Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 51


__ADS_3

"Bisa lepas nggak." ucap Ami dengan judes.


"Semakin lama aku makin senang." goda Amar.


"Kamu ini ya, aku ini lebih tua dari kamu, trus aku ini pernah jadi gurumu loh meskipun cuma satu tahun." ucap Ami.


"Cinta tidak memandang umur dan status." jawab Amar pendek.


"Kamu darimana coba bisa suka sama aku? apa yang kamu suka dari aku yang sudah tua ini."


"Kamu itu cantik bagi aku, dan kamu sudah menarik hati saya saat saya masih SMA, kamu wanita yang terbaik yang pernah Ku temui setelah mamaku." ucap Amar dengan serius.


"Itu karena kamu masih muda jadi belum terlalu mendalami cinta."


"Siapa bilang?"


"Aku."


"Aku akan buktikan jika aku serius sama kamu, jadi jangan menjauh lagi, aku akan melindungi kamu dan Gala."


Hati kecil Ami merasa tersentuh dengan ucapan Amar akan tetapi dengan cepat ia tepis. Ia tidak mau terlalu berharap lagi dengan namanya lelaki. Ia cukup kecewa dengan mantan suaminya terdahulu.


"Sudahlah aku mau tidur, kamu bisa pindah tempat." ucapan Ami dengan nada dingin.


"Baiklah, tidurlah." Amar beranjak dari dari duduknya.

__ADS_1


Amar kembali keluar dari kamar inap Gala. Ia ingin memberi ruang agar Ami dan Gala bisa tidur nyenyak.


...****************...


Amar baru saja kembali dari kost Ami setelah Gala keluar dari rumah sakit. Tubuhnya terasa sangat capek sekali karena banyaknya aktivitas belakangan ini.


"Mar ada cindi." ucap papanya Amar.


"Ada apa pa?" tanya Amar.


"Papa ngundang Cindi dan keluarganya untuk makan siang."


"Baik pa, aku mau mandi sebentar pa, gerah."


"Baiklah, cepat ya kasihan Cindi tidak ada yang nemani."


Amar naik ke atas menuju kamarnya dengan cepat. Ia sebenarnya sangat lelah sekali. Tapi ia juga tidak enak hati menolak keinginan papanya.


Setelah mandi dan berbenah diri ia kembali turun ke bawah. Amar melihat Cindi nampak cantik dengan dress yang ia pakai.


Mereka lanjut ke acara makan siang dengan santai. Mereka makan sambil berbincang tentang masalah keluarga masing-masing.


"Kita dulu memang sangat sekali berbesan ya." ucap papa Cindi.


"Iya, bahkan pas Cindi lahir kami sudah tertarik untuk menjadikan menantu." ucap papanya Amar.

__ADS_1


Amar sudah tau arah pembicaraan kedua orang tuanya. Ia hanya diam karena tidak ingin membantah saat ini.


"Amar anak yang pekerja keras, di umur yang muda ia hampir menjadi dokter spesialis." ucap mama Cindi.


"Iya Alhamdulillah sebentar lagi, nanti akan lanjut kuliah lagi." ucap papanya bangga.


"Amar ini suka belajar dari anak kami yang lainnya, setelah ini dia mau serius memperdalam ilmu kedokterannya." ucap mamanya.


"Wah bisa jadi profesor muda nantinya." jawab papa Cindi.


"Cindi apa kegiatannya saat ini?" tanya Mama Amar.


"Masih kuliah semester dua." jawab Cindi.


"Masih muda ya, Cindi udah punya pacar?" tanya papa Amar.


"Belum om." jawab Cindi dengan malu.


"Cindi ini anaknya masih manja, apalagi suami saya selalu memanjakan dia." ucap mamanya Cindi.


"Kamu maklum karena anak satu-satunya, anak kami Bella juga manja." jawab mamanya Amar.


"Semoga semua berjalan dengan lancar, mereka bisa pendekatan terlebih dahulu." ucap papa Amar.


"Iya, untuk pernikahan mungkin kita jangan terlalu gegabah karena Cindi juga masih muda." ucap mamanya.

__ADS_1


"Iya kami setuju dengan hal itu, biarlah mereka saling mengenal terlebih dahulu." ujar mamanya Amar.


"


__ADS_2