
Mira sedang berada di dalam pesawat bersama dengan Zaki. Setelah beberapa Minggu bersama akhirnya mereka kembali ke kota B untuk menjenguk keluarga Zaki.
Zaki dan Mira sudah sepakat untuk tinggal di kota J. Mereka merasa sudah nyaman tinggal di kota itu. Mereka akan menjenguk kedua orang tua Zaki sekali sebulan.
Kedua orangtuanya Zaki tidak mempermasalahkan karena bagi mereka jarak tidaklah terlalu jauh. Mereka juga bisa berkunjung ke rumah anak menantunya.
Setelah kurang lebih satu jam di pesawat, akhirnya mereka lepas landas. Zaki menggenggam tangan Mira menunjukkan bahwa wanita di sampingnya milik dia.
Sopir mereka telah menunggu di pintu kedatangan. Zaki dan Mira lansung naik mobil. Mira merasa agak mual di perjalanan. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Zaki. Sedangkan Zaki masih sibuk memeriksa laporan perusahaan di ponselnya.
"Apa nggak bisa lepas dari ponsel itu sebentar?" tanya Mira dengan manja.
"Kenapa sayang? bentar lagi siap."
"Kayaknya lebih menarik itu ponsel daripada aku." jawab Mira memonyongkan bibirnya.
"Baiklah jika itu mau kamu sayang, jelas lebih penting kamu, tapi jika aku nggak bekerja kita bisa nggak uang buat bayar tiket pesawat." ujar Zaki membujuk istrinya.
"Udahlah, malas kali."
"Kamu kenapa? kok pucat?" tanya Zaki ketika melihat wajah Mira agak pucat.
"Pusing, mual." jawab Mira dengan lemas.
"Kerumah sakit aja ya." jawab Zaki sambil mengusap kepala Mira dengan lembut.
"Nggak usah,kita pulang aja, aku mau tidur."
"Ya udah, tidur aja di sini." ucap Zaki merebahkan kepala Mira di pundaknya.
"Kamu berhenti aja kerja ya, kayaknya kamu kecapean."
"Tapi aku nggak ada kesibukan mas."
__ADS_1
"Kamu sibuk apa kek di rumah, daripada bekerja."
"Mas takut aku mata - matain ya."
"Emang mau di mata - matain kenapa?"
"Mana tau mau genit sama perempuan lain atau mau balikan lagi sama Eliza, aku liat dia mulai menghubungi kamu lagi."
"Jangan sebut nama dia sayang, mual mas dengar nama dia." ucap Zaki yang tidak mendengar nama mantannya itu.
"Padahal mantan kesayangan, bucinnya minta ampun." ejek Mira.
"Lebih sayang kamu loh sayang, jangan memancing pertengkaran sayang." ucap Zaki memegang mulut Mira.
"Awas, lepasin mas."
"Biarin aja, habis mulutnya ngejek mas terus,atau masu sumpel pake mulut mas nih."
"Apaan sih." jawab Mira malu karena sopir mereka tersenyum melihat kaca spion.
"Apaan sih." ucap Mira mencubit perut Zaki.
"Sakit tau sayang." ujar Zaki menahan kesakitan sambil tertawa.
"Mana ada sakit, orang nggak pakai tenaga." ucap Mira.
"Benaran sayang, sakit loh."
"Mama dan papa apa kabarnya mas?masih pisah rumah?"
"Ya masihlah sayang, kamu jomblangin lah mereka."
"Mas lah yang jomblangin, aku jujur ya mas masih agak takut dengan mama."
__ADS_1
"Mas paham, tapi mama udah berubah kok, nanti pasti kamu akrab dengan mama."
"Semoga mas."
Mereka telah sampai di depan rumah mewah milik orang tua Zaki. Papa Zaki, Andin, Yusuf dan anak - anaknya menunggu di depan rumah. Mereka menyambut Zaki dan Mira dengan senang dan bahagia.
"Selamat datang Mira." ucap papanya.
"Hanya Mira yang di sambut?" tanya Zaki dengan memanyunkan wajahnya.
"Kamu kan dah sering pulang kesini, awas kami mau sama Mira." ucap Andin merangkul Mira.
Yusuf tersenyum melihat perubahan sikap istrinya belakang ini. Dia senang karena Andin lebih lembut dan lebih banyak di rumah mengurusnya dan anak - anaknya daripada kelayapan.
"Apa kabar mas?" tanya Zaki memeluk kakak iparnya.
"Alhamdulillah baik."
"Gimana perusahaan mas? apa udah stabil?" tanya Zaki ketika sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Alhamdulillah udah lumayan, meskipun belum terlalu stabil."
"Apa perlu aku tanam modal mas?"
"Nanti aja, sepertinya kami masih bisa menangani dengan baik."
"Alhamdulillah, semoga berjalan dengan lancar trus mas."
"Eh kok malah ngobrol di sini, ayo kita makan dulu." ajak mama Zaki keluar dari dapur.
"Mama di sini juga?" tanya Zaki kaget melihat kehadiran mamanya di rumah mereka.
"Kenapa? emang udah nggak boleh mama di sini?" tanya mama melotot kepada Zaki.
__ADS_1
"Eh mama kok cantik kali hari ini, ayo mas kita makan, jika mama yang masak pasti aku lahap makannya, mama kan yang masak?" tanya Zaki berharap penuh.
"Tentu, ayo cepat, kasian Mira menunggu."