
Mira baru saja bangun dari tidurnya. Dia bangkit dari tidurnya untuk mengambil segelas air. Dia tidak menemukan siapa - siapa saat ini.
Ketika di dapur Mira melihat pelayan sedang membersihkan area dapur. Dia heran kenapa rumah Segede itu nampak sepi sekali pagi ini.
"Bi kemana yang lainnya?"tanya Mira sambil duduk di kursi dapur.
"Pada keluar non."
"Daffin sama Aya juga pergi?"
"Iya di bawa baby sister."
"Ohw, makasih ya bi, aku ke kamar dulu." pamit Mira.
Mira berjalan kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar kebisingan dari kamar utama rumah ini. Hatinya merasa tidak karuan saat mendengarkan keributan itu.
"Kamu masih meragui aku sebagai suami." ucapan Abian terdengar kencang.
"Bagaimana tidak, sampai urusan rumah tangga dia kamu ikut campur."
"Karena sekarang dia adikku, aku peduli dengan keluargaku."
__ADS_1
"Lalu aku bukan keluarga kamu? kamu nggak peduli dengan perasaan aku."
"Perasaan yang mana, kamu yang nggak ngerti aku, kamu begitu karena kamu anak tunggal." ucap Abian.
"Sudahlah, aku udah bilang silahkan kamu tentuin pilihan, aku yang pergi atau dia."
"Kenapa kamu seperti ini sekarang? aku nggak nyangka kamu seperti itu kepada keluarga aku."
"Aku seperti apa? coba kamu tanya kepada semua pembaca apakah mereka rela suaminya ketemu dengan mantan pacarnya yang dulu sangat ia cintai tinggal satu atap, meskipun sekarang posisinya dia adik tiri kamu."
"Silahkan, pasti mereka akan membela aku, kamu yang salah kali ini, terlalu cemburu." jawab Abian.
"Baik, sekarang kita tunggu respon mereka, kakak tiri tapi ngatur semuanya, dia udah dewasa pasti tau mana yang terbaik untuk hidupnya."
"Apakah aku bukan keluarga kamu? kamu tidak melindungi aku dari orang yang menyakiti aku."
"Siapa yang menyakiti kamu? kamu aja yang menyakiti diri kamu sendiri dengan negatif thinking melulu." jawab Abian.
Mira kaget ketika Abian sudah melihat dia berdiri termangu di depan kamar utama. Begitu juga dengan Abian, dia juga kaget ketika keluar dari kamar mendapati Mira berdiri.
"Kamu tidak usah dengarkan kakak ipar kamu, sekarang balik kekamar kamu." ucap Abian dengan dingin.
__ADS_1
"Baik bang." jawab Mira agak ketakutan melihat aura dingin Abian.
Mira naik menuju kamarnya dengan hati yang kacau. Ia tidak tau jika kepulangannya akan membuat keluarga ini ribut.
Mira menutup pintu kamar lalu duduk di ranjang sambil mengelus dadanya. Hatinya terasa sakit saat ini. Perasaanya tidak karuan saat ini juga.
"Perih." ucap Mira mengelus dadanya.
Mira mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari rumah. Dia pergi meninggalkan rumah untuk mencari ketenangan diluar sana.
Mira berjalan - jalan menelusuri toko satu persatu di mall kota J. Mira melirik - lirik baju satu persatu. Dia belum juga menemukan yang sesuai dengan hatinya.
Mira masuk ke salah satu supermarket terbesar di negaranya. Ia ingin melihat - melihat barangkali ketemu produk bagus dengan diskon yang besar.
Saat sedang melihat - lihat baju secara tidak sengaja dia menabrak punggung seseorang. Lelaki yang di tabrak Mira membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat ke arah Mira.
"Maaf." ucap Mira kaget melihat wajah lelaki itu.
"Wajahnya seperti familiar, kenal di mana ya?" tanya Mira dalam hatinya.
"Ya nggak apa-apa, lain kali lebih hati - hati lagi."Jawabnya.
__ADS_1
"Suaranya juga tidak asing." ucap Mira dalam hatinya.
"Maaf apa kita pernah ketemu atau kenal?" tanya Mira membuat lelaki itu menyerngitkan keningnya.