
"Thian. Abang masih penasaran deh. Sebenarnya loe kenal sama Delisha kan. Kenal dimana kalian". Tanya Arjuna penasaran.
"Gak ada bahasan lain bang". Jawab Thian ketus.
"Gak. Dimana kalian kenal". Tanya Juna lagi.
Thian tak menjawab apapun dan memilih pergi keluar rumah. Thian duduk di teras depan rumah sang nenek yang begitu asri karena pepohonan.
"Than. Adek loe kenapa sih. Tiap ditanya tentang Delisha langsung kabur". Tanya Arjuna kepada Fathan
"Kepo bang". Jawab Fathan.
"Ya elah punya adik dua gak ada yang pro. Hargailah gue sebagai Abang kalian". Ucap Arjuna penuh drama.
Fathan tetap fokus kepada buku bacaannya. Walaupun malam hari tapi suasana disekitar rumah nenek si kembar masih cukup ramai. Beberapa warung tenda masih membuka dagangannya dengan menu yang berbeda.
"Bos. Sendirian aja". Ucap Ono yang baru saja mendekati Thian.
"Darimana aja kalian. Tiap liburan ngilang sendiri". Tanya Thian.
"Namanya juga liburan bos. Ya jalan-jalan dong. Represing bos". Jawab Ono.
Ono duduk disamping Thian, sedangkan Kunkun asyik bertengger diatas pohon didepan rumah nenek Thian. Para warga masih banyak yang berlalu lalang walaupun hari menjelang malam.
"Bos, gak jalan-jalan. Malam gini biasanya pusat kota ramai loh bos". Tanya Ono.
"Besok aja. Masih capek". Jawab Thian.
Semenjak si kembar berlibur dirumah kakeknya, para anak gadis disekitar rumah sang kakek sibuk melakukan fashion show dadakan. Mereka sengaja mondar-mandir didepan rumah keluarga Prasaja hanya untuk melihat si kembar.
"Nih cewek lewat udah empat kali. Gak capek apa. Gue yang lihat aja capek". Ucap Kunkun dari atas dahan.
"Iya bener loe Kun. Dari tadi udah kayak setrikaan aja. Emang kurang halus apa ya tuh jalan". Balas Ono.
"Biarin aja. Ngapain juga kalian kepo". Jawab Thian.
"Sepet aja bos lihatnya". Ucap Ono.
"Gak usah dilihat". Jawab Thian.
Ono dan Kunkun saling pandang dan tersenyum mencurigakan. Ono berdiri dari duduknya dan berpindah tempat ke depan gerbang. Thian tak peduli dan tetap fokus dengan gamenya.
"Kun loe siap". Tanya Ono.
"Loe yakin No. Ntar bos marah loh". Jawab Kunkun.
"Tenang aja. Gue cuma mau iseng dikit aja kok". Jawab Ono.
Ono berdiri didekat pagar dan dia menyerupai wujud Thian. Berpenampilan seperti Thian. Beberapa remaja putri yang sedari tadi mencoba mencari perhatian dari Thian, bagaikan tertimpa durian runtuh melihat Thian berdiri di luar pagar.
"Masnya. Oe masnya kenalan dong". Teriakan dari beberapa remaja putri tersebut.
Ono menatap sekilas dan tersenyum. Karena senyum Ono itu membuat para gadis semakin salah tingkah. Kunkun menggelengkan kepalanya dan memilih menjauh setelah melihat kelakuan Ono yang diluar sifat Thian.
"Gue gak mau ikutan lagi. Gue gak mau diamuk bos". Ucap Kunkun sambil berpindah kembali keatas dahan pohon.
Ono hanya melirik dan melanjutkan aksinya. Ono berjalan perlahan menjauhi pagar. Setiap Ono berjalan selangkah, lampu penerangan jalan mati dengan sendirinya. Itu terus terjadi. Para gadis yang mengikuti Thian kawe mulai takut.
Thian yang asli mulai bosan dengan game diponselnya. Dia berjalan keluar rumah ingin membeli camilan diwarung ujung. Thian menengok kearah lampu yang tiba-tiba menyala sendiri dan sebagian mati.
"Ini lampu udah capek hidup apa ya". Ucap Thian.
Thian berjalan menuju warung jajanan. Thian merasa aneh dengan sosok yang berada tak jauh didepannya yang membuat lampu satu persatu mati.
__ADS_1
"Oh. Jadi gara-gara dia". Ujar Thian
Thian berjalan cepat dan langsung melepaskan sandalnya. Tak lama sandal itu sudah melayang mengenai Ono. Ono menoleh dan melihat sang bos berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Ono langsung menghilang itu membuat semua gadis yang mengikutinya kaget dan takut.
"Awas loe Markono. Gue kiloin beneran". Gumam Thian.
Thian terus berjalan menuju warung. Para gadis yang mengikuti Thian kawe kembali kerumah dengan rasa penasaran. Mereka bamsih bingung karena Thian tiba-tiba menghilang.
Thian kembali kerumah dengan membawa berbagai macam cemilan. Ono memilih bersembunyi karena takut dengan amukan sang bos. Thian melihat Kunkun sedang asyik diatas pohon.
"Mana Markono". Tanya Thian kepada Kunkun.
"Ada tuh bos ngumpet". Jawab Kunkun.
"Suruh keluar". Pinta Thian.
"Oke bos". Jawab Kunkun.
Thian menunggu diteras dan Kunkun sedang memaksa Ono keluar dari persembunyiannya. Thian mulai kesal karena Ono tak kunjung datang.
"Bilang ke Ono. Kalau gak mau keluar, jangan pernah keluar lagi selamanya". Ucap Thian.
Ono yang takut dengan ancaman Thian, terburu-buru untuk keluar dari persembunyiannya. Ono tersangkut disalah satu dahan pohon. Kunkun yang melihat partnernya tersangkut hanya tertawa tanpa mau menolong.
"Hahaha. Sukurin. Kualat kan loe". Ucap Kunkun.
"Bukannya bantuin malah ketawain. Dosa loe Kun". Jawab Ono.
"Jangan sampai Ono loe bantuin Kun. Biarin aja nyangkut gitu terus. Kalau perlu biar kering sekalian". Ucap Thian.
"Bos mah raja tega". Keluh Ono.
Thian berjalan masuk kedalam rumah. Fathan dan Juna masih didepan televisi. Thian berjalan menuju kamarnya. Juna yang melihat wajah Fathian kesal mencoba bertanya kepada Fathan.
"Kepo". Jawab Fathan sambil beranjak menyusul sang adik.
Juna melemparkan bantal sofa kearah Fathan yang berjalan didepannya. Karena sudah tidak teman lagi, Juna pun memutuskan untuk beristirahat. Esok Juna sudah mulai untuk kembali bekerja.
"Kun tolongin gue dong. Pegel ini". Keluh Ono.
"Ogah. Ntar gue ikut dihukum sama si bos". Jawab Kunkun.
"Bentaran aja Kun. Plis". Pinta Ono.
"Ogah". Jawab Kunkun.
Ono merengek dengan suara khasnya yang tidak dia kontrol. Dan suara itu dapat terdengar oleh telinga manusia biasa. Termasuk para warga yang sedang melakukan ronda malam.
"Kok saya merasa aneh ya udaranya malam ini". Keluh salah satu warga yang sedang ronda.
"Iya. Agak dingin hari ini". Jawab warga lainnya.
Mereka berjalan sambil memeriksa setiap rumah untuk tetap aman. Lima puluh meter sebelum rumah keluarga Prasaja, mereka mendengar rengekan Ono.
"Huuuuu. Hiiiiiii. Hiiii". Suara Ono.
Keempat warga yang sedang keliling menghentikan langkahnya dan mencoba mendengarkan lebih jelas lagi. Semakin mereka melangkah semakin jelas suara itu.
"Kalian dengarkan". Tanya salah satu petugas ronda pada kawannya.
"Iya. Saya kok jadi merinding ya pak". Jawab warga lainnya.
Mereka berjalan sambil berdempetan karena takut. Sedangkan didalam kediaman Prasaja hanya si kembar dan Kunkun yang bisa mendengar rengekan Ono.
__ADS_1
"Dek. Itu Markono kenapa". Tanya Fathan kepada Thian.
"Gak tau bang. Berisik banget dia". Jawab Thian.
"Iya. Gak bisa tidur dek. Suruh diam sana". Pinta Fathan.
Thian beranjak dari tempat tidurnya. Thian mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membuat Ono diam dan tidak merengek. Thian menemukan ketapel milik Arjuna. Dengan biji salak yang masih berserakan bekas Arjuna makan, Thian langsung membidik sasaran.
Pletak
"Aduh. Woy siapa yang berani nimpuk gue". Ucap Ono.
Ono tak sadar jika yang bisa melakukan itu hanya si kembar. Kunkun hanya terkikik saja melihat Ono kesakitan berkali-kali karena ditembak oleh Thian menggunakan biji salak.
"Diem loe. Berisik. Kalau loe masih merengek juga. Besok pagi gue kiloin loe". Ucap Thian.
"Ampun bos ampun". Jawab Ono.
Ono tidak berani merengek lagi setelah Thian mengancamnya. Suasana yang tadinya mencekam sudah kembali membaik. Thian dan Fathan kembali kealam mimpi.
"Kenapa gue kayak setan tiri ya Kun". Tanya Ono.
"Maksud loe gimana. Gagal paham gue". Jawab Kunkun.
"Ya kan kalau manusia yang gak disayang keluarganya disebut anak tiri. Lah kan gue setan jadinya setan tiri dong Kun". Jawab Ono.
"Suka-suka loe lah No bikin istilah". Ucap Kunkun.
Ono cemberut mendengar ucapan Kunkun. Kunkun duduk santai diatas dahan. Sedangkan Ono masih tersangkut dengan posisi kepala berada dibawah. Bergelantungan bebas diatas pohon.
"Langit. Bisakah engkau menurunkan bos baru untukku. Bos yang menyayangiku sepenuh hati". Ucap Ono sambil menatap langit.
Tak lama hujan turun dengan sangat derasnya. Ono kebingungan karena realitanya tak seperti ekspektasi. Wajah Ono basah kuyup karena hujan.
"Langit aku minta bos baru. Bukan hujan". Ucap Ono kembali.
Duarr
Petir datang menyambar dan mengenai salah satu dahan pohon lain yang tak jauh dari tempat duo KunNo berada.
"Loe diam aja deh No. Semakin loe ngomong yang ada semakin parah". Pinta Kunkun.
"Salah lagi. Salah lagi". Ucap Ono.
"Emang loe tempatnya salah dan dosa No". Jawab Kunkun.
"Kayak loe suci aja Kun". Balas Ono.
Kunkun tak menanggapi lagi omongan Ono. Wajah Ono semakin basah karena guyuran air hujan.
"Besok gue bisa masuk angin Kun. Butuh STMJ". Ucap Ono.
"Gaya loe STMJ". Jawab Kunkun.
"Emang loe tau apa kepanjangan STMJ Kun". Tanya Ono.
"Susu telur madu jahe. Gitu aja nanya". Jawab Kunkun.
"Sotoy. STMJ gue beda. Susah Tidur Mikirin Janda. Uhuy". Jawab Ono.
________
Maaf ya kalau gak menarik lagi ceritanya...
__ADS_1