Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Almeer Numpang lewat


__ADS_3

"Kangmas. Ayo kita makan". Shabila memanggil Almeer yang sedang bersiap dikamar. Almeer sangat malas menanggapi panggilan Shabila.


"Kok diam aja sih. Sariawan ya. Bentar Bila ambilin obat". Almeer hanya bisa menghela nafasnya saja. Sampe saat ini Almeer bingung. Shabila itu cerdas. Tapi kenapa dia seperti alien.


"Oh drama apalagi ini Ya Allah". Almeer berjalan gontai keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Shabila datang membawakan obat sariawan untuk anak-anak yang memiliki warna biru keunguan. Almeer memegang tangan Shabila saat akan meneteska obat itu dibibirnya.


"Stop. Saya tidak sariawan Shabila". Bila hanya mengangguk saja. Shabila mengambil piring Almeer dan mengisinya dengan makanan lalu dia letakkan kembali diatas meja.


"Kangmas Bil..". Belum sempat Shabila meneruskan perkataannya, Almeer sudah memotongnya.


"Bisa gak panggilnya biasa aja. Kita hidup bukan dijaman Majapahit. Plis deh". Almeer sudah berulangkali meminta Shabila mengganti panggilan itu. Namun Shabila tetap mengulangi lagi.


"Terus mau dipanggil apa. Om lagi mau". Almeer berdecak pelan. Karena itu jawaban yang selalu didapat Almeer jika dia meminta Shabila mengganti panggilannya.


"Kan bisa lainnya lagi. Kita udah nikah. Bahkan udah ajup-ajup. Masih aja manggil gutu". Shabila terdiam sesaat saat Almeer berbicara.


"Bentar deh. Emang kita ajup-ajup. Kapan". Almeer menepuk dahinya. Dia lupa kalau istrinya ini terkadang suka lupa menaruh dimana ingatannya itu.


"Coba ingat deh. Yang malam-malam mandi keringat bareng. Sambil kamu terus manggilin nama aku". Shabila meletakkan sendoknya dan mengingat apa yang Almeer katakan. Tiba-tiba Shabila berdiri dan berpindah ke samping kursi.


"Oh yang gerakannya maju mundur kayak gini bukan". Shabila mempraktekkan apa yang diingatnya. Almeer tersedak makanan yang sedang dia makan.


"Woy jangan dipraktekon juga kali. Hadeh Shabila. Duduk. Habisin makanan kamu". Shabila hanya tersenyum dan kembali ketempat duduknya. Dia melanjutkan sarapan pagi itu.


"Ingat ganti panggilan itu. Jangan kangmas ataupun kanda. Kamu boleh panggil saya apapun asal bukan dua panggilan itu". Almeer kembali mengingatkan Shabila agar dia tidak lupa.


"Hem. Nanti Bila pikirin". Usai sarapan, mereka segera ke kantor. Almeer selalu mengantarkan Shabila jika dia tidak ada keperluan dipagi hari.


"Hmm gimana. Bila mau panggil honey aja gimana". Setelah cukup lama tidak ada suara didalam mobil, Shabila mengatakan sudah menemukan panggilan untuk Almeer.


"Bagus. Aku suka itu sayang. Dan aku akan memanggilmu sayang gimana". Shabila mengangguk semangat untuk menjawab Almeer.


Almeer memang mulai perlahan membuka hati untuk Shabila. Mereka sama-sama sedang penyesuaian. Apalagi Almeer baru mengetahui seperti apa Shabila yang sesungguhnya. Banyak kejutan yang Almeer dapat dari Shabila. Shabila benar-benar unik. Dan Almeer selalu menyebutnya Alien.


Sejak kejadian malam pertama yang membuat Almeer tersakiti hingga ngilu sepanjang hari, membuat Almeer lebih berhati-hati jika dia menginginkan haknya sebagai suami. Karena jika Shabila terkejut, bisa dipastikan esok pagi Almeer akan merasakan ngilu sepanjang hari. Pusakanya mendapatkan tendangan halilintar dari Shabila.


"Hon. Kita udah nikah kan delapan bulan. Kok aku belum hamidun juga ya". Shabila memang ingin segera memiliki keturunan agar dia bisa segera keluar dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga.


"Ck. Gimana mau cepat berhasil. Setiap Juno keluar sarang kamu kasih tendangan halilintar". Shabila menoleh kearah sang suami yang sedang menyetir.


"Juno siapa hon. Kok aku baru dengar namanya. Terus kapan aku nendang si Juno itu. Kok aku gak ingat. Ganteng gak si Juno". Almeer kembali menghembuskan nafas. Almeer lupa kalau dia belum memberi tahu Shabila siapa Juno.


"Kamu mau kenalan sama Juno sayang. Bukannya kamu sudah kenalan. Bahkan kena tendang beberapa kali. Masa lupa". Shabila diam mengingat siapa yang doa tendang. Shabila kembali duduk menghadap suaminya.

__ADS_1


"Kalau seingat Bila, yang Bila tendang akhir-akhir ini cuma si Otong punya kamu hon. Terus Juno yang mana". Mendengar nama kerennya diganti oleh Shabila, mulut Almeer hanya melongo.


"Ya kok Otong sih sayang. Udah kerenan namanya Juno. Diganti Otong juga. Dia produk campuran loh sayang bukan lokal". Shabila melirik kearah satu titik setelah mengerti maksud Almeer.


"Oh jadi nama dia Juno. Keren banget namanya. Hai kita kenalan lagi ya Juno". Tangan Shabila refleks diletakkan dimana Juno berada dan sedikit dia usap. Almeer terkejut. Beruntung lampu lalu lintas sedang berwarna merah.


"Sayang stop. Bisa bahaya kalau dia bangun kamu usap gitu". Almeer memegang tangan Shabila dan memindahkan keatas pahanya.


"Ya tinggal ditidurin lagi kalau bangun kok susah". Shabila memukul Juno dengan tas yang dibawanya. Almeer pun sedikit berteriak.


"Aduh kok dipukul sayang. Sakit tau". Almeer sedikit meringis saat Shabila memukulnya.


"Habis aku tanya apa kamu jawab apa hon. Mesum banget". Protes Shabila kepada Almeer.


"Lah kan benar sayang. Gimana mau cepat hamidun. Tiap Juno mau masuk sarang udah kena tendang duluan. Lemes bestie". Almeer kembali menjelaskan kepada Shabila jawaban dari pertanyaannya.


"Makanya jangan suka ngagetin. Ku jadi refleks. Tiba-tiba tuing kayak pentungan. Besok lagi pelan-pelan aja keluarnya". Almeer tertawa terbahak mendengar keluhan Shabila. Almeer tak menyangka dibalik kelemotannya, Shabila cukup mesum dan barbar.


Almeer sudah sampai diperusahaan tempat Shabila bekerja. Sebelum turun seperti biasa Shabila akan mencium tangan Almeer. Dan Almeer akan mencium kening Shabila. Dan ada satu rahasia Shabila. Jika dia dicium maka akan terdengar suara cegukan.


Shabila masuk ke perusahaan dalam keadaan masih cegukan. Almeer pun hanya bisa tertawa. Almeer segera berangkat menuju kantornya. Dan siang ini jadwalnya cukup padat.


Satria selalu setia menggoda Almeer. Karena sudah terbiasa dengan olokan Satria, Almeer hanya diam saja tak membalas. Setelah delapan bulan menikah, baru kali ini ada berita tak enak tentang Almeer. Salah satu kantor berita online menulis tentang Almeer dan Theana.


"Apa-apaan ini. Berita tak berbobot". Satria tertawa begitu juga Almeer. Tapi mereka lupa jika Shabila belum mengetahui siapa Theana. Drama pun kembali dimulai. Almeer mendapatkan pesan dari sahabat Shabila yang satu kantor dengan Shabila. Dia mengatakan jika Shabila menangis dan pingsan setelah mendengar gosip itu.


Sesampainya dirumah Almeer sudah ditunggu dokter pribadi Malik, yang sempat dia hubungi saat dalam perjalanan. Shabila hanya shock saja. Dan tak lama diapun sadar.


"Sayang. Kamu gapapa kan". Almeer begitu khawatir dengan keadaan Shabila. Shabila kembali menangis kencang. Satria pun ikut panik.


"Kamu jahat. Jahat. Apa kurangnya aku kangmas. Apa karena si teh anget punya semangka yang gede-gede. Tapi kata kangmas semangka Bila juga bisa gede kalau sering dimainin sama kangmas. Huahhh". Satria dan Almeer speechless mendengar Omelan Shabila. Dan itu masih berlanjut.


"Huaah. Pokoknya aku mau ketemu sama si teh anget itu. Aku mau bilang. Lebih hot mana aku sama dia kalau pas ajep-ajep. Tega kamu kangmas ngasih Otong sama si teh anget. Gak rela aku gak rela. Huahhhh". Satria masih diam mencerna. Almeer pun sama. Dia masih belum bisa menyadari apa yang sedang dikatakan sang istri.


Dalam berita itu memang tertulis. Jika Theana pernah tinggal bersama dengan Almeer diapartem Almeer karena ada beberapa foto yang menunjukkan Theana masuk ke apartemen Almeer dan tidak keluar lagi.


"Apa masih kurang gayanya Shabila. Dari nganan ngiri, atas bawah sampe nyungsep. Nung....". Almeer menutup mulut sang istri sebelum semua rahasia dapurnya dibongkar. Satria menahan tawanya. Dan memilih untuk menunggu Almeer diteras depan.


"Sial. Bisa rusak otak gue. Gila istri si Al kalau ngamuk bongkar semua rahasia pabrik". Satria tertawa terbahak mengingat semua perkataan Shabila.


Setelah tiga puluh menit Almeer pun keluar menemui Satria yang masih setia menunggu. Almeer duduk lemas disamping Satria yang sedang menertawainya.


"Sabar ya kang. Terus loe mau ngapain sekarang". Satria iba juga geli melihat wajah Almeer yang sangat kusut.


"Bawa si Theana kesini. Biar Shabila tau siapa Theana. Gue udah jelasin dia gak percaya. Pusing pusing. Gak nyangka bisa kayak gini". Keluh Almeer kepada Satria. Satria semakin tertawa. Dia juga sedang menghubungi Thian untuk bersiap bertemu kakak iparnya.

__ADS_1


"Gue udah kirim pesan ke Thian. Katanya baru bisa kesini besok. Dia hari ini sibuk". Almeer mengangguk pelan. Dia menyenderkan tubuhnya dikursi.


"Loe gak minta tolong ayah jelasin apa. Kan ayah juga tau tentang Theana". Almeer berdecak mendengar perkataan Satria.


"Loe lupa ayah gue gimana. Kalau mode jokernya keluar. Yang ada habis gue. Bukan didamaikan malah ditambah rusuh". Satria tertawa mengingat sifat Arash yang memang suka membuat Almeer menderita. Bahkan sejak gosip itu muncul, Arash hanya mengirimkan pesan berisi emoticon tertawa.


Malam hari, Shabila tidak ingin tidur bersama Almeer sebelum dia bertemu dengan Theana. Almeer hanya pasrah. Dia tidur dikamar tamu. Tak lupa dia terus meneror Thian. Agar segera datang kerumahnya. Thian memang baru diluar kota karena pekerjaan. Dan malam ini dia berusaha pulang malam ini juga.


Suasana pagi ini masih sama. Shabila mendiami Almeer. Almeer juga hanya bisa diam. Karena jika Almeer bersuara, Shabila akan memukulnya. Almeer masih terus menghubungi Thian agar masalah ini selesai.


Tepat pukul sepuluh, bel pintu rumah Almeer berbunyi. Almeer segera membuka pintu rumahnya. Shabila mengikuti dari belakang. Theana sudah datang dan dibelakang diikuti Zee dan kedua orangtua Almeer tak lupa Satria.


"Selamat pagi sayang". Thian memerankan aksinya sebagai Theana. Dia bahkan sengaja memeluk dan mencium pipi Almeer didepan Shabila. Almeer terkejut dengan ulah Thian yang tidak ada diperjanjian.


"Apa-apaan sih loe. Gue masih normal gak doyan terong burik". Almeer mendorong tubuh Thian untuk menjauhinya. Namun Thian kembali beraksi mesra.


Shabila berbalik badan dan pergi dari tempat itu. Almeer berfikir jika Shabila akan menangis didalam kamar. Namun dugaan mereka salah. Shabila kembali dengan membawa sapu lidi besar.


"Dasar ganjen. Enak aja cium-cium suami saya. Kamu kira saya takut sama kamu. Sini kamu. Sini". Thian menghindari Shabila yang sedang mengamuk. Shabila terus mengejarnya sambil membuka dengan sapu. Shabila berhasil menarik rambut palsu Thian. Dan Shabila berhenti saat mendengar suara lembut menjadi bariton.


"Ampun kak ampun". Shabila berhenti mengejar dan melihat wig ditangannya sambil melihat wajah Thian.


"Kok kayak kenal ya". Shabila berjalan pelan mendekati Thian untuk memastikan. Shabila terus mendekat dan tepat didepan wajah Thian.


"Astaghfirullah tobat Thian tobat. Kenapa kamu jadi kayak gini. Kasian Zee Thian kasian. Ya Allah kenapa adik hamba jadi seperti ini". Semua yang didalam ruangan itu terkejut dengan reaksi Shabila. Shabila berfikir jika Thian melenceng. Arash berharap akan terjadi pertempuran antara Thian, Almeer dan Shabila. Tapi nyatanya Shabila kembali menangis mengira Thian menyimpang.


Semua kembali menjelaskan kepada Shabila jika itu hanya rekayasa Almeer karena tidak ingin dijodohkan. Namun mereka lupa perempuan yang ditolak Almeer saat itu adalah Shabila. Dan Shabila lagi lagi menangis. Dan mengira jika Almeer lebih memilih cewek jadi-jadian ketimbang dirinya.


"Sayang bukan gitu. Aku masih normal. Kan kamu udah buktiin aku masih normal. Dan Theana dulu aku pakai karena aku memang belum kenal kamu sayang. Aku juga masih belum ingin menikah waktu itu". Perlahan Almeer mencoba menjelaskan lagi. Karena butuh perjuangan membuat Shabila mengerti.


"Lalu apa sampai sekarang kangmas masih tidak menyukai Shabila". Shabila kembali bertanya kepada Almeer tentang perasaan Almeer sesungguhnya.


"Aku menyayangi kamu. Jadi tolong jangan mengira yang tidak-tidak karena cuma kamu wanita satu-satunya". Mendengar bujuk rayu Almeer kepada Shabila, membuat Arash dan Satria serta Thian pura-pura muntah.


"Tapi kangmas benar-benar pria normal kan. Shabila gak mau dimadu. Apalagi madunya kaleng-kaleng. Bukan yang asli". Shabila menatap Thian tajam. Thian yang masih berbusana ala Theana hanya tersenyum tipis.


"Ya normal dong sayang. Kan kamu udah buktikan. Seperti apa normalnya aku". Otak random Shabila kembali muncul disaat yang tidak tepat untuk Almeer.


"Coba buktikan. Seperti apa normalnya". Almeer diam tak bisa menjawab. Sedangkan orang yang mendengar perdebatan mereka mulai menahan tawa kecuali Zee yang belum paham.


"Aduh ya jangan disini juga kali sayang. Masa kamu aku aset kesayangan kamu dilihat orang lain". Almeer membantah permintaan Shabila. Shabila hanya diam dan menatap Almeer.


"Emang kenapa. Biar semua juga tau kalau kamu itu beneran normal. Jangan sampai sekarang bilang normal, nanti lima menit kemudian berubah bentuk". Shabila terus membantah perkataan Almeer yang membuat Almeer semakin pusing. Akhirnya Almeer berbisik sesuatu yang membuat Shabila diam mengerti.


Shabila kembali fokus melihat kearah Thian yang masih berpakaian ala Theana. Thian duduk disamping Zee. Thian mencoba untuk meminta maaf kepada Shabila. Karena ini juga salahnya.

__ADS_1


"Kaka maafin Thian ya. Kalau waktu itu Thian nolak jadi Theana, mungkin kakak gak akan marah seperti ini". Thian menunduk mengucapkan permintaan maafnya kepada Shabila.


"Kakak udah maafin kok. Tapi kalau boleh kakak tau, gimana sih resep bikin semangka Segede itu". Dan ternyata pandangan Shabila terarah pada dada palsu Thian. Dan semua hanya bisa tertawa. Tak menyangka pertanyaan absurd yang Shabila lontarkan


__ADS_2