
Hari berganti. Bulan berlalu. Genap satu bulan Oma dirawat. Eneng masih berharap emak segera membuka mata. Titi masih belum diberitahu mengenai kondisi emak. Eneng akan memberitahu sang adik hari ini. Eneng bergantian dengan anak dan menantunya menjaga emak. Terkadang keluarga Melody ikut menjaga begitu juga keluarga Malik.
Sebenarnya bulan ini adalah bulan dimana Thian akan melangsungkan pernikahan dengan Zee, namun keadaan tidak memungkinkan. Ditambah Zee berhasil mendapatkan proyek pertamanya. Zee mendapatkan proyek pertamanya di luar negeri. Dengan didampingi Serkan, Zee akan menetap di Singapura selama tiga bulan.
"Oma. Kapan Oma akan pulang. Thian kangen Oma. Oma bangun dong. Nanti Thian beliin apapun yang Oma mau". Hari ini jadwal Thian menjaga emak. Tak hentinya Thian berbicara dan bercerita ditelinga sang Oma.
"Eh lupa. Pasti Abang gak bilang kalau kak Mel udah hamil. Bentar lagi Thian jadi uncle yang tampan. Apa Oma tidak ingin bertemu cicit Oma nanti. Oma janji sama Thian buat temani Thian sampai Thian punya anak. Sampai cicit Oma sukses. Oma pasti bisa. Oma semangat ya". Thian membelai wajah keriput Oma tercintanya. Menggenggam tangan tua yang dulu selalu menggendong dan menggandengnya. Tangan yang akan menyuapi mereka saat mereka enggan untuk memakan nasi.
Thian tak lupa membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk membantu respon Oma. Thian berjaga pagi. Dan sore nanti, Thian akan mengantarkan Zee ke bandara. Thian memberikan semangat kepada Zee. Thian bangga melihat kemajuan Zee yang sangat pesat. Dan tender kali ini adalah tender yang cukup besar.
Siang hari, Melody datang membawa makanan untuk Thian. Dia juga akan bergantian menjaga emak. Hari ini saudara kembar Melody juga datang menjenguk emak. Melody akan menunggu Fathan dirumah sakit. Karena Fathan akan menjemput Melody dirumah sakit.
"Kak. Kenapa kesini. Kakak lagi hamil muda, lebih baik istirahat dirumah. Nanti biar Luki yang jagain Oma". Thian menemui Melody diruang khusus menunggu emak. Melody tersenyum mendengar adik iparnya yang begitu perhatian kepada dirinya.
"Gapapa. Kakak sekalian nunggu Abang. Nanti Abang jemput kakak disini. Kan lokasi Abang talk show gak jauh beda dari sini. Ini makan dulu. Kamu juga harus jaga kesehatan". Melody menyodorkan makanan yang dibawanya dari rumah. Thian menerima dan langsung memakannya.
"Dek, kamu jadi antar Zee ke bandara". Melody bertanya disela-sela Thian sedang makan.
"Jadi kak. Habis ini Thian otewe kerumah papi. Kakak gapapa Thian tinggal disini". Thian masih khawatir meninggalkan Melody dirumah sakit. Walaupun ada Nanda disana.
__ADS_1
"Hey. Ada Abang disini. Tenang aja Abang akan temani sampai Fathan datang. Loe bisa pergi ngantar tunangan loe Yan". Thian tersenyum mendengar perkataan Nanda. Thian melanjutkan menghabiskan makanannya. Dan segera bergegas menuju rumah Serkan.
Begitu Thian tiba dirumah Serkan, Thian bergegas masuk dan tampak koper milik Zee dan Serkan sudah siap diruang tamu.
"Assalamualaikum mi". Serkan berjalan menuju dapur untuk menyapa Mami Zee yang sedang menyiapkan bekal untuk suami dan anaknya. Karena saat datang tadi, tak ada seorang pun diruang tamu.
"Waalaikumsalam. Kamu sudah datang nak. Bukannya masih dua jam lagi berangkatnya". Mami Zee nampak begitu sibuk mengemas makanan kering. Thian pun ikut membantu.
"Ya gapapa Mi. Kan jadi bisa bantuin Mami. Mami bikin apa sih kok banyak banget". Tampak beberapa kotak berisi makanan kering dan beberapa kue kering.
"Ini buat jaga-jaga. Kamu kan tau Zee suka agak susah menerima beberapa makanan. Daripada dia terkena alergi atau sakit perut, mami sudah siapkan beberapa lauk kering". Walaupun sering keluar negeri, tapi tidak semua makanan bisa diterima perut Zee.
"Oh gitu. Iya juga sih. Zee kalau udah terkena alergi, susah banget suruh minum obat". Mami Zee terkikik mendengar perkataan Thian.
"Loh udah datang aja kamu. Dah dari tadi". Serkan mendudukkan tubuhnya dikursi sebelah sang istri yang masih sibuk mengemas.
"Belum lama kok pi". Serkan mengangguk menjawab perkataan Thian. Mereka sudah selesai dan masih menunggu Zee. Dan lima belas menit kemudian Zee sudah siap. Setelah berpamitan dengan maminya, Zee dan sang papi segera menuju bandara.
"Oma bagaimana hari ini Yan". Serkan membuat percakapan saat mereka menuju bandara.
__ADS_1
"Masih sama Pi. Hanya keajaiban dari doa kita saja yang bisa membuat Oma bangun". Zee yang duduk disamping Thian, segera menggenggam tangannya.
"Berdoa terus nak. Pasti Oma juga sedang berjuang untuk pulang". Thian mengangguk dan tersenyum.
Karena jalanan tak begitu macet, mereka tiba di bandara lebih cepat. Serkan meminta agar Thian tidak usah turun dari mobil. Selain menghindari kehebohan karena kemunculan Thian dibandara, Thian juga sudah mengatakan jika dia ada pekerjaan malam nanti.
"Hati-hati ya Pi. Jangan lupa jaga kesehatan papi. Dan titip anak kecil yang sedikit bandel ini ya Pi". Serkan tertawa mendengar ledekan Thian untuk Zee.
"Ih kakak. Aku bukan anak kecil lagi". Thian dan Serkan tertawa terbahak bersama. Wajah Zee hanya cemberut. Serkan memberikan waktu untuk Zee berpamitan dengan Thian. Serkan lebih dahulu keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk menunggu Zee dipintu masuk bandara.
"Kak, Zee berangkat ya. Doakan Zee semoga semua berjalan dengan lancar dan Zee bisa kembali sesuai jadwal. Zee minta, jaga hatu kakak hanya untuk Zee". Thian memeluk Zee dan terdengar sedikit Isak tangisnya.
"Hust. Jangan sedih. Kamu sehat-sehat disana. Jaga diri baik-baik. Jaga hati kamu. Ingat ada kakak yang menunggu disini. Jangan bandel. Dengar apa yang papi katakan. Nanti kalau kakak kangen, Kakak akan mengunjungi kamu sayang". Zee melepaskan pelukan Thian. Thian menghapus air mata Zee dan tersenyum melihat Zee.
Mereka memang sering berhubungan jarak jauh, tapi tidak pernah lama. Jika proyek berjalan lancar, Zee bisa kembali dalam tiga bulan. Tapi jika ada kendala, bisa dipastikan akan ada pengunduran waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya.
"Hati-hati ya sayang. Tetap jaga komunikasi kita. Turunlah papi sudah menunggu". Thian mengecup kening Zee cukup lama. Thian berusaha untuk menahan air matanya.
"Zee pergi kak. Jaga kesehatan kakak juga. Jangan telat makan". Thian mengangguk. Zee segera berjalan mendekati papinya. Tak lupa Zee melambaikan tangan saat mobil Thian melaju meninggalkan pelataran bandara.
__ADS_1
"Selamat berjuang sayang. Aku juga akan. berjuang disini. Kakak akan merindukan senyum dan tawamu. Kakak selalu akan menunggumu kembali".
Thian tidak kembali ke rumah sakit. Dia segera menuju lokasi yang digunakan untuk talk show. Thian juga sudah mengkonfirmasi kepada Luki, agar dia bisa menyusul dilokasi.