
Hidup terus berjalan sebagaimana mestinya. Begitu juga kehidupan keluarga kecil Eneng. Kedua putra kembarnya semakin sukses dengan karirnya sebagai aktor. Tidak ada yang berubah dikehidupan mereka. Semua masih sama seperti dulu. Hanya saja disaat mereka ingin menghabiskan waktu untuk keluarga sekedar berkeliling mall, mereka mendapat pengawalan dari bodyguard yang disiapkan Almeer.
Almeer masih tetap setia dengan status jomblo akutnya. Sedangkan sang kakak Ameera sudah menikah dengan cinta monyetnya. Mereka sedang menunggu kelahiran Anggota baru keluarga Malik.
Tak lengkap rasanya jika keluarga Eneng tanpa kehadiran emak. Sudah hampir enam bulan lamanya emak kembali tinggal bersama Eneng dan mengikhlaskan rumah peninggalan sang suami untuk dijual. Usia emak yang semakin menua membuat Eneng khawatir jika harus berjauhan. Apalagi sang adik, Titi sudah tinggal jauh diluar ibukota bersama keluarga kecilnya. Titi bekerja dengan keluarga Ghaisan.
Walaupun usia emak sudah tak muda, namun jiwa muda emak masih membara. Rumah Eneng semakin ramai semenjak ada emak tinggal dirumah Airil. Ada saja ulahnya yang membuat kehebohan.
"Kalian jangan lupa ya besok ada fanmeet". Almeer mengingatkan si kembar untuk acara esok.
"Bang. Gue datang agak telat. Gue masih ada pemotretan". Jawab Fathan. Fathan dan Fathian sudah sering mendapat job terpisah.
"Iyakah. Bukannya besok loe gak ada jadwal. Gue udah kosongin loh". Almeer mencoba mengingat kembali jadwal kerja Fathan.
"Coba Abang cek lagi. Di agenda gue ada pemotretan. Bang Dion juga udah chat gue tadi ngingetin besok ada pemotretan". Jelas Fathan kembali.
Almeer masih membuka buku agenda berisi jadwal si kembar. Perlahan Almeer membaca kembali jadwal untuk si kembar.
"Ya Allah. Kok gue bisa salah gini sih. Waduh ini gak bisa dibatalin lagi. Maafin Abang. Abang gak periksa ulang jadwal loe than". Almeer berkata dengan penyesalannya.
"Terus gimana bang. Gapapa kan gue telat bentar. Apa jadwal fanmeet yang diundur bang". Fathan mencoba memberi solusi.
"Kalau acara fanmeet gak bisa diundur than. Kan setelah fanmeet kita ada nobar. Hmm. Ya udah loe datang telat aja gapapa. Daripada gak datang sama sekali". Keputusan terkahir yang diambil Almeer.
"Oke bang. Ya udah gue balik dulu. Gak ada yang dibahas lagi kan". Ucap Fathan.
"Gak ada udah beres semua. Loe balik sendiri". Tanya Almeer kepada Fathan yang sudah beranjak dari kursinya.
"Iya. Gue bawa sopir hari ini. Thian balik malam hari ini". Jawab Fathan sambil berlalu pergi.
Fathan berjalan keluar dari ruangan Almeer diikuti bodyguard ghaibnya yang selalu setia. Fathan masih sama. Tidak bisa berdekatan dengan perempuan, begitupun Almeer. Sikap dingin keduanya pun juga tidak ada perubahan. Dan itu semakin membuat para kaum hawa penasaran.
Sudah beberapa hari Fathan tidak bertemu Thian. Karena Thian sedang berada diluar kota. Walaupun raga mereka terpisah, jiwa mereka tetap satu. Baik Fathan maupun Thian selalu bertukar kabar setiap waktu. Seperti saat didalam perjalanan pulang, Fathan mengirim pesan kepada adiknya. Dia menanyakan kapan Thian akan sampai. Karena Thian mengirim pesan kepada Fathan. sedang dalam perjalanan pulang.
"Bos Thian sudah sampai mana bos". Tanya Kunkun.
"Masih jauh. Paling dua jam lagi baru sampai". Jawab Fathan sambil memejamkan matanya. Dia begitu lelah hari ini.
Ponsel Fathan berdering menandakan pesan masuk. Fathan memeriksa ponselnya. Pesan dari Oma tercintanya. Meminta Fathan membelikan cemilan.
"Pak Han. Nanti mampir taman kota dulu bentar. Saya mau beli sesuatu buat Oma". Pinta Fathan pada sopir pribadinya.
"Ya mas. Mau beli cilok lagi mas". Tanya pak Han.
"Iya. Heran saya kenapa Oma gak bosan makan itu terus. Udah badan bulat makannya cilok. Gak tambah bulat tuh" Ucap Fathan sambil kembali menyenderkan punggungnya. Terdengar suara gelak tawa sang sopir dan kunkun.
"Oma itu masih sangat energik ya mas. Padahal usianya gak muda lagi. Salut saya". Ucap pak Han sambil tersenyum.
"Itu mah bukan energik pak. Tapi over. Gak bisa diam". Fathan menjawab sambil terpejam.
"Kemarin kenapa Oma ngambek mas. Saya lihat Oma duduk didekat jendela sambil mainan sama Jero". Pak Han bertanya sambil tetap fokus menyetir.
"Habis diomelin papa. Oma disuruh diet. Biar badannya tetap sehat. Oma sih didepan muka mama sama papa manut. Dibelakang dia udah nyimpen amunisi. Dan dimakan diam-diam. Kemarin ketahuan papa. Snacknya diambil papa semua. Terus ngambek". Jawab Fathan sambil tertawa mengingat kelakuan Oma.
__ADS_1
"Hahaha. Pantes duduk didekat kandang Jero. Saya dekatin, malah ngusir saya kemarin". Pak Han pun ikut tertawa.
"Oma itu emang gitu. Kapan itu pernah papa sama Mama ngasih menu makanannya diganti sayuran semua. Oma malah bilang. Huh udah gak ada bedanya sama sapi. Padahal sapi makan dedaunan tiap hari gak bikin kurus malah tambah gede". Fathan tertawa mengingat jawaban Oma. Pak Han pun ikut tertawa.
Mereka sudah berada di taman kota. Banyak penjaja makanan disana. Pak Han turun untuk membelikan makanan pesanan Oma. Fathan menunggu didalam mobil bersama Kunkun. Saat Fathan sedang asyik memejamkan matanya. Pintu mobil bagian belakang terbuka. Fathan terkejut karena ada seorang gadis tiba-tiba masuk dan bersembunyi.
Fathan menegakkan badannya dan menatap tajam gadis itu. Kunkun sudah siap siaga. Fathan masih menahan Kunkun. Diluar mobilnya terlihat beberapa pria sedang berlarian.
"Ehem". Fathan berdehem saat sang gadis sedang melihat kearah luar.
Gadis itu menoleh kearah Fathan. Fathan masih menatap gadis itu dengan tatapan sangat tajam. Mendapat tatapan mengerikan, sang gadis memohon maaf kepada Fathan.
"Maaf kak saya lancang masuk kedalam mobil kakak. Tapi saya mohon tolong saya. Saya takut kak". Ucap sang gadis dengan wajah takut dan gugupnya. Dia sesekali melihat kearah keluar mobil.
Pak Han kembali setelah membeli jajanan. Pak menoleh kebelakang dan terkejut dengan sosok lain yang tiba-tiba sudah duduk disamping Fathan.
"Kamu siapa. Kenapa bisa masuk mobil ini". Tanya pak Han kepada gadis tersebut.
"Maaf pak. Tolong saya pak. Saya takut". Gadis itu masih saja tetap melihat kearah keluar mobil dengan ketakutan. Setiap beberapa pria yang melintas dia menundukkan badannya bersembunyi.
"Kami ti..." Perkataan pak Han terpotong dengan ucapan Fathan.
"Jalan saja pak". Fathan meminta pak Han melajukan kendaraannya.
Fathan duduk menjauh dari sang gadis. Gadis itu masih saja melihat keluar mobil. Nampak jelas dia begitu ketakutan. Jarak mereka sudah cukup jauh dari taman kota. Gadis itu meminta turun.
"Pak saya berhenti diperempatan depan saja". Gadis itu menunjuk tempat dimana dia minta diturunkan.
Pak Han menepikan mobilnya. Sebelum turun gadis itu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih karena mereka mau menolongnya.
Pak Han kembali menjalankan kendaraannya. Fathan sempat menoleh kearah bis itu melaju. Ada sedikit rasa penasaran dalam benak Fathan mengenai gadis itu.
"Mas. Sepertinya anak tadi sedang ketakutan"
Ucap pak Han membuyarkan konsentrasi Fathan.
"Iya pak. Semoga dia baik-baik saja pak". Fathan mendoakannya sambil kembali terpejam.
Saat Fathan tiba dirumah, terdengar keributan dari dalam. Suara sang mama dan Omanya saling bersautan. Dan kepanikan dari beberapa penjaga dan pelayan dirumah mereka membuat Fathan heran.
"Ada apa ini". Tanya Fathan kepada salah satu penjaga rumahnya.
"Itu mas Oma" Jawab sang penjaga panik.
"Oma kenapa". Fathan mulai panik dan berlari kedalam rumah.
Teriakan didalam rumah semakin membuat Fathan panik. Pak Han pun mengikuti Fathan masuk kedalam rumah.
"Ada apa ini". Ucap Fathan lantang.
"Oma mas. Tolongin Oma". Jawab salah satu pelayannya.
Fathan berlari menuju kamar sang Oma. Suara teriakan sang mama terdengar kencang. Fathan terdiam mematung didepan pintu kamar sang Oma. Begitupun pak Han dan Kunkun.
__ADS_1
"Buahahahahha. Astaghfirullah Oma". Tawa Fathan meledak begitupun Kunkun dan pak Han setelah melihat Oma.
"Dasar cucu nakal. Cepet bantuin Oma. Malah ketawa". Oma kesal dengan Fathan yang masih saja tertawa.
"Kok bisa sih Oma". Fathan berjalan mencoba ikut membantu sang Oma.
"Ya bisalah. Salah sendiri beli barang murahan. Jadi gini kan. Oma kejepit. Tolongin napa. Ketawa terus". Oma masih saja mengomel.
"Bukan murahan. Dasar Oma aja gak bisa diam. Sebenarnya Oma nyari apa sih kok sampai kejepit gini". Tanya Fathan sambil menarik Oma yang terjepit dibawah ranjang.
"Oma kamu mau ambil cemilan yang disembunyikan dibawah kolong tuh. Tapi malah kejepit. Karma itu. Dibilangin anaknya gak manut". Eneng menolong sang ibu sambil mengomel.
"Eh loe neng dosa ngomelin emak sendiri". Emak tak kalah garang dengan Eneng.
"Emak juga dosa. Udah boongin anak sendiri. Katanya udah gak ngemil. Itu apa dikolong". Eneng pun tak mau mengalah.
Hampir setengah jam mereka berusaha menarik Oma dari kolong ranjang. Beberapa penjaga ada yang mencoba mengangkat ranjang. Dan beberapa membantu Fathan menarik Oma agar bisa keluar. Usaha mereka tak sia-sia. Oma bisa dikeluarkan namun ranjang baru Oma sedikit rusak.
"Huh akhirnya keluar juga putri duyung kita ini". Ucap Fathan sambil terengah karena kelelahan.
Oma masih duduk bersender didinding mengatur nafasnya. Eneng langsung bergerak cepat memunguti snack Oma yang berserakan. Dengan tetap mengomel.
"Ini Eneng sita. Awas aja kalau emak kembali nyembuyiin cemilan lagi. Eneng gak kasih uang jajan. Dan mulai hari ini gak ada titip jajanan kesemua penghuni rumah ini. Dan kalian semua termasuk Abang, jangan belikan Oma cemilan lagi. Atau nanti mama hukum". Eneng sudah mengeluarkan tatapan mautnya membuat Fathan tertunduk patuh.
"Neng. Satu aja tinggalin buat emak. Pait nih mulut". Pinta Oma kepada Eneng.
"Oh mulut emak pait. Eneng masakin tumis pare mau". Jawab Eneng.
"Kok tumis pare sih neng. Kan pait banget tuh". Jawab emak sambil bergidik.
"Kan kata orang. Kalau hidup kita terasa pahit, makan yang pahit-pahit. Biar jadi manis". Jawab Eneng sambil berlalu pergi.
"Ya elah neng. Tega amat sama emak sendiri". Oma tak mau kalah. Masih berusaha membujuk Eneng.
Fathan beranjak dari duduknya. Fathan berpamitan kepada sang Oma. Dia ingin beristirahat. Fathan sengaja memanasi keadaan saat ini.
"Than. Mana pesanan Oma". Oma berkata sedikit berbisik agar Eneng tak mendengar.
"Oh ada Oma. Bentar Fathan ambil. Fathan keluar mengambil bungkusan cilok pesanan Oma. Namun bukan memberikan kepada sang Oma, Fathan memakannya didepan sang Oma.
Fathan berdiri didepan sang Oma sambil memegang piring dan garpu. Wajah Oma nampak berbinar melihat apa yang cucunya bawa. Dan wajah itu berubah seketika setelah melihat apa yang Fathan lakukan dihadapannya dan Eneng pun ikut andil.
"Oma. Hemm enak banget. Mantap jiwa. Sambalnya huhhhhh lezat bener". Fathan memasukan satu butir cilok kedalam mulutnya. Oma masih diam melotot memperhatikan Fathan.
"Bener banget bang. Bikin nagih ini. Sedap bener ciloknya bang. Hummm". Eneng mengikuti gaya sang putra. Itu membuat Oma semakin kesal.
"Siniin itu punya Oma". Oma berusaha berdiri merebut cilok tersebut dari Fathan. Namun ditahan oleh Eneng.
"Oh tidak bisa. Ini milik kami. Hemmm lezat bener. Ya gak bang". Eneng semakin memanasi keadaan. Fathan dan Eneng berjalan meninggalkan kamar Oma sambil tetap memamerkan kelezatan cilok tersebut. Oma yang kesal pun berteriak.
"Sungguh tega kalian dengan wanita tua ini. Hiks hiks tega. Teganya kalian". Ucap Oma sambil menampakkan wajah sendunya berharap mereka luluh. Fathan dan Eneng kompak menjawab aksi emak yang diikuti gelak tawa para pelayan dirumah Airil. Yang sudah sangat paham dengan sifat Oma.
"Drammaaa". Ujar Fathan dan Eneng kompak.
__ADS_1
___________
Perlahan akan author selesaikan ini gesss ..