Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Delisha...


__ADS_3

"Hai. Kita udah kerjasama lama. Tapi gue belum punya nomor ponsel kalian. Boleh tukeran". Tanya seorang aktris muda kepada si kembar.


"Oh. Bentar". Jawab Thian singkat.


Thian mengambil ponselnya dan menyebutkan sederet nomor. Fathan hanya diam sambil memejamkan mata dan bersender pada kursi istirahatnya. Dua bodyguard mereka tetap setia menemani.


"Hmmm. Ini nomor ponsel loe kan Thian". Tanya aktris tersebut meyakinkan.


"Iya. Kenapa". Jawab Thian singkat.


"Kalau nomor ponsel Abang loe berapa". Kembali gadis itu bertanya.


"Sama saja kok. Kita sering pake satu ponsel". Jawab Thian asal.


"Oh gitu. Oke makasih ya". Gadis itu tersenyum bahagia karena memperoleh nomor ponsel si kembar.


"Bos bos. Perasaan nomor ponsel si bos bukan itu deh". Kunkun berkata karena penasaran.


"Emang bukan". Jawab Thian santai sambil memainkan ponsel.


"Terus itu nomor siapa bos". Kunkun semakin penasaran.


"Bang Al". Jawab Thian santai.


"Hah. Gak salah bos". Ono terkejut mendengar jawaban Thian.


"Berisik amat kalian. Main sana". Thian mengusir kedua bodyguardnya.


"Dasar bos mah aneh. Ada yang bening nyamperin malah ditolak". Ujar Ono kesal.


Thian tak menanggapi ocehan Ono. Dia memilih menutup telinganya menggunakan headset. Duo KunNo pergi berjalan-jalan disekitaran lokasi syuting baru itu. Ini hari kedua mereka berada diluar kota. Lokasi syuting mereka kali ini berada di pedesaan. Dan selalu didatangi penggemar dari beberapa artis yang sudah memiliki nama.


Beruntung bagi si kembar menjadi pendatang baru. Wajah mereka belum begitu terkenal dalam dunia perfilman. Setiap mereka pulang atau datang ke lokasi syuting tidak pernah mendapat hambatan dari para penggemar yang ingin sekedar berfoto atau meminta tanda tangannya.


"Gaes kita mulai lagi ya". Teriakan dari asisten sutradara.


Para pemain bersiap pada posisi masing-masing. Si kembar sudah berusaha semampu mereka untuk bisa berakting takut saat bertemu setan. Namun hasilnya masih tetap sama.


"Fathan, Thian. Lebih ekspresif lagi ya". Perintah sang sutradara.


"Ya bang". Jawab si kembar kompak.


Pengambilan gambar sudah berlangsung. Menurut skenario akan ada adegan dimana salah satu setan akan memegang kaki Fathan. Fathan berusaha untuk tidak mengibaskan seperti saat berlatih bersama Ono.


"Dek. Setan yang megang bagian kaki cowok kan". Tanya Fathan berbisik kepada Thian.


"Sepertinya cowok kok bang". Jawab Thian.


Fathanlah yang mendapatkan peran tersebut. Thian pun sama khawatirnya dengan Fathan jika pemeran itu adalah wanita. Akan terjadi prahara.


Deg


Jantung Fathan berdetak kencang seperti genderang mau perang. Thian sadar saat Fathan terdiam dan keringat dingin bercucuran. Thian melirik kearah kaki sang Abang.


"Bahaya ini. Kali ini pasti gak akan selamat". Thian berbicara didalam hati.


"Dek". Lirih suara Fathan namun masih bisa didengar Thian.


"Tahan bisa bang. Bentarrrr aja". Thian menjawab dengan suara lirih.

__ADS_1


"Gak bisa". Jawab Fathan singkat.


Tak hanya Thian yang tegang. Almeer dan kedua bodyguard mereka pun ikut tegang melihat adegan kali ini. Almeer berdoa didalam hati agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Bushhhhhh


Fathan tak lagi bisa menahan. Beruntung itu hanya ******* angin saja. Fathan tetap bersikap biasa. Thian kembali melirik kearah kaki sang Abang. Almeer pun sudah sangat gugup. Karena dia yakin korban pasti tidak akan selamat. Aroma spesial mulai tercium diseluruh ruangan.


"Ini bau apaan ya". Tanya salah satu kru yang berada didekat para pemain.


"Iya. Kenapa tiba-tiba bau ****** gini". Ucap salah satu artis.


"Gila mual gue". Artis lainnya pun sama bahkan berlari ke kamar mandi karena mual.


Sang tersangka berpura-pura ikut mencium bau yang sama. Begitu juga dengan Thian. Semua kru dan artis memilih keluar dari ruangan. Si kembar memilih berjalan-jalan diarea persawahan didekat lokasi syuting. Beberapa aktor juga mengikuti mereka.


"Fathan. Abang dengar papa kalian dokter ya". Tanya salah satu aktor senior kepda Fathan.


"Iya bang. Dokter bedah". Jawab Fathan.


"Kenapa kalian memilih menjadi artis bukan dokter". Tanyanya lagi kepada Fathan.


"Awalnya kami mau mengikuti jejak papa. Karena ajakan bang Almeer menjadi model membuat kami semakin menikmati. Dan ya disinilah kita sekarang bang". Jawab Fathan.


"Mungkin memang rejeki kalian disini. Kalian masih kuliah". Tanya aktor itu lagi.


"Sudah selesai bang. Tinggal wisuda saja". Jawab Fathan kembali.


"Goodboy. Gue cuma sampai SMA". Jawab aktor tersebut.


"Kenapa gak lanjut bang". Tanya Fathan.


Thian asyik dengan dunianya sendiri. Dia berada ditengah petakan sawah sambil berselfi ria. Dengan ajudan setia yang selalu menemani.


"Bos ngapain sih main disini. Kotor bos". Protes Ono.


"Minggat sono. Berisik loe". Jawab Thian.


"Yah ngambek. Ampun bos. Ono disini kok nemenin bos". Ono takut jika Thian sudah marah.


Thian menelusuri jalanan ditengah sawah tersebut dengan bahagia. Ono terus menggerutu namun tak dipedulikan oleh Thian. Thian sengaja masuk kedalam sawah. Ono hanya diam dan berpindah diatas dahan pohon ditepi sawah.


"Hei. Maling loe ya". Teriakan seorang gadis dari arah pondok sawah.


Thian diam saja. Dan meneruskan kegiatannya mencari belut. Hal yang paling membuat hati Thian bahagia. Dia tidak pernah peduli terbakar terik matahari ataupun kotor karena lumpur.


Bugh


"Mau maling loe ya". Kembali suara itu terdengar dan sekarang lebih dekat.


Thian berdiri tegak dan melihat kearah baju bagian belakangnya yang kini sudah berbalut lumpur. Thian dilempar lumpur oleh seseorang.


"Pergi loe dari sawah gue". Teriak gadis itu lagi.


Thian diam dan terus mencari belut. Karena merasa tak diperdulikan oleh Thian, perempuan muda itu mendatangi Thian dan langsung menyeret topi hoodie milik Thian. Karena tarikannya yang cukup kencang, Thian pun terjatuh kedalam lumpur.


"Sialan". Thian kesal.


Thian berdiri dihadapan gadis itu yang ternyata tingginya hanya sebatas dada Thian. Namun gadis itu tak ada rasa takut sama sekali.

__ADS_1


"Apa loe. Berani loe maling disawah gue". Tanya gadis itu sambil berkacak pinggang.


"Apa yang gue maling hah". Jawab Thian tak kalah garang.


"Itu apa didalam tas loe". Gadis itu menunjuk ke arah tas Thian.


"Bukan urusan loe". Jawab Thian sambil berlalu.


"Berhenti gak loe". Gadis itu mengejar Thian yang hendak pergi.


Thian tetap berjalan. Dengan menahan kesal dan amarahnya. Ono bergegas melindungi sang bos. Walaupun sedikit terlambat. Gadis itu kembali akan melempar lumpur kepada Thian. Ono menghalau dengan tubuhnya. Gadis itu semakin kesal melihat hasil lemperannya selalu meleset.


"Kok aneh. Padahal dekat loh. Tapi kok gak kena ya". Gadis itu bergumam sendiri.


Thian terus berjalan menuju ketempat dimana sang Abang berada. Sedangkan Ono sudah sangat pasrah dengan wujud barunya saat ini. Fathan dan Kunkun yang melihat Thian datang penuh lumpur merasa khawatir. Fathan berlari mendekati sang adik.


"Dek kenapa loe. Siapa yang bikin loe kayak gini dek". Tanya Fathan sambil berusaha membersihkan wajah Thian menggunakan tisu basah.


"Cewek gila bang". Jawab Thian kesal.


"Ono mana. Kenapa gak ngawal loe dek". Fathan kesal karena Ono tidak menjaga sang adik.


"Gue disini bos. Gak lihat bentukan gue udah kayak pentungan gini". Jawab Ono sambil memperlihatkan tubuhnya penuh lumpur.


Fathan membawa Thian ke lokasi syuting untuk membersihkan diri. Saat mereka berjalan kembali terdengar teriakan gadis tadi yang ternyata masih mengejar Thian.


"Woy maling berhenti loe". Teriaknya.


Fathan menoleh dan menatapnya tajam. Gadis itu berjalan cepat mendekati si kembar. Kunkun dan sudah siap didepan mereka untuk melindungi.


"Balikin apa yang loe ambil dari sawah gue". Teriak gadis itu.


"Dek apa yang loe ambil". Tanya Fathan berbisik.


"Belut bang". Jawab Thian


Fathan menatap gadis itu dengan sangat tajam. Namun gadis itu tak takut dan semakin menantang Fathan. Beberapa artis mendekat melihat ada keributan.


"Itu hanya belut". Jawab Fathan.


"Belut sekalipun. Balikin sini". Jawab gadis itu.


Fathan mengambil tas Thian dan melemparkannya kearah gadis tadi. Tas Thian belum tertutup rapat. Sehingga belut-belut didalamnya berhamburan keluar dan mengenai wajah gadis itu.


"Aaaaa...Mama ada ular. Delisha takut mama. Tolonnggg. Huaahhh". Gadis itu berteriak ketakutan.


Sikembar dan kedua bodyguardnya melotot kaget melihat reaksi gadis bernama Delisha.Si kembar tertawa kencang melihat gadis sok berani itu ketakutan.


"Oh ternyata penakut. Sok jadi preman". Ucap Thian.


Thian memunguti belut-belut tadi dan memasukan kembali kedalam tas. Thian sengaja menyisakan satu yang berukuran kecil. Thian sengaja memasukan kedalam kaos Delisha.


"Rasain tuh". Ucap Thian sambil berlalu pergi bersama teman-teman lainnya.


_______


Maaaf sekali ya gaess. Aku benar-benar belum bisa konsisten. Karena masih menjalani masa penyembuhan...


Terimakasih masih setia...

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya


__ADS_2