
"Saya harap masalah ini tidak sampai ke telinga papa, kalian bisa cari alasan kenapa kalian bertengkar." ucap Zaki berjalan menarik Mira menuju kamarnya.
"Mana bisa begitu Ki." jawab mamanya sambil berteriak namun tidak di jawab oleh Zaki.
"Andin, kamu segera pulang sebelum papa kamu kembali." ucap mamanya mencari cara.
"Dan pelayan, jika tuan mencari saya kalian harus jawab bahwa aku sedang sakit, bawakan makanan aku kekamar tiap pagi dan malam."
"Baik nyonya." jawab pelayan serentak.
Semua kembali ketempat masing-masing. Begitu juga dengan mama Zaki yang kembali ke kamarnya.
Sedangkan di kamar Zaki hanya diam menahan emosi. Dia tidak menyangka bahwa nikah kontraknya bisa di ketahui oleh mamanya dan kakaknya.
"Jadi apa rencana kamu?" tanya Zaki tanpa memandang Mira yang sedang mencoba mengobati rasa sakitnya di wajahnya.
"Rencana apa lagi?"
"Bagaimana rencana kamu jika papa mengetahui soal pernikahan kita?"
"Aku harus bagaimana? bukannya kamu yang membuka ini semua."
"Kok salah aku? kamu yang meladeni mereka."
"Kamu yang menceritakan kepada mereka makanya insiden ini terjadi." emosi Mira.
"Kau tidak pernah bercerita apa - apa, tapi karena kecerobohan kamu mereka benaran tau dengan apa yang terjadi." ucap Zaki tidak kalah emosi.
"Tapi mereka bilang....."
"Dan kamu percaya? padahal mereka hanya menerka." ucap Zaki memotong pembicaraan Mira.
Mira terdiam mendengar ucapan Zaki. Dia menyesali kebodohannya yang meladeni dua perempuan itu.
__ADS_1
"Sial aku terjebak." gerutu Mira dengan kesal.
"Dan kamu baru menyadari kebodohan kamu." ejek Zaki.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Di depan papa akting kita harus lebih meyakinkan, bahkan di depan mereka." jawab Zaki berjalan ke kotak obat.
"Sini aku bantu obati." ucap Zaki duduk di hadapan Mira.
Zaki mencoba memberikan salep agar bekas cakaran dan bekas tamparan itu tidak merusak wajah cantik wanita itu.
"Pedih nggak?" tanya Zaki dengan lembut.
"Lumayan." jawab Mira agak gugup.
Jantung Mira berdegup kencang karena wajah Zaki begitu dekat dengannya. Zaki memandang gadis itu dengan intens. Dia merasa kasihan dengan nasib gadis itu.
"hmmmmmm." jawab Mira.
"Hati - hati dirumah, sepertinya semua pelayan dalam tekanan mama."
"Aku tau."
"Sejak kapan?"
"Hari ini." bohong Mira.
"Jangan bohong, ketika kamu demam bagaimana?" tanya Zaki yang mulai curiga.
"Aku malas, nanti dipikir aku tukang ngadu lagi."
"Bilang cepat."
__ADS_1
"Nggak ah."
"Bilang nggak." ancam Zaki.
"Nggak mau, lagian udah berlalu pun." ucap Mira mengelak. Ia tidak mau hubungan seorang anak dan ibu rusak karena dirinya.
"Jika nggak mau aku hukum." ancam Zaki.
"Enak aja main hukum, emang aku anak sekolah."
"Benar nggak, ini benaran loh jika nggak ngomong aku hukum." ucap Zaki memonyongkan bibirnya.
"Pas aku cari makan nasi dan lauk nggak ada, aku juga dilarang masak." jawab Mira dengan cepat karena Zaki hampir saja menciuminya.
"Jadi hari itu kamu nggak makan seharian?"
"Hmhmhm begitulah, makanya aku cari makan keluar."
"Apalagi?"
"Besok aku dikarang naik ojek online keluar, jadi aku bagaimana?"
"Kamu setiap hari pergi dan pulang bareng aku."
"Kamu nggak keberatan?" tanya Mira.
"Jika aku udah menawarkan artinya aku tidak keberatan." jawab Zaki.
"Malam ini kita makan keluar aja menghindari pertanyaan papa." ucap Zaki lagi.
"Tapi wajahku gimana?"
"Nanti aku belikan salep yang bagus lagi, dan aku jamin pas makan malam tidak ada yang melihatnya." ucap Zaki mencoba merapikan rambut Mira.
__ADS_1