
"Bang untuk kali ini biarlah Mira yang memikirkan."jawab Mira tidak enak ketika melihat Dita hanya berlalu tanpa mampir bergabung.
"Ini demi kebaikan kamu, dia lelaki baik." jawab ibunya.
"Iya, pisah saja dengan laki-laki itu, ayah lebih setuju dengan laki-laki pilihan Bian." jawab ayahnya.
"Besok aku atur pertemuannya, setelah itu terserah kamu." ucap Abian sudah tidak ingin terlalu banyak mengatur.
Dia ingin ini terakhir kalinya ia ikut campur mengingat nasehat ayahnya.
"Baiklah." jawab Mira mencoba menurut kepada keinginan keluarganya.
Mira berdiri dari duduknya menuju kamarnya. Hatinya masih terganjal dengan kemarahan Dita. Ia sangat tidak nyaman dengan sikap Dita saat ini.
Saat makan malam Mira juga tidak melihat Dita. Mira semakin tidak nafsu untuk menyantap makanannya. Ia cukup tau diri untuk tinggal di rumah ini. Ia juga tidak lupa bahwa rumah ini adalah peninggalan orang tua Dita.
Setelah makan Mira mencoba mencari Dita. Tapi ia tau bahwa perempuan itu tidak akan bisa di jumpai malam ini karena sedang dikamar utama.
"Mungkin besok lebih baik." ucap Mira dengan pelan.
Ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ketika sampai di kamar, ia melihat ponselnya sedang berbunyi. Tampak nama Zaki tertera di layar ponselnya.
"Ya mas, Assalamualaikum." jawab Mira.
"Waalaikumsalam, Mir belum tidurkan?"
"Jika sudah tidur nggak mungkin aku bisa jawab telpon kamu kan?" tanya Mira membuat Zaki merasa menyesal menanyakan hal bodoh tadi.
"Iya juga, Mir aku menelpon kamu untuk meyakinkan kamu bahwa aku tidak ada menyuruh orang untuk menyakiti kamu."
"Silahkan mas cari buktinya secepatnya agar masalah ini selesai." jawab Mira dengan tenang.
"Aku akan balik ke kota B untuk mencari tau dalang dibalik semua ini." ucap Zaki.
"Baik, tapi sebelumnya kamu jangan GR dulu, karena bagaimanapun kita masih suami istri, besok aku akan jumpa dengan lelaki pilihan keluarga aku." ucap Mira ingin meminta izin.
"Aku ini masih suami kamu tapi mereka sudah mencarikan kamu jodoh." ucap Zaki emosi.
"Tenang mas,tidak usah emosi, ini hanya perkenalan saja."
"Jika kamu nanti tertarik dengan dia bagaimana?"
"Maka aku tetap bantu kamu sampai papa sembuh, lalu nanti kita bisa pisah baik-baik." ucap Mira dengan agak bersedih.
"Sebenarnya aku tidak ingin berpisah dengan kamu mas, tapi kamu masih tidak mencintai aku." ucap Mira dalam hati.
"Baik, silahkan tapi tetap jaga nama baik kamu sebagai menantu keluarga Iskandar." ucap Zaki akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Besok tidak hanya berdua kok, tapi ada ayah dan kakak lelaki itu." jawab Mira menjelaskan.
"Baiklah, aku besok balik ke kota B untuk sementara waktu." ucap Zaki.
"Baiklah, aku mau tidur dulu mas."
"Baiklah, selamat tidur." ucap Zaki dengan nada lembut.
Mira terbuai dengan nada lembut Zaki. Suara lembut itulah mengantarkan ia kedalam tidur lelapnya.
Di kamar utama Abian heran dengan sikap istrinya yang dari tadi hanya diam. Dita juga tidak mau di peluknya.
"Sayang kamu belum makan loh." Abian mencoba mengingatkan.
Dita hanya diam tanpa menjawab ataupun menoleh ke arah Abian.
"Atau kamu mau cari makan diluar?" tanya Abian mencoba dengan lembut.
Dita juga diam tanpa menjawab. Abian mencoba memeluknya dari belakang. Namun Dita mencoba melepaskan pelukan Abian.
"Mas minta maaf jika mas ada salah sama kamu, tapi please jangan diamkan mas, kamu makan ya biar mas buatkan atau belikan." rayu Abian lagi.
Lagi - lagi Dita hanya diam tanpa menanggapi omongan suaminya. Abian semakin frustrasi dengan sikap istrinya.
"Haduww betul pula ucapan ayah tadi." ucapnya dalam hatinya.
"Mas tadi nggak tidur loh sayang, kamu kan tau bahwa mas nggak bisa tidur jika tidak peluk kamu." ucap Abian merayu kembali.
"Kamu nyawanya mas, jangan ngambek lagi, mas janji akan jaga hati kamu, jika kamu nggak mau ikut campur lagi mas akan ikuti kamu." rayu Abian namun tidak ada sahutan dari Dita.
"Dita, ayolah sayang, jika nggak mas gigit kamu ya." ucap Abian mencoba menggigit Punggung Dita.
"Sakit mas." ucap Dita dengan pendek.
"Nah gitu dong, ngomong jika tidak mas akan gigit lebih parah." ucap Abian tersenyum penuh rencana.
"Jika kamu masih gigit aku pindah ya." ancam Dita.
"Jika kamu berniat pindah tidak akan aku biarkan, aku akan kurung kamu di sini pakai caraku sendiri." ucap Abian tersenyum mesum.
"Dasar pemaksa."
"Biarin, yang penting sayang istri."
"Sayang istri preet, tangan aku aja masih sakit
" ucap Dita dengan kesal.
__ADS_1
"Sini mas obati, maaf ya sayang." ucap Abian mencium tangan istrinya yang masih ada bekas merah.
...****************...
Dirumah keluarga Kusuma semua nampak sedang makan malam. Semua anak menantu dan cucunya pulang kerumah orang tuanya. Pak Hendra dan Bu Hesti nampak senang sekali.
"Bagaimana hubungan Amar dengan Cindi, apakah berjalan dengan baik?" tanya Galuh membuka pembicaraan.
"Dia masih belum kasih keputusan." jawab papanya.
"Kenapa mar?" tanya Galuh kepada adik bungsunya.
"Amar udah punya pilihan kali." ujar Bella dengan tersenyum.
"Benar begitu mar?" tanya Mamanya.
"Jangan percaya ucapan kak Bella ma." jawab Amar mengelak. Ia belum siap mengatakan bahwa ia jatuh hati kepada mantan gurunya.
"Jika begitu kali ini Abang akan kenali kamu dengan cewek." ucap Galuh.
"Siapa lagi ini?" tanya Amar mulai Bete.
"Hahahaha, kenapa jadi berlomba- lomba untuk cariin dia jodoh." ejek Bella sambil tertawa.
"Siapa dia Luh?" tanya Papanya.
"Adik Abian pa." jawab Galuh.
"Ohw boleh juga tuh." jawab Mamanya dengan cepat.
"Kamu harus temui nak, biar kamu menikah lebih cepat." ucap papanya.
"Kenapa semuanya ingin aku menikah lebih cepat? aku ini masih muda." jawab Amar masih dengan sopan.
"Pokoknya kamu harus ikut besok." ucap mamanya.
Amar paling tidak bisa jika mamanya sudah berkata. Amar paling sulit untuk menolak permintaan mamanya.
"Baiklah, besok aku coba." jawab Amar memaksakan senyumnya.
Setelah makan mereka mengobrol sambil bermain dengan anak Bella dan Alan serta anak Galuh dan Siska.
Rumah terasa ramai sekali dengan suara anak balita. Bagi pak Hendra dan Bu Hesti ini adalah momen paling bahagia. Mereka sangat senang di kala berkumpul seperti malam ini.
Mereka mengadakan makan malam setiap dua kali dalam seminggu. Anak - anak pak Hendra dan Bu Hesti tidak ingin kedua orang tuanya kesepian. Mereka berusaha untuk makan malam bersama demi kedua orang tua mereka.
Mereka sengaja meluangkan waktu demi hadir di rumah ini. Bagi mereka tidak ada yang bisa membalas jasa kedua orangtuanya selain membahagiakan masa tuanya.
__ADS_1