
"Mama." teriak Gala ketakutan melihat mamanya menggigil dalam selimut tebal.
Amar yang mendengar teriakan Gala terkejut dan lansung berlari kedalam kamar Ami. Dia melihat wajah Ami sudah pucat dalam selimut tebal.
"Kamu sakit?" Amar memeriksa kondisi Ami.
Ami hanya diam tidak berdaya. Dia membiarkan Amar menolongnya sekali lagi.
"Jika sakit kenapa tidak memberi kabar?" omel Amar.
"Untuk apa memberi kabar jika kamu menjauh." jawab Ami membuat Amar terdiam.
Hati Amar terasa di remas-remas saat ini. Wanita yang ia sayangi tanpa sengaja ia sendiri yang menyakitinya.
Amar pergi kedapur untuk membuat bubur untuk Ami. Amar nampak sudah biasa membuat bubur untuk orang sakit. Setelah selesai dia kembali ke kamar sambil membawa mangkok.
"Ayo di makan, biar bisa minum obat."
"Aku bisa sendiri, terima kasih." ucap Ami bangun dari tidurnya.
Ia menyuap bubur buatan Amar. Ami rasanya sulit untuk menelan bubur itu karena terasa pahit. Tapi ia memaksakan agar ia bisa cepat pulih demi anaknya.
"Aku keluar sebentar ambil obat."
Amar berjalan keluar mengambil obat di kotak obat yang selalu ia bawa dalam mobilnya. Ia kembali ke kamar Ami. Ia tersenyum melihat Gala penuh perhatian kepada mamanya.
"Ayo diminum obatnya." ucap Amar.
"Mama takut obat loh om." ucap Gala membuat Ami malu sendiri.
"Masa iya? kalah dong mama sama Gala." jawab Amar.
"Mar, aku minum yang herbal aja."
"Nggak, ayo minum obat, jika nggak aku minuman dengan caraku sendiri." jawab Amar.
"Mar tapi emang nggak bis nelannya."
"Gala keluar dulu ya, om mau bantu mama minum obat."
"Baik om."
"Kamu mau ngapain?" tanya Ami ketika Amar berjalan mendekat ke arah Ami.
__ADS_1
"Cuma bantu minum obat." jawab Amar.
"Amar jangan paksa, aku benaran nggak bisa minum obat dari kecil." jawab Ami ketakutan.
"Kamu akan suka mulai sekarang." jawab Amar semakin dekat.
Jantung Ami berdetak kencang karena Amar semakin dekat dengannya. Dengan gerakan cepat Amar memasukkan obat kedalam mulutnya lalu dia lansung mencium Ami. Amar memasukkan obat ketika Ami membuka mulutnya.
Entah bagaimana caranya tiba-tiba Ami sudah menelan obat. Amar menghentikan aktivitas lalu duduk di sebelah Ami dengan tersenyum.
"Ternyata lebih gampang seperti ini." jawab Amar tersenyum.
Sedangkan Ami merasa sangat malu sekali. Ia tidak menyangka Amar akan seberani itu kepadanya.
"Kamu beraninya."
"Udah istirahat aja dulu, aku mau keluar sebentar." ucap Amar tersenyum meninggalkan Ami.
"Gala jaga mama, om cuma keluar sebentar,jika terjadi apa-apa telpon om."
"Baik om." ucap Gala patuh.
Amar membawa mobilnya menuju rumahnya. Entah kenapa ia harus bertemu dengan kedua orangtuanya. Melihat kondisi Ami yang mengkuatirkan tadi membuat ia yakin bahwa Ami orang yang dia cintai.
"Ma, pa Amar mau bicara."
"Bicara aja." kata papanya.
"Amar mohon maaf sama mama dan papa, Amar tidak bisa melupakan dia, Amar mohon restunya dari mama dan papa untuk hubungan kami." ucap Amar bersimpuh di kaki mamanya.
"Amar apa - apaan ini?" tanya mamanya.
"Tolong restui Amar ma, Amar sudah mencintai dia sejak zaman sekolah, Amar sangat sayang sama dia."
"Tapi dia lebih tau dari kamu, belum statusnya yang sudah janda, masih banyak gadis yang mau sama kamu." ucap mamanya.
"Amar maunya cuma sama dia ma, tolonglah Amar ma, cinta tidak boleh di paksakan." ucap Amar menangis.
"Kamu cinta atau kasihan sama dia?" tanya Papanya.
"Pa aku mencintainya dari pandangan pertama, aku sudah menimbang sebulan ini pa, aku tidak bisa tanpa dia."
"Siapa dia pa?" tanya Galuh kepada Papanya.
__ADS_1
"Kamu ingat perempuan yang di bantu Amar, yang anaknya mengalami kekerasan." ucap papanya
Galuh mengangguk ketika mengingat perempuan yang ada di rumah sakit bulan lalu. Dia memaklumi jika adiknya suka perempuan itu. Karena baginya memang dia cantik walaupun statusnya sudah punya anak dan janda.
"Ma jika memang Amar mencintai biarkan saja ma." Galuh membantu membujuk mamanya.
"Tapi status dia."
"Ma apa artinya status ma jika keduanya saling cinta." ujar Galuha.
"Dia lebih tua dari Amar, bahkan diatas kamu umurnya."
"Jika Galuh liat wajahnya lebih muda dari Amar, bel kamu tau nggak guru Kimia Amar ketika SMA." ucap Galuh kepada Bella.
"Di SMA ada beberapa guru kimia bang, Ada Bu Jasmin, Bu Ami dan pak Teo."
"Nggak mungkin pak Teo dek." ucap Galuh tertawa.
"Bu Ami ya, soalnya dia emang cantik dan manisnya natural."
"Kenapa tidak dengan buk Jasmin?" tanya Galuh penasaran.
"Bu Jasmin mungkin sekarang udah berumur kurang lebih 50 tahun bang."
"Gimana menurut kamu, guru kamu juga kan dulu?"
"Nggak pernah belajar sama Bu Ami, cuma dia memang baik dan idola anak laki-laki waktu sekolah, ma jika dengan Bu Ami nggak apa-apa ma jika memang mereka saling mencintai."
"Kalian merestui semua?" tanya mamanya.
"Papa nggak keberatan asal Amar bahagia."
"Kamipun sama ma." jawab Galuh dan Bella bersamaan.
"Emang dia suka sama kamu?" tanya mamanya menyelidik.
"Jika mama udah restui, Amar akan mengejar cintanya ma." jawab Amar bersemangat.
"Ya udah jika kamu memang bersikeras." jawab mamanya.
"Makasih ma." ucap Amar lansung memeluk mamanya dengan senang.
Setelah menaklukkan mamanya maka tinggal selangkah lagi jalannya yaitu menaklukkan Ami dengan tenang.
__ADS_1