
Abian berjalan menuju kamarnya dengan cepat. Ia masih kesal dengan sikap istrinya saat ini. Dia membuka pintu dan melihat Dita sedang berbaring di kasur.
"Lain kali kamu low apa - apa izin aku." ucap Abian menegur istrinya.
"Aku izin kamu." ucap Dita bangun dari tidurnya.
"Kamu hanya izin pergi, tapi tidak izin menemui Mira dengan lelaki itu." ucap Abian.
"Apa penting aku izin tentang Mira kekamu?" tanya Dita dengan nada tinggi.
"Turunkan nada kamu." tegur Abian kaget ketika mendengar nada tinggi istrinya.
"Jadi semua tentang Mira kamu yang atur sekarang, Bahkan dia mau ikut suaminya kamu juga yang atur." ucap Dita.
"Jelas, semua aku yang atur."
"Dia hanya adik tiri kamu bukan adik kandung." jelas Dita.
"Jangan pernah membeda-bedakan adik tiri dengan adik kandung, bagiku semua sama Dita." ucap Abian makin kesal.
"Apa benar karena dia adik?" ejek Dita.
__ADS_1
"Lalu apa lagi?" tanya Abian
"Mungkin saja CLBK, cinta lama belum kelar, itu makanya kamu menolak dia ikut suaminya, biar kamu ketemu dia tiap hari dirumah ini." jawab Dit dengan emosi. Pikirannya telah dipenuhi dengan nada cemburu.
"Jaga bicara kamu Dita, aku ini masih suami kamu."
"Justru karena kamu suami aku, sekarang terserah kamu maunya bagaimana, tapi aku melarang dia tinggal disini dalam waktu lama." ucap Dita mencoba duduk agar bisa meredakan marahnya.
Dita dan Abian hampir tidak pernah berantem.Mereka baru ini adu mulut setelah beberapa tahun pernikahan mereka.
"Kamu tidak boleh seperti itu kepada keluarga aku."
"Tapi kami tidak ada hubungan apa-apa kecuali seorang kakak dan adik."
"Sudahlah, aku mual dengan jawaban kamu." ucap Dita berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Jika dalam dua Minggu dia masih di sini, aku yang akan pergi dari sini." ucap Dita lalu menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Dita berjalan menuju lantai atas. Dia berjalan menuju kamar lamanya ketika gadis dulu. Dita mengunci pintu kamarnya lalu duduk di tepi ranjang.
Malam telah datang, semua keluarga Abian sudah berkumpul di meja makan. Tidak ada tanda - tanda kehadiran Dita di meja makan ini.
__ADS_1
"Dita kemana Bian?" tanya Ibunya dengan tidak enak hati.
"Dia makan di kamar aja Bu." jawab Abian berbohong.
Abian gelisah ketika tidak menemui istrinya tidak makan malam. setelah selesai makan ia mencoba menghampiri istrinya. Abian mengetuk pintu kamar Dita dengan perlahan.
"Dita buka pintunya.";ucapnya dengan lembut.
Abian teringat dengan kamar ini pertama kali ia menikah dengan Dita. Mereka pindah ke kamar utama ketika anak pertama mereka lahir.
"Jika nggak buka aku dobrak ya." ancam Abian.
"Terserah kamu, mau kamu dobrak kek, mau kamu rusakin pintu ini juga terserah." terdengar jawaban di balik pintu.
"Ayolah sayang, jangan kayak gitu, malu di dengar anak - anak." ucap Abian.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar membuat Abian merasa pasrah. Abian berjalan kembali menuju kamar utama. Ia lelah sekali dan ingin cepat istirahat.
Karena terlalu lelah Abian lansung mengambil posisi tidur. Dita yang melihat Abian tidak merayunya lagi menjadi
Dita dengan kesal memainkan ponselnya. Ia berdiri di balkon mengirimkan pesan kepada baby sisternya agar anak-anaknya di bawa untuk jalan besok. Dita membaringkan kembali tubuhnya di kasur yang pernah terempuk saat itu baginya.
__ADS_1