Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 6


__ADS_3

Amar POV


Namaku Amar, aku adalah anak keluarga terpandang. Keluargaku rata - rata bekerja sebagai dokter. Kedua orang tuaku dokter terkenal di negara kami.


Sejak kecil aku sudah bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah saraf. Mengapa aku ingin menjadi dokter bedah saraf karena papaku. Papaku adalah dokter bedah Saraf. Sedangkan mamaku adalah dokter spesialis anestesi.


Abangku yang pertama entah kenapa memilih dokter kandungan. Namun entah karena apa, dia malah memilih lebih fokus mengurus rumah sakit keluarga.


Sedangkan kakak keduaku sangat manja sekali. Dia satu - satunya anak perempuan di dalam keluarga kami. Dia pemalas dalam hal belajar makanya dia tidak tertarik menjadi dokter. Bella memilih kuliah di jurusan keguruan. Akan tetapi setelah lulus kuliah, dia tidak kunjung juga menggunakan ijazahnya. Bella malah sibuk dengan kegiatan sosialnya dengan membangun panti dan sekolah gratis.


Sewaktu sekolah aku sudah bersungguh - sungguh belajar. Aku sangat fokus terhadap apapun itu menyangkut cita - cita


Sewaktu sekolah menengah atas, banyak gadis yang suka sama aku. Namun tidak satupun yang menarik hatiku.


Namun ketika kelas 2 SMA, entah apa yang menguasai diriku. Aku mulai menyukai seorang wanita yang tidak lain adalah guru Kimia.


Aku sudah berusaha untuk menghilangkan rasa yang ada di hatiku. Namun rasanya sangat susah. Namun saat itu bagaimanapun aku mengubur cintaku rapat - rapat. Bagaimana aku tidak menguburnya, wanita itu sudah mempunyai suami.


Namun ketika , aku di pertemukan kembali dengan guru kimiaku. Sewaktu itu aku melihat guruku itu sedang menangis. Aku melihat bagaimana suaminya lebih memilih selingkuhannya.


Saat itu aku hanya diam menyaksikan dirinya dari jauh. Entah kenapa aku tidak berani untuk mendekati dirinya saat itu. Aku hanya bisa mengikuti dia dari jauh menuju rumahnya.

__ADS_1


Setahun belakangan ini aku selalu mengikuti dia. Aku juga mengikuti sidang perceraian dia dengan suaminya secara diam-diam.


Aku juga bingung bagaimana aku bisa disana. Aku pernah menepis semua itu namun itu tidak berlangsung lama.


Bahkan setelah aku lulus, aku malah yakin dengan pilihan hatiku. Pada akhirnya aku memutuskan bertekad untuk mengejarnya.


Seperti siang ini aku sudah berdiri menunggunya di depan gerbang SMA aku dulu. Aku hanya duduk di dalam mobil menunggu dia keluar dari gerbang sekolah.


Kebiasaan dia memang selalu pulang lebih lambat. Aku heran entah apa yang dia lakukan di kantor berlama-lama.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit barulah aku melihatnya. Dia tampak sangat cantik di usianya yang sudah termasuk matang.


"Udah mulai patuh ya sama calon suami." ucapku sambil tersenyum bahagia.


"Diam kamu, bagaimanapun aku ini tetap guru kamu dulu, umur saya jauh lebih tua dari kamu." jawabnya dengan judes.


"Jangan judes - judes sama calon suami."


"Jangan Geer kamu, aku ikut masuk karena tidak mau dilihat oleh orang lain."


"Ohw gitu, berarti baku jemput kamu kesini aja."

__ADS_1


"Bisa nggak kamu jangan ganggu aku lagi."


"Nggak bisa, aku selalu kangen sama kamu."


"Otak kamu mulai bergeser ya semenjak jadi dokter."


"Aku ini calon dokter bedah saraf sayang."


"Tambah eror lah otak kamu jadi dokter saraf."


"Kamu yang buat otak aku begini."


"Aku geli dengan kata - kata kamu, kamu ini murid aku, bagaimana bisa seorang anak berkata seperti itu kepada orang tuanya."


"Tidak ada agama melarang murid suka dengan gurunya."


"Jika kamu masih tidak mau diam, turunkan aku disini."


"Baiklah." ucapku mengalah.


Aku tidak ingin macan cantik ini makin marah. Aku ingat betul dia ini sangat pamarah jika di olok - olok seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2