Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 97


__ADS_3

"Mama dan papa nggak ada niat CLBK?" tanya Zaki membuka pembicaraan saat makan siang.


"Mungkin ada baiknya tanya papa dulu." ucap Andin sambil tersenyum.


"Papa sih tergantung mama kalian aja." jawab papanya.


"Mama gimana?" tanya Zaki.


"Nggak bisa tergantung mama aja dong pa, papa juga usaha dong, ya kan mas?" ucap Andin meminta pendapat kepada suaminya.


"Yang sedang hangat-hangatnya." ejek papanya kepada Andin.


"Tapi kak Andin ada benarnya pa, laki-laki harus lebih berusaha."


"Kami udah tua, apakah pantas kayak anak muda seperti kalian." ucap papanya membela diri.


"Ah jika gitu mama nggak akan mau sama papa, apalagi papa nggak tanya empat mata." ujar Zaki.


"Siapa bilang begitu." ucap mamanya membuat semua tertawa di ruangan itu.


"Ah mama jual mahal sedikit Kenapa." ucap Andin tersenyum menggoda.


"Kamu aja cuma ngomong, siapa yang nangis - nangis ngejar Yusuf?" ejek papanya.


"Jadi kak Andin menangis demi mas Yusuf? sayang nanti kamu seperti itu nggak?" tanya Zaki kepada Mira karena hanya diam mendengarkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Liat situasi dan ceritanya." jawab Mira dengan enteng.


"Hahahaha emang enak jawaban nggak sesuai harapanmu dek." tawa Andin.


"Udahlah, kalian ini bising aja." ucap papanya.


"Papa malu, liat wajah papa mereh." ejek Andin.


"Udah sayang jangan di ejek terus papa, nnti makin merah loh wajah papa." ucap Yusuf membuat semua semakin tertawa.


Setelah makan siang Mira dan Zaki naik kelantai dua untuk istirahat. Zaki melihat Mira lansung membaringkan badannya di atas ranjang. Sedangkan Zaki masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi, ia memeluk istrinya dari belakang. Meskipun Mira belum mandi setelah melakukan perjalanan tapi aroma tubuhnya masih wangi. Mira terbangun dari tidurnya ketika merasa ada yang menggerayangi tubuhnya.


"Tapi mas pingin sayang."


"Tapi tadi pagi udah, masa nggak ada capek-capeknya." jawab Mira.


"Mana ada cape yang, kamu serahkan semua ke mas ya."


"Terserah mas deh." jawab Mira pasrah.


...****************...


Di ruang santai nampak duduk kedua orang tua Zaki dengan agak kikuk. Semenjak bercerai mereka memang tidak pernah duduk hanya berdua saja.

__ADS_1


"Jadi gimana dengan usulan anak - anak?" tanya papanya memulai pembicaraan.


"Emang papa masih mau sama mama?" tanya mamanya.


"Jika ini yang terbaik untuk kita berdua ma, lagian papa perhatikan mama juga banyak berubah ke yang lebih baik." ucap papanya.


"Ini hanya demi anak-anak pa?" tanya mamanya nampak seperti menimbang segala sesuatu.


"Emang kita tua ini masih ada demi cinta?" tanya papanya.


"Jika demi anak-anak sebaiknya kita seperti ini saja, kita sudah pernah mencoba bertahan demi anak-anak dulu." jawab mama Zaki.


"Emang kamu mencintai papa yang sudah tua begini?" tanya papa Zaki.


"Mama mencintai papa, tapi papa yang menutup hati papa semenjak kejadian itu, papa tidak memberikan nafkah batin kepada mama." jawab mama Zaki dengan menundukkan kepalanya.


"Jika begitu berarti mama bersedia rujuk dengan papa."


"Tapi pa......"


"Papa juga mencintai mama dari dulu, namun kesalahan mama waktu itu tidak bisa papa lupakan, papa sudah melupakan semua dan kita bisa membuka lembaran baru kembali." ucap papa Zaki memegang tangan mama Zaki.


"Ya udah mama minta maaf, mama janji akan jadi istri yang lebih baik pa, mama janji akan setia kepada papa sampai ajal memisahkan kita."


"Terima kasih ma, papa juga akan belajar dari kesalahan - kesalahan papa dulunya."

__ADS_1


__ADS_2