Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 21


__ADS_3

Amar sekarang sedang sibuk dengan kuliahnya. Saat ini Amar sedang menyelesaikan pendidikan sebagai dokter spesialis bedah saraf .Hari - hari lebih banyak di habiskan dirumah sakit dan kampus.


Disela-sela kesibukannya dia masih sempat untuk mengunjungi Ami. Meskipun sebagai teman, Amar tidak pernah menyerah. Sagala usaha di cobanya untuk mendapatkan hati Ami.


Amar sangat tau bahwa perempuan itu masih trauma dengan masa lalunya. Apalagi dengan posisi Amar yang pernah menjadi muridnya.


"Besok ada waktu dok?" tanya Dokter mela, teman sejawat Amar.


"Kenapa dok?"


"Besok dokter liburkan? kita pergi nonton yuk."


"Bukannya kamu besok masih masuk."


"Saya akan luangkan waktu dok, saya besok sore kosong dok."


"Sepertinya saya nggak bisa dok, saya ada janji."


"Ohw gitu, baik dok." ucap Dokter Mela agak kecewa.


Amar tau bahwa dokter Mela yang merupakan rekan kerjanya menyukai dirinya. Baginya Dokter Mela sangat baik dan cantik. Tapi entah kenapa hatinya tidak terpikat oleh dokter yang saat ini juga sedang sibuk menyelesaikan dokter spesialis anak.


Amar lansung pulang kerumahnya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia ingin segera menjadi dokter spesialis seperti impiannya.


Ketika pulang Amar singgah terlebih dahulu di pinggir jalan membelikan martabak manis kesukaan anak Ami.


Setelah selesai Amar lansung menuju kos Ami dengan senyum - senyum. Ia sudah menduga bahwa ia akan di sambut dengan muka cemberut wanita itu.


Benar saja dugaan Amar, ketika ia menelpon Ami untuk keluar. Ami keluar dari kosnya dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Ada apa lagi? udah malam ini."


"Aku hanya ingin ketemu Gala, ini ada makanan kesukaan dia." ucap Amar tenang.


"Titip aku aja."


"Nggak bisa, nanti kamu habisin pula, aku mau kasih ke dia lansung."


"Hey kamu pikir aku ini apa?"


"Kamu itu tong sampahnya Gala, aku tau itu."


"Nyebelin banget ini anak, nggak pernah sopan - sopannya sama orang tua." gerutu Ami sambil masuk kedalam kosnya.


Amar masih duduk di teras tempat penerimaan tamu kos. Dia tersenyum senang karena pancingannya berhasil. Tidak lama kemudian Ami kembali keluar membawa Gala.


"Ada om Amar." ucap anak yang sudah berumur 6 tahun lebih itu.


"Hore, terimakasih om." ucap Gala senang mengambil makanan tersebut.


"Sama - sama, besok om libur, kamu mau om ajak ke taman wahana nggak?"


"Mau om, mau banget."


"Oke, besok om jemput pulang sekolah yah."


"Horeee jalan - jalan lagi." ucapnya senang.


"Baik, sekarang kamu boleh makan."

__ADS_1


"Baik om, boleh nggak Gala masuk dulu?"


"Boleh dong, tapi om masih mau bicara dengan bunda dulu ya, masalah jalan - jalan besok."


"Baik om, makasih ya om." ucap Gala sambil mencium Amar.


"Sama - sama jagoan." jawab Amar mencium Gala kembali.


Amar dan Gala memang sudah mulai dekat. Amar sangat greget mendekati anaknya Ami. Gala yang memang kurang perhatian dari ayahnya sangat senang dengan Amar.


"Ada apa lagi? cari alasan aja kamu kan?" tanya Ami dengan wajah masam ketika Gala masuk.


"Kamu itu curiga aja bawaannya sama aku, aku mau sebagai teman membantu kamu membawa Gala main, itu saja."


"Yakin itu saja?" tanya Ami curiga.


"Emang apalagi coba? jangan - jangan kamu yang mengambil kesempatan." tuduh Amar.


"Enak aja, bagi aku kamu itu anak murid yang harus aku didik."


"Siap Bu guru tersayang."


"Apaan sih kamu." Ami makin cemberut.


"Teman - temanku aja cuma beberapa tahun kamu ajari, nah aku sampai berumur segini masih kamu bimbing, artinya aku murid kesayangan kamu kan?"


"Murid kesayangan itu bukan seperti itu ya."


"Tapi definisi untuk aku itu yaitu beda." jawab Amar tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Dah pulang sana, besok kalian pergi berdua aja."


"Baik, jangan nyesal ya." ucap Amar tertawa lagi melihat Ami sudah masih kedalam kosnya.


__ADS_2