Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Harap Bersabar


__ADS_3

2 Tahun Kemudian...


"Elfino..Duh Gusti". Eneng sudah berteriak sekencang mungkin. Melihat salah satu cucunya kembali berulah.


"Ada apa mah. Kok sampai belakang suara teriakannya". Airil berlari menemui sang istri karena khawatir mendengar suara teriakannya.


"Noh si es Pino berulah". Airil melihat kearah dimana cucunya berada.


"Ya Allah. Fino sayang kamu ngapain nak". Airil mendekati Fino yang sedang asyik bermain dengan sesuatu.


"Oton ambut opa". Dengan suara cedak Fino menjawab Airil. Walaupun usianya masih dua tahun, si kembar Fino dan Fano sudah bisa berbicara.


"Aduh nak, darimana kamu dapat gunting. Moi kenapa kamu gak pergi sih. Untung gak digigit". Airil perlahan mengambil gunting dari tangan Fino. Dan menyimpannya ditempat aman. Sedangkan sang korban hanya bisa tertidur pasrah.


"Fino, sekarang ikut Oma ya. Kita cuci tangan terus makan Snack". Jika mendengar makanan Fino selalu semangat.


"Ote Oma". Fino segera beranjak dan segera menggandeng tangan Eneng menuju dapur. Sedangkan Airil membersihkan bulu-bulu kucing kesayangannya yang menjadi korban Fino.


"Moi. Yang sabar ya. Nanti juga tumbuh lagi tuh bulu". Airil mengajak bicara Moi yangasoh tergeletak dilantai.


"Meong". Jawaban singkat dari Moi. Moi adalah korban kejahilan Fino. Dua hari yang lalu warna bulu Fino berubah. Dari putih menjadi abu. Karena Fino membawa serbuk hitam entah darimana. Fino memandikan Moi menggunakan itu. Hingga saat ini, warna bulu Moi belum kembali.


Airil keluar membuang bulu Moi. Dan dia dikejutkan dengan Elfano yang sudah berendam dalam kolam ikan koi miliknya. Dan kini giliran Airil yang berteriak.


"Ya Allah Fano. Ikan opa". Eneng berlari sambil menggendong Fino menuju kearah Airil.


"Kenapa pah". Airil sudah berjongkok disamping kolam ikan kesayangannya. Dan Eneng tertawa melihat sang suami yang meratapi koi kesayangannya.

__ADS_1


"Opa. Opa. No beledam ma itan. Itannya bobok opa". Beberapa ekor ikan koi Airil sudah terkapar melayang terbang ke angkasa.


"Ikan ikan ku". Airil mengambil ikan-ikan yang sudah tak bernyawa lagi. Memindahkan dalam wadah disamping kolam.


"Fano sayang. Ayo sudah berendamnya. Nanti masuk angin. Sebentar lagi papa jemput loh. Nanti kena omel papa". Airil membujuk Fano untuk segera keluar dari kolam ikan. Agar tak banyak ikan menjadi korban.


"Ote opa. Itan Ano pulan ulu. Ecok ita ain agi ya". Airil hanya bisa menghela nafas saja mendengar perkataan Fano. Airil melepas baju Fano dan segera membawanya ke kamar mandi.


Elfano dan Elfino sering berada dirumah kakek Dimas ataupun opa oma Prasaja jika kedua orangtuanya bekerja. Mereka tidak mengijinkan Fathan dan Melody memakai jasa baby sitter. Tak hanya dirumah Prasaja, dirumah ayah Melody pun si kembar El juga suka membuat rusuh. Mereka berbanding terbalik dengan sifat dan sikap kedua orangtuanya.


Sedangkan Thian dan Zee sedang berbahagia karena kehamilan Zee. Setelah menunda dia tahun lamanya, Zee akhirnya memutuskan untuk melakukan program kehamilan. Dan usia kandungan Zee masih empat bulan. Thian sangat protektif sekali. Dan Thian lebih sering menemani Zee dikantornya daripada dia berada dikantor miliknya sendiri.


"Papi". Suara panggilan manja Zee dan Thian tahu betul jika Zee sedang dalam mode mengidam.


"Mami mau apa". Mata Thian tetap fokus melihat kearah laptopnya saat bertanya kepada Zee.


"Iya. Apa mami". Thian mencoba tersenyum. Namun dalam hati dia berdoa gara kali ini permintaan Zee tidak aneh-aneh.


"Tahu gejrot". Thian tersenyum sumringah. Karena itu mudah didapat.


"Oke. Papi akan belikan untuk mami. Ada lagi yang mami mau". Thian sudah bersiap akan membelikan permintaan Zee.


"Tapi Pi". Mendengar kata ajaib itu, semangat Thian sedikit meredup berganti dengan rasa takut.


"A-apaa Mi". Thian bertanya dengan suara pelan. Dan Zee masih tersenyum sambil menerawang kearah langit-langit ruangannya.


"Tahu gejrotnya pake saos durian. Terus yang jualan harus berkumis. Satu lagi. Ukuran tahunya harus simetris. Gak boleh mlencong. Oke papi". Thian menelan ludahnya. Membayangkannya saja dia sudah tidak mampu.

__ADS_1


"Si-si-siap mami". Dengan suara terbata Thian menyetujui permintaan Zee. Menolak permintaan Zee atau bernegosiasi adalah hal yang sangat tidak dianjurkan.


Thian segera keluar dari ruangannya. Dia menuju ruangan asisten Zee, agar Metha menemani Zee diruangannya. Thian juga menghubungi Alan. Thian juga meminta Alan membawa penggaris. Mereka akan bertemu dipusat kuliner tak jauh dari kantor Zee.


Thian sudah tiba terlebih dahulu dipusat kuliner. Dia menunggu Alan didalam mobil. Setelah beberapa menit menunggu, Alan segera menuju mobil Thian. Mereka masuk kedalam pusat kuliner dan segera mencari penjual tahu gejrot.


"Jadi gini Lan. Zee ngidam...". Thian menjelaskan permintaan Zee. Alan seketika melemas. Ini bukan pertama kalinya Alan membantu Thian menuruti permintaan Zee.


"Bisa gak kalau ngidam itu jangan aneh-aneh. Kemarin minta nyium kepala orang botak, habis itu kepalanya dijitak. Untung orangnya baik. Gak kena marah. Sebelumnya minta sate daging. Daging impor yang disembelih sama bule. Terus bulenya harus gondrong matanya gak boleh biru. Besok apalagi si bos. Lama-lama saya pulang kampung saja bos. Lelah saya". Thian tersenyum mendengar ocehan Alan. Karena dia saksi seperti apa keanehan ngidam Zee.


"Sabar ya Lan. Sebulan ini aja kok. Eh gak nyampe tinggal beberapa hari lagi deh". Thian mencoba membujuk Alan.


"Alasan. Bukan kemarin juga bilang gitu. Lagian pas jaman mbak Melody ngidam, normal aja deh bos. Ini kok absurd banget". Thian pun merasa demikian. Karena beberapa kali Thian dan Alan juga membantu menuruti ngidam Melody. Dan semua normal.


"Sudah jangan ngomel. Ayo buruan kita laksanakan misi penyelamatan dunia ini". Alan memincingkan matanya melihat kearah Thian.


"Dunia bos kali gak akan selamat kalau ngidamnya gak sesuai. Tuh Juno bisa puasa sampai satu tahun". Thian memukul bahu Alan pelan. Dan berdecak.


Mereka menemukan penjual makanan yang Zee mau, tapi tidak sesuai dengan kriteria Zee. Alan tahu apa yang harus dia lakukan. Sedangkan Thian mencoba bernegosiasi dengan sang penjual agar ngidam sang istri terlaksana. Dengan membayar lebih, sang penjual mau menuruti permintaan Thian.


Semua proses pembuatan tahu gejrot spesial, Alan abadikan dengan ponsel Thian. Sedangkan Thian pergi membeli makanan lain untuk dirinya, Alan dan Metha. Karena waktu sudah mendekati jam makan siang.


Apa yang dimau Zee sudah terlaksana. Alan kembali ke kantor Thian, karena Thian mempercayakan perusahaannya kepada Alan selama dia menjaga Zee dikantor Zee. Dan Thian kembali dengan bahagia ke kantor Zee.


Saat tiba diruangan Zee, Thian melihat Zee sedang menonton film kartun bersama Metha. Thian berdehem pelan, Metha segera undur diri dari ruangan Zee, karena tugasnya sudah selesai. Tak lupa Thian memberikan makan siang yang sudah dibelinya untuk Metha.


"Mami silahkan makan". Thian membuka bungkusan makanan khusus untuk Zee. Wajah Zee berbinar melihat apa yang dimauinya ada dihadapan mata.

__ADS_1


"Ah papi memang terbaik". Zee makan dengan lahap. Thian yang memperhatikan Zee sedan makan merasa penasaran dengan rasanya. Namun dia tidak berniat untuk mencoba. Dari baunya saja, Thian merasa itu akan tidak baik untuk dia coba


__ADS_2