarang sekali mereka bisa berbicara, cukup melihat wajah Melody saja sudah membuat Fathan bahagia. Dan hingga saat ini Melody masih saja lupa meminta nomor ponsel fathan. Seperti biasa hari ini Fathan singgah dikantor terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya. Namun sudah hampir dua jam Fathan menunggu, ia tidak melihat keberadaan Melody.


"Than. Yuk udah mau siang nih". Adrian menghampiri Fathan untuk memintanya segera berangkat menuju lokasi kerjanya. Dengan menghela nafas, Fathan beranjak dan berjalan dengan malasnya.


Adrian menyadari perubahan mood Fathan. Adrian berusaha membantu Fathan. Dia meminta Fathan menunggu didalam mobil. Dengan alasan ingin ke toilet, Adrian mencoba menanyakan keberadaan Melody kepada rekannya. Setelah mendapat jawaban, Adrian kembali kedalam mobil dan segera menuju lokasi tempat Fathan bekerja.


"Bos. Jangan lesu gitu. Gue tau loe dari tadi nungguin cewek itu kan bos". Kunti sedih melihat berubahan sikap Fathan. Fathan tak bersuara hanya mengangguk saja.


"Than. Gue ada kabar sedikit tak enak nih". Adrian mencoba menyadarkan Fathan dari almunan panjangnya.


"Kenapa". Fathan tidak mengalihkan pandangannya dari kaca mobil. Entah mengapa dia begitu sedih hari ini.


"Gue tau loe tadi nyariin OB itu. Dan gue tadi tanya ke temannya. Kata temannya dia udah gak kerja dikantor kita lagi than". Adrian menjelaskan dengan perlahan. Perkataan Adrian membuat Fathan terkejut.


"Oh. Makasih". Mendengar jawaban Fathan yang singkat Adrian sangat paham jika Fathan memiliki perasaan yang lebih terhadap OB itu.


Entah mengapa Fathan merasa kehilangan sesuatu didalam hidupnya setelah mendengar perkataan Adrian. Semangatnya sedikit meredup. Kunkun pun ikut sedih. Dia berusaha menenangkan Fathan.


"Bos. Jika dia jodoh bos. Cepat atau lambat kalian akan bertemu kembali. Berdoa saja bos yang terbaik untuknya". Fathan hanya berdehem menjawab nasehat Kunkun. Walaupun kondisi Fathan tidak baik-baik saja, Fathan tetap profesional dalam bekerja.


Dilokasi, Thian sudah menunggu. Thian sudah mulai bergabung dalam pembuatan film televisi yang dibintangi Fathan. Tanpa bertanya, Thian sudah tau jika kakaknya sedang tidak baik-baik saja. Perasaan sedih Fathan juga bisa Thian rasakan. Thian duduk disamping Fathan dan mencoba memberikan pelukan kepada sang kakak.


"It's oke. Semua akan baik-baik saja". Senyum Fathan muncul setelah mendapat pelukan dan Thian. Thian memang tidak tau apa yang terjadi dengan Fathan. Namun Thian bisa merasakan.


Hari ini jadwal mereka sangat padat. Shooting yang mereka jalani pun selesai hingga larut malam. Mereka memilih kembali ke apartemen yang sudah lama mereka beli, namun jarang mereka tempati. Karena sudah terlalu lelah dan jarak untuk pulang kerumah lebih jauh daripada jarak menuju apartemen. Mereka memilih menginap di apartemen.


Pagi hari yang cerah seorang gadis manis sedang bersiap untuk memulai harinya. Walaupun kakaknya sudah melarang untuknya bekerja, namun gadis itu tidak peduli. Dia tidak mau dianggap hanya menumpang hidup.


"Bang, Fanny berangkat kerja dulu". Gadis itu adalah Fanny. Dia berpamitan dengan sang kakak untuk berangkat kerja.

__ADS_1


"Dek. Kamu bisa kerja dikantor Abang kalau mau. Atau Abang Carikan pekerjaan dikantor teman Abang". Sebagai seorang kakak Iqbal ingin yang terbaik untuk adik perempuan satu-satunya. Namun Fanny memiliki sifat keras kepala jika harga dirinya sudah dijatuhkan. Dia akan berusaha menunjukkan kepada orang yang sudah menghinanya jika dia juga bisa lebih baik dari mereka.


"Gak usah bang. Fanny bahagia dengan pekerjaan Fanny". Fanny tersenyum kepada sang kakak agar Iqbal tidak khawatir berlebihan.


"Huh. Ya sudah. Tapi kamu sarapan dulu ya". Pinta sang kakak. Fanny hanya tersenyum dan mengambil sandwich yang sudah dibuat kakak iparnya dan berlalu pergi.


"Ini saja bang. Fanny pergi udah telat". Fanny melangkahkan kakinya keluar dari kediaman sang kakak.


"Pah. Gak usah khawatir. Fanny pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat ". Istri Iqbal sangat tahu kekhawatiran sang suami terhadap adik iparnya. Dengan seulas senyum Iqbal menjawab perkataan sang istri.


Saat Iqbal akan berangkat ke kantor, sang ayah datang berkunjung. Pak Dimas memang sering datang kerumah sang putra untuk mengetahui kabar Fanny. Karena pak Dimas masih belum memiliki keberanian untuk bertemu Fanny, beliau memilih menunggu Fanny pergi bekerja terlebih dahulu dan akan membuntutinya ataupun menemui Iqbal.


"Assalamualaikum bang ". Ucapan salam sang ayah membuat Iqbal yang masih menikmati sarapannya menoleh. Istri Iqbal berdiri menyambut sang mertua.


"Waalaikumsalam". Iqbal berdiri untuk berjabat tangan dan mencium tangan sang ayah. Walaupun Iqbal kecewa dengan apa yang telah dilakukan ayahnya, namun berkat sang istri Iqbal sudah bisa memaafkannya.


"Sudah nak. Kalian lanjutan saja sarapannya". Pak Dimas tersenyum menjawab pertanyaan sang menantu. Sambil menunggu Iqbal dan Rima menyelesaikan sarapannya, pak Dimas meminta segelas kopi kepada pelayan dirumah Iqbal. Usai sarapan pak Dimas mengutarakan maksudnya datang pagi ini.


"Bang. Beberapa hari ini ayah sengaja membututi adikmu Tiffany. Ayah hanya ingin tahu apa yang dilakukan anak perempuan ayah jika diluaran sana". Pak Dimas berbicara dengan memainkan cangkir kopinya. Iqbal sempat terkejut dengan pernyataan sang ayah.


"Kenapa ayah lakukan itu. Ayah Taukan Fanny paling tidak suka jika ayah seperti itu. Tolong percaya kepada Fanny. Fanny tidak akan berbuat yang merugikan atau membuat malu keluarga kita". Iqbal meminta sang ayah untuk berhenti melakukan hal-hal yang bisa membuat sang adik kembali pergi.


"Iya ayah tau. Tapi apa Abang tau apa yang adik kerjakan". Iqbal menatap kearah sang ayah yang masih menunduk dan bermain dengan cangkirnya. Tanpa menunggu jawaban Iqbal, pak Dimas kembali melanjutkan perkataannya.


"Fanny bekerja apapun itu. Bahkan tak segan dia menjadi seorang cleaning servis. Hati ayah begitu sakit bang melihat itu. Adikmu benar-benar membuktikan perkataannya waktu itu bang. Dia rela diperlakukan kasar oleh orang-orang yang memandang rendah pekerjaannya demi bisa bertahan hidup dan membuktikan kepada ayah jika dia bisa. Ayah menyesal pernah berkata kasar dulu bang". Air mata pak Dimas tak tertahan. Iqbal pun menunduk mendengar cerita sang ayah.


"Iqbal tau ayah menyesal. Dan Iqbal yakin Fanny akan memaafkan ayah. Walaupun kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Iqbal minta biarkan saja Fanny melakukan apa yang dia inginkan. Selagi dia masih bisa menjaga dirinya". Dalam hatinya Iqbal sebenarnya juga merasa sakit mendengar kenyataan tentang pekerjaan Fanny.


Setelah berbincang cukup lama, pak Dimas berpamitan untuk pergi ke kantor. Iqbalpun demikian. Disepanjang jalan Iqbal masih memikirkan sang adik. Iqbal menghubungi seseorang untuk segera kembali ke kota. Hanya orang itu yang bisa mengendalikan Fanny untuk sementara waktu.

__ADS_1


Ditempat lain, Thian sedang menikmati sarapannya dengan sang kembaran. Mereka masih berada disekitaran apartemen. Walaupun artis ternama, mereka selalu ingat darimana mereka berasal. Tidak pernah ada sifat sombong dan angkuh pada diri mereka.


Fathan meninggalkan sang adik ke toilet. Tak lama pelayan rumah makan itu mendatangi Thian menanyakan pesanan Thian.


"Selamat pagi kak. Mau pesan apa". Suara lembut sang pelayan membuat Thian menoleh karena Thian merasa mengenali suara itu.


"Loe. Kerja disini". Ucap Thian kepada pelayan itu. Dan pelayanan itu pun juga kaget dengan pelanggan yang sedang dia berikan pelayanan.


"Loh kak Fathian. Apa kabar. Lama gak ketemu. Iya Melody kerja disini sekarang". Ucap pelayan itu yang ternyata adalah Melody.


"Alhamdulillah gue baik. Oh gitu. Udah berapa lama kerja disini". Tanya Thian kepada Melody sambil memilih menu makanan.


"Sebenarnya sejak terakhir kita ngobrol dikantor waktu itu. Mel sudah kerja parttime disini. Terus karena capek kerja dua tempat Mel memilih keluar dari kantor agensi terus kerja disini". Jelas Melody yang sempat membuat Thian kaget. Dan mencoba mengingat sesuatu.


"Kantor agensi. Memang kita pernah bertemu dikantor agensi. Agensi mana". Thian memang merasa tidak pernah bertemu dengan Melody sebelumnya mencoba bertanya.


"Ck. Kak Thian pikun ih. Kantornya Mas Almeer. Kita kan pernah ketemu disana dua kali. Nah terakhir kita ngobrol ditaman belakang. Masa lupa". Melody semakin membuat Thian bingung. Mau diingat berkali-kali pun Thian tetap tak ingat.


"Masa sih. Gue aja jarang ke kantor Bang Al. Kalau gak dipaksa. Salah orang kali". Thian menyangkal perkataan Melody. Karena dia merasa itu bukan dia.


"Gak. Melody yakin itu kakak. Jahat kakak lupa sama Mel. Ya udah mau pesan apa". Melody sedikit cemberut mendengar perkataan Thian. Thian tersenyum melihat wajah imut Melody.


Saat Thian akan memesan, Adrian datang dan segera meminta Thian menyusul Fathan yang sudah didalam mobil. Mereka harus segera ke lokasi karena jadwal diajukan. Adrian juga sudah memesan makanan untuk dibungkus. Adrian melihat Melody yang masih berdiri. Tanpa berfikir panjang Adrian menuliskan nomor ponsel Fathan.


"Tolong kamu segera hubungi nomor ini. Dia butuh kamu". Ucap Adrian kepada Melody. Melody masih diam menatap deretan nomor itu.


"Apa ini berhubungan dengan Fathian". Melody sempat bertanya kepada Adrian sebelum dia berlari meninggalkan resto. Adrian menjawab dengan anggukan. Dan Melody tersenyum karena dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Fathian. Yang tadi sempat dia lupa untuk bertanya.


"Semoga kita bertemu lagi kak". Gumam Melody sambil menatap deretan nomor itu.

__ADS_1


__ADS_2