Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Satu untuk selamanya


__ADS_3

Pagi hari keluarga Malik sudah tiba terlebih dahulu dikediaman orangtua Airil. Hanya beberapa jam berselang, keluarga Melody pun juga telah sampai. Kabar meninggalnya kakek si kembar sudah disiarkan secara langsung diseluruh media cetak dan elektronik. Wartawan sudah banyak yang berkumpul untuk meliput. Bahkan karangan bunga sudah memenuhi sepanjang jalan menuju kediaman Pak Prasaja.


Airil, Arjuna dan si kembar berada diruang membaakan ayat suci untuk Kakek Prasaja. Sedangkan Eneng dan Tania berada dikamar menemani Ibunda Airil yang terbaring lemah karena masih terkejut. Sedangkan Melody dan Zee membantu dibelakang bersama tetangga dan saudara Airil yang lainnya.


Arash dan Arsya segera masuk dan menemui Airil. Dari awal kedatangan mereka para wartawan sudah sibuk meliput. Keluarga Malik lainnya juga segera masuk untuk memberi ucapan duka dan ikut membacakan ayat suci Al-Qur'an disamping jenazah pak Prasaja.


Keluarga Melody pun segera sampai dan bergabung dengan keluarga Malik didalam ruangan. Usai sholat dhuhur, jenazah pak Prasaja segera dimakamkan. Para wanita tidak diperkenankan ikut mengantarkan jenazah. Hanya para pria yang mengantarkan pak Prasaja ke peristirahatan terakhir.


Eneng dan keluarga lainnya berusaha menenangkan ibunda Airil yang kembali histeris saat jenazah sudah dibawa keluar dari rumah dan dimasukkan kedalam ambulance. Beberapa kali ibunda Airil tidak sadarkan diri.


Karena didaerah tempat tinggal keluarga Airil masih menggunakan adat tahlilan, maka warga sekitar rumah Airil membantu keluarga Airil mempersiapkan itu. Beberapa saudara Airil dan tetangganya sangat canggung ketika keluarga Malik ikut turun tangan membantu mereka. Namun Icha sebagai wakil keluarga mengatakan agar bersikap biasa saja tidak perlu canggung.


Para pria sudah kembali dari pemakaman. Mereka segera membersihkan diri dan menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh para tetangga Airil. Eneng menemani Airil didalam kamar. Dibalik senyum Airil, Eneng tahu betapa terluka hati Airil.


"Pah. Malam ya. Ini sudah mama bawakan". Eneng masuk kedalam kamar dengan membawa sepiring nasi.


"Kamu sudah makan sayang". Airil masih perhatian kepada Eneng walaupun saat ini dia sendiri sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Sudah. Ayo sini Eneng siapin Kang. Mengenang masa lalu. Hehehe". Eneng berusaha menghibur Airil. Airil tertawa mendengar Eneng menyebutnya seperti saat mereka sebelum menikah dan memiliki si kembar.


Dengan telaten, Eneng menyuapi Airil. Dan Airil begitu nyaman dan bahagia dengan perhatian Eneng yang sesederhana itu. Disela-sela makan, Airil kembali meneteskan air mata. Pertahanannya benar-benar runtuh dihadapan Eneng. Eneng meletakkan piringnya, dan segera memeluk sang suami.


"Sudah ya pah. Ayah sudah tidak sakit lagi disana. Ayah sudah bahagia. Papa jangan nangis lagi kasian ayah". Airil menangis dalam dekapan Eneng. Eneng mengusap lembut punggung sang suami.


"Makasih mah selalu ada disamping papa". Eneng mengangguk menjawab perkataan Airil. Eneng meminta Airil untuk beristirahat sebentar, karena Airil belum tidur dari menemani sang ayah hingga mengantarkan sang ayah ke peristirahatan terakhirnya. Awalnya Airil menolak, namun Eneng tetap memaksanya.


Eneng kembali memeriksa keadaan ibu mertuanya setelah memastikan sang suami lelap. Diruang keluarga, berkumpul keluarga besan Eneng, yang sedang membungkus beberapa bahan makanan mentah yang akan diberikan kepada warga sekitar usai tahlilan nanti.


Didalam kamar mertua Eneng sudah ada Icha dan juga Alea istri Iqbal. Ibunda Airil nampak sedang bercerita tentang suaminya kepada Icha dan Alea dengan air mata yang berlinang membasahi kedua pipinya. Icha dan Alea terus menenangkan ibunda Airil.


Ibunda Airil memiliki riwayat lemah jantung. Ibunda Airil masih sangat terpukul dengan kepergian pak Prasaja. Walaupun masih mau makan, namun sangat tampak snag ibu tidak memiliki semangat lagi.


"Ibu harus sembuh ya. Ibu harus kuat. Jangan sedih terus. Ayah sudah tidak sakit lagi sekarang. Katanya ibu mau temani Tania melahirkan. Jadi ibu harus sehat lagi". Airil terus memberikan semengat kepada ibundaya. Sang ibu hanya bisa merespon dengan senyuman dan gelengan lemahnya.


Semakin hari kondisi sang ibu semakin lemah. Bahkan hari ini ibunda Airil harus dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba tidak sadarkan diri. Airil terus menemani sang ibu. Airil takut jika harus kehilangan lagi dalam waktu dekat.

__ADS_1


Ibunda Airil dirawat dirumah sakit. Semua keluarga berdoa agar sang ibu baik-baik saja. Mungkin hanya terlalu lelah dan kurang vitamin saja. Itu anggapan dari Airil dan keluarganya.


Harusnya hari ini si kembar kembali ke kota, karena memang mereka hanya cuti satu Minggu. Namun melihat kondisi sang nenek yang masih berada dirumah sakit, si kembar meminta waktu tambahan untuk memperpanjang cutinya. Almeer yang paham segera mengatur ulang jadwal si kembar.


"Baby, maaf aku harus kembali. Sebentar lagi aku ujian dan sedang banyak kuis. Tadi teman aku mengirim pesan, agar aku segera kembali". Zee sedang meminta izin kepada Thian untuk kembali terlebih dahulu ke kota. Karena dia harus ujian.


"Iya baby. Tidak apa. Tapi kamu sama siapa nanti dirumah sayang". Thian khawatir karena keluarga Zee masih berada di Jogja.


"Bang Gara ikut pulang kok. Besok dia juga ada meeting dengan klien papi. Kebetulan Bang Gara gantiin papi. Papi masih disini". Jelas Zee kepada Thian agar tidak khawatir.


"Baiklah kalau memang seperti itu. Kakak merasa tenang sayang. Ingat jangan dekat-dekat sama cowok manapun selama kakak disini". Thian memang sangat posesif dan itu membuat Zee bahagia. Karena Zee sudah terbiasa mendapatkan sikap posesif dari 3 pangerannya sebelum bersama Thian.


"Beres bos". Zee memeluk Thian dari samping karena refleks. Thian berdehem mengingatkan Zee. Dan Zee hanya tertawa sambil melepaskan pelukan itu.


Zee segera mengemasi barang-barang miliknya. Dan memang sebelumnya Sagara sudah memesan tiket pesawat untuk mereka pulang malam ini. Zee dan Sagara menyempatkan diri untuk kerumah sakit dan berpamitan dengan Airil dan Eneng. Serta nenek Thian. Thian mengantarkan mereka ke bandara.


Mungkin memang ini yang nenek si kembar inginkan. Bersama dengan orang yang dia cintai selamanya. Ibunda Airil akhirnya menyerah. Beliau lebih bahagia menyusul sang suami. Entah bagaimana lagi Airil harus mengekspresikan perasaannya saat ini. Dia kehilangan dua orang cinta pertamanya dalam waktu berdekatan.

__ADS_1


Thian belum diberitahu jika sang nenek telah tiada. Dan begitu tiba dirumah sang nenek, Thian dikejutkan dengan para tetangga yang sedang memasang tenda seperti saat sang kakek tiada.


Fathan segera memeluk Thian. Dia membisikkan kepada Thian agar mengikhlaskan nenek. Berita nenek si kembar tutup usia segera tersebar di seluruh negeri. Wartawan segera memenuhi kediaman orangtua Airil.


__ADS_2