
Karena Zee masih ada acara dengan teman-temannya, Thian memutuskan untuk menunggu Zee dirumahnya. Serkan menemani Thian berbincang. Serkan meminta Thian menceritakan tentang kasusnya dari sisi Thian. Serkan hanya ingin mendengar secara adil dan bukan untuk mengadili seseorang.
"Kamu harus lebih hati-hati lagi. Papi tau kamu punya maksud baik, tapi juga harus tau saat kebaikan kamu itu hanya untuk dimanfaatkan". Serkan memberikan nasehat untuk Thian. Thian mengangguk dan tersenyum kepada Serkan.
"Pi, papi gak marah kan kalau akhirnya Zee gak jadi ke luar negeri". Keputusan akhir yang diambil oleh Gara adalah tidak jadi membawa Zee keluar negeri. Namun Zee harus mau belajar membantu sang papi diperusahaan.
"Papi sama mami gapapa. Lagian papi juga gak setuju dari awal Gara minta Zee ke Jerman. Tapi kan kamu tau sifat abangmu itu keras. Jadi butuh waktu agak lama buat luluhin hatinya". Sagara orang yang sangat tegas dalam pendirian. Apa yang sudah diputuskan akan susah untuk digoyahkan.
"Thian sih gak masalah kalau Zee mau keluar negeri, tapi sepertinya Thian yang tidak ikut. Lihat Oma yang semakin hari tidak baik-baik saja, Thian urung ikut pergi". Memang pada awalnya Thian menyetujui ikut bersama Zee, tapi kondisi kesehatan emak saat ini sudah sangat tidak baik. Thian hanya ingin tetap bersama dengan Oma yang sudah merawatnya sedari kecil.
"Sebaiknya memang kamu ada disisi Oma saat ini. Karena kenangan tidak akan bisa diulang lagi nantinya". Thian menunduk menahan rasa sedihnya. Tapi dia tetap harus bisa untuk ikhlas dari sekarang.
Zee sudah pulang dengan diantara dua orang temannya. Zee segera masuk kedalam rumah setelah turun dari mobil temannya. Zee berjalan santai masuk kedalam rumah. Thian masih duduk santai bersama dengan Serkan diruang tamu ketika Zee masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum". Zee mengucapkan salam sambil berjalan menunduk karena ada pesan masuk kedalam ponselnya. Thian tersenyum melihat sang pujaan hati yang dirindukannya berdiri didepannya.
"Waalaikumsalam. Sudah pulang dek". Zee berjalan mendekati Serkan tanpa menoleh kearah samping karena dia sambil asyik membalas pesan.
"Huum. Zee ke kamar ya Pi. Capek". Serkan menahan tangan Zee saat akan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Zee. Gak sopan ada tamu kok gak disapa dulu". Zee mengangkat wajahnya dan menoleh kearah yang ditunjukkan sang papi dari tatapannya.
__ADS_1
"Baby". Sapa Thian dengan senyuman indahnya saat Zee menoleh kearahnya. Zee pun segera berjalan kearah Thian. Zee memeluk Thian sebentar dan mulai menangis.
"Kakak jahat. Kenapa baru datang sekarang. Zee nungguin dari tadi. Kenapa baru sekarang datangnya". Serkan dan Thian tertawa melihat tingkah lucu Zee. Thian melepaskan pelukan Zee.
"Hei, maafkan kakak ya. Selamat untuk gadis kecil kakak. Akhirnya selesai juga. Semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat bagi semua orang sayang". Thian menghapus air mata Zee dengan ibu jarinya. Serkan perlahan pergi meninggalkan keduanya diruang tamu.
"Kenapa pergi gak pamit Zee sebelumnya. Kebiasaan kalau udah sampai baru ngasih kabar". Omelan Zee masih berlanjut. Thian hanya mendengarkan dengan senyuman. Thian mengajak Zee duduk disofa.
"Maaf ya. Kakak benar-benar mendadak kemarin perginya. Tapi kakak tetap berusaha untuk datang. Ya walaupun sudah telat". Thian tersenyum memperlihatkan gigi putih dan rapinya. Thian mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. Hadiah yang sudah Thian siapkan.
"Sayang, berbaliklah sebentar". Zee memutar badannya membelakangi Thian. Terasa sesuatu yang dingin menyentuh kulit lehernya. Zee tersenyum melihat hadiah dari Thian.
"Ini buat Zee kak". Zee masih tidak percaya dengan apa yang sudah dikenakannya saat ini. Sebuah kalung indah dengan ukiran namanya.
"Oya sayang, besok kamu ada acara gak". Thian membelai anak rambut Zee yang mulai tumbuh panjang.
"Pagi Zee harus ke kampus kak, ada beberapa berkas yang harus Zee selesaikan. Memangnya ada apa kak. Mau ngajak Zee pergi". Thian terus merapikan anak rambut Zee dan tersenyum.
"Kakak mau ngajak kamu kesuatu tempat. Kakak mau ngenalin kamu sama seseorang". Zee menoleh kearah Thian sambil mengerutkan dahinya.
"Siapa kak. Teman kakak". Zee bertanya penasaran. Karena selama bersama Thian, Thian memang tidak pernah mengenalkan Zee pada temannya sesama artis. Hanya beberapa teman dekatnya yang berbeda profesi yang Thian kenalkan.
__ADS_1
"Lebih tepatnya dia adik kakak". Zee terkejut mendengar perkataan Thian. Selama ini tidak pernah Zee tahu mengenai adik Thian. Bahkan keluarga Thian tidak pernah menyinggung masalah adik mereka.
"Adik. Kakak punya adik. Kenapa Zee baru tau". Thian menggenggam telapak tangan Zee. Sungguh hatinya tidak nyaman karena baru saat ini bisa berbicara jujur dengan Zee.
"Kakak gak bermaksud untuk menyembunyikan dia. Tapi memang ada yang ingin kakak katakan sama Zee. Kakak minta Zee dengarkan dulu cerita kakak. Nanti setelah kakak selesai bercerita, terserah Zee mau ngasih komentar seperti apa". Zee diam mendengarkan perkataan Thian. Tak sepatah katapun Zee memotong perkataan Thian.
Thian mulai bercerita tentang Delisha. Zee tetap diam mendengarkan. Tak ada satupun yang Thian tutupi dari Zee. Bahkan terungkapnya berita yang dulu sempat viral, membuat Zee semakin terkejut. Zee hanya diam memperhatikan Thian bercerita. Melihat wajah serius Zee, Thian merasa takut. Tatapan Zee membuat Thian khawatir.
"Sayang, semua sudah kakak ceritakan. Sekarang apapun yang ingin kamu katakan, kakak akan dengarkan". Thian menunduk pasrah karena Zee hanya menatapnya tanpa bersuara.
"Sayang. Jangan diam saja. Kalau kakak salah, kakak minta maaf. Tapi jangan diam saja sayang. Kalau kamu mau mukul kakak, kakak juga tidak apa". Thian hanya bisa menunduk. Zee memegang wajah Thian dan mereka pun bertatapan.
"Kamu hebat. Lelaki terhebat yang pernah Zee temui selain papi dan kedua Abang Zee. Walaupun kakak salah karena tidak jujur dari awal. Tapi Zee tetap bangga dengan kakak. Kapan Zee bisa bertemu dengan Delisha". Tanpa terasa air mata Thian menetes. Mendengar perkataan Zee yang begitu menenangkan. Sikap dewasa Zee yang membuat Thian nyaman.
"Kakak mau mengenalkan kamu sama Delisha besok, jika kamu tidak sibuk sayang". Zee mengusap pipi Thian dengan lembut dan menyeka air matanya.
"Besok Zee usahakan. Apa kakak belum mulai bekerja lagi. Bukannya libur kakak sudah habis ya". Zee ingat jika Thian hanya mengambil libur tiga hari untuk acara wisuda Zee.
"Iya. Tapi jadwal kakak kosong besok. Dan lusa kakak sudah harus keluar kota". Thian menjelaskan kepada Zee tentang kegiatannya esok.
"Baiklah. Besok Zee akan usahakan pulang cepat. Agar bisa berkenalan dengan adik ipar Zee". Thian terkikik mendengar kata adik ipar dari mulut Zee.
__ADS_1
"Besok kakak antar ya. Kalau perlu kakak tungguin sampai kamu selesai. Bagaimana sayang". Thian begitu antusias setelah melihat reaksi Zee yang sangat positif.
"Gak usah ditungguin. Ntar yang ada bikin heboh satu kampus. Ada aktor nongkrong didepan kampus". Zee dan Thian tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, Serkan dan istrinya sedari tadi mendengarkan keduanya. Kedua orangtua Zee ikut bangga dengan sikap kedewasaan Zee.