
"Mira mana pekerjaan yang aku kasih kemaren?" tanya Bila berdiri dari kubikelnya ketika melihat Bu Rara sudah pergi.
"Ini." ucap Mira memberikan dokumen yang harusnya di kerjakan oleh Bila.
"Lo jika mau selamat, harus kerjain apa yang aku suruh, trus jangan macam-macam sama Bu Rara, dia sepupu CEO kita." ucap Bila.
"Baik." jawab Mira enteng.
Ia tidak mau pusing dengan ucapan Bila karena pekerjaan pagi ini sudah menumpuk. Baru kemaren ia memberikan tugas dari Bu Rara, tapi datang lagi yang baru. Sedangkan pekerjaan dia masih banyak yang belum di siapkan.
Hari ini Mira memulai dengan pekerjaannya terlebih dahulu. Jika ia tidak selesai hari ini maka pak Anwar yang akan memarahinya. Ia mengerjakan dengan cepat agar semua cepat terselesaikan.
Namun semua hanya rencana belaka karena tidak lama kemudian Bila muncul kembali.
"Mir tolong belikan kami Boba."
"Emang ada jam segini? ini baru jam 11." ucap Mira dengan malas.
"Ada pasti, kamu cari aja keliling." ucap Bila maksa.
"Hey ada yang nitip nggak, ini Mira mau keluar beli Boba, jika ada tulis aja di sini." ujar Bila teriak dari kubikel Mira.
Semua teman - teman dari departemen Mira menulis list belanjaan mereka. Ada berbagai macam jenis pesanan yang tertulis dalam nota tersebut. Mira menghela nafas dengan kasar.
"Loh kok uangnya cuma 100 Ribu?" tanya Mira bingung karena jumlah pesanan yang banyak tidak akan cukup 100 ribu.
"Jika kurang ya pakai uang kamu aja dulu, nanti kamu ganti kok, ya kan teman - teman." jawab Bila.
__ADS_1
"Iya, jangan pelit gitulah." jawab yang lainnya.
Mira mengambil dompet dan ponselnya lalu berjalan menuju pintu utama perusahaan. Ia berjalan meninggalkan parkiran kantor berharap bertemu kafe terdekat.
Tapi karena banyaknya list yang beraneka ragam membuat ia harus mendatangi beberapa tempat. Ia mulai berjalan kaki sambil menunggu ojek.
"Apa pesan aplikasi online aja?"tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi pasti mahal." jawabnya lagi.
TITTTTTT
"Eh kodok, kodok." ucap Mira terkejut mendengar suara klakson mobil.
"Mira kamu ngapain di sini?" teriak seseorang yang baru turun dari mobil Alphard putih keluaran terbaru.
"Dita, bikin kaget aja." ucap Mira memegang dadanya.
"Aku lagi nunggu ojek." jawab Mira.
"Ayo naik, biar aku antar."
"Nggak usah repot-repot, aku bisa sendiri."
"Siapa yang repot sih, ayo naik ke sini."tarik Dita memaksa.
Mereka naik ke mobil milik Dita. Mira mencoba menyamankan diri saat berdekatan dengan Dita. Begitu juga sebaliknya, tapi Dita tetap berusaha memilah ketika ia cemburu. Untuk saat ini Mira adalah adik iparnya yang butuh bantuannya.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu mau kemana?" tanya Dita membuka percakapan.
"Aku mau beli yang ada di list ini." jawab Mira menyodorkan list yang ada di tangannya.
"Oh gampang, kamu ikut aku aja." jawab Dita tersenyum senang.
"Pak ke kafe xx ya."perintah Dita kepada sopirnya.
"Jadi kamu tiap hari di sopirin?" tanya Mira.
"Kadang nggak juga, cuma lebih aman aja kata mas Abi."
"Iya sih."
"Nanti kamu juga gitu ketika udah baikan sama Zaki."
"Doakan saja."
"Jadi Zaki membiarkan saja kamu di suruh - suruh sama karyawannya?" tanya Dita.
Ia teringat ketika dulu magang di perusahaan Abian. Ia di kerjain abis - abisan oleh karyawan yang lainnya. Ditambah saat itu Abian yang masih dingin membuatnya menangis terus.
"Dia nggak tau, lagian dia bisa apa, kan aku larang kasih tau karyawan." jawab Mira.
"Lebih baik biarkan saja karyawannya tau." pendapat Dita.
"Biar aja sementara waktu, aku kadang pengen liat ekspresi mereka saat mereka tau saya adalah istri dari tuannya." jawab Mira tersenyum.
__ADS_1
"ISS kamu, pemikirannya benar - benar ya, nanti aku bantu buat video mereka." ucap Dita ikut tertawa.
Mereka tertawa bersama seolah tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.