Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 68


__ADS_3

Mira tampak sibuk mencari ruko yang cocok untuk bisnisnya. Sisa hubungannya masih ada untuk membuka usaha kecil-kecilan.


Dia hanya perlu mencari tempat sewaan kios atau ruko. Dia sudah menelusuri jalan beberapa jam. Namun dia tidak menemukan sewa ruko yang pas dengan kantongnya.


"Mungkin di lanjut besok aja." ucap Mira mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Karena sudah mau sore akhirnya Mira melanjutkan pulang. Sejak kejadian itu Mira dan orang tuanya kembali ke rumah pemberian Abian. Mereka sudah tidak tinggal di kediaman Abian lagi. Mira cukup tau diri untuk tinggal di sana lagi.


Mira berjanji kepada dirinya sendiri akan semangat mencari uang agar orang tuanya tidak bergantung dengan Abian lagi. Abian atau Dita tidak pernah mempermasalahkan uang bulanan yang mereka kasih.


Mira telah sampai di rumah sederhana tapi cukup mewah bagi Mira. Rumah dua tingkat ukuran 6 x 10 berwarna cream.


"Kamu udah pulang Mir?" tanya ibunya.


"Sudah Bu."


"Gimana? dapat tempat yang cocok?"


"Belum Bu, besok coba cari lagi." jawab Mira tersenyum.


"Minta tolong Abian aja ya, biar ibu yang ngomong."


"Jangan Bu, cukup kita menyusahkan mereka." ucap Mira melarang ibunya menghubungi Abian untuk minta bantuan.


"Abian itu kan kakak kamu, apa salahnya dia bantu kamu." ucap ibunya.

__ADS_1


"Tapi mereka sudah banyak bantu kita Bu, ingat Bu


adik - adik kuliah di luar negeri semua mereka yang biayai, trus mereka juga sudah memberi uang bulanan, aku rasa itu sudah cukup Bu, jangan buat kita tidak tau diri Bu."


"Keluarga itu memeng harus begitu."


"Nggak segitunya juga Bu, kita seperti memanfaatkan mereka, sudah kali ini ibu menurut sama aku ya." ucap Mira.


"Baiklah, ini demi kamu."


"Bukan demi aku Bu, tapi demi semua."


"Ya udah ayo masuk, ibu sudah buatkan cemilan."


Mereka masuk kedalam rumah, tapi baru beberapa langkah, mereka mendengar suara yang datang.


"Waalaikumsalam." jawab Mira dan ibunya hampir serentak.


Mereka kaget melihat Dita didepan pintu dengan dia orang perempuan. Apalagi Mira yang mengenal kedua perempuan itu.


"Mira, Andin dan ibunya mau bicara." ucap Dita memulai pembicaraan.


"Siapa dia Mira?" tanya Ibunya.


"Dia mertua dan kakak ipar aku Bu." jawab Mira.

__ADS_1


"Jadi mereka perempuan laknak itu, pergi kalian dari rumah kami." ibunya mendorong Andin dan ibunya.


"Kami kesini mau minta maaf Mira, tolong kasih kami kesempatan untuk bicara." ucap Andin mencoba memohon.


"Ibu, masuklah kedalam." ucap Mira membuat gerakan ibunya terhenti.


"Kamu juga Dita, kami perlu bicara." ucap Mira lagi.


"Tapi Mir, siapa yang menjamin kamu jika mereka buat macam - macam, aku di sini aja menemani kamu." jawab Dita.


"Iya Dita benar, nanti bagaimana jika mereka memukul kamu." ucap Ibunya.


"Disini ada hukum Bu, jadi kian tidak usah kuatir."


"Baiklah." Dita mengalah.


"Kamu sih, ngapain bawa mereka kesini." ucap Ibunya mengikuti Dita masuk kedalam rumah.


Mira, Andin dan ibunya masuk keruang tamu. Mira duduk di kursi yang agak jauh dari Andin dan ibunya.


"Mir aku mohon maaf, akulah yang fitnah kamu." ucap Andin membuka pembicaraan.


"Iya Mir, aku mohon kembalilah kerumah, jangan penjarakan kami, kami berjanji akan berubah." ucap ibunya.


"Siapa yang meracuni papa?" tanya Mira.

__ADS_1


"Kami berdua, tapi itu ide aku Mir, dan aku juga yang membayar narapidana untuk memukul kamu." ujar Andin penuh penyelenggaraan.


"Mama mohon mir, maafkan mama, jika kamu mau penjarakan kami, cukup mama saja, jangan lakukan itu dengan Andin." ucap mamanya sambil bersimpuh di lantai.


__ADS_2