
"Kita makan dulu ." ucap Amar berhenti di sebuah tempat makan.
"Aku nggak bisa, aku mau jemput anakku."
"Ya udah tunggu bentar, kita bungkus aja."
"Hey nggak pakai lama." ucap Ami dengan kesal.
Sudah 15 menit Ami menunggu di mobil. Belum ada tanda-tanda Amar keluar dari tempat makan itu.Ami keluar dari mobil berniat mencari taksi.
"Mau kemana?"
"kepo aja loh bocah."
"Ayok masuk." tarik Amar.
"Ini anak makin nggak sopan, aku harus gimana ya?" ucap Ami dalam hatinya.
"Jadi incaran lo sekarang anak bocah." tiba-tiba terdengar suara yang dikenal Ami dari belakang.
Ami membalikkan badannya dan ternyata itu mantan suaminya beserta selingkuhannya. Namun Ami malas untuk meladeni mereka karena malas ribut ditempat umum.
"Hati - hati aja, siap - siap di tinggal lagi." ucap sang mantan.
"Itu bocah di bayar kali yank, masa iya ada laki-laki muda sukanya janda kayak dia." ucap perempuan di sebelah mantan suaminya Ami.
"Hahahaha bisa jadi juga, pakai sewa mobil segala biar mereka jalan nampak wah."
__ADS_1
"Cewek macam dia laki-laki mana yang mau yank."
Amar yang awalnya diam tiba - tiba emosi mendengar hinaan wanita itu karena berani merendahkan Ami.
"Mulut bisa di jaga nggak?" tanya Amar mulai emosi.
"Wah wah wah, ada yang marah, emang kamu dibayar untuk menjaga dia juga?" tanya sang mantan.
"Wah jangan-jangan uang untuk anak kamu dipakai untuk itu, bulan depan jangan dikirim lagi deh yank." ucap sang perempuan.
"Sekali lagi lo ngomong merendahkan dia, gua tonjok Lo."
"Udah Amar, ayo pergi." ucap Ami dengan emosi lansung menarik Amar masuk kedalam mobil.
"Cie cie begitunya melindungi berondongnya."
Amar masuk kedalam mobil di susul oleh Ami. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Ami memikirkan cara bagaimana cara menjauh dari Amar. Tapi otaknya kali ini butuh.
"Apa ini anak cuma sayang kepada seorang ibu atau kakak? dia masih muda belum bisa membedakan, nggak mungkin dia suka aku yang jauh lebih tua darinya." pikir Ami dalam pikirannya.
"Jangan pernah berpikir bahwa aku melindungi kamu seperti melindungi keluargaku."
"Wah wah belajar membaca pikiran ternyata."
"Aku tidak bisa baca pikiran tapi hanya mengikuti naluri saja."
"bahkan bisa lagi, seram."
__ADS_1
"aku serius sama kamu, ini bukan rasa dari anak ke ibu, atau dari adik ke kakak, tapi dari seorang lelaki ke seorang wanita." ucap Amar mencoba menyakinkan Ami.
"Aku nggak bisa mar,jangan paksa aku seperti ini, ini seperti kamu melecehkan aku."
"Dari segi mana aku melecehkan kamu?"
"Bagi aku kamu adalah muridku, murid adalah anak bagiku, tidak ada seorang anak yang menyatakan cinta layaknya seorang lelaki ke wanita."
"Sekarang aku bukan murid kamu, di luar sana banyak kok wanitanya lebih dewasa dari lelakinya, nggak ada masalah."
"Tapi masalah buat aku, karena pertama aku bukan pecinta brondong, yang kedua kamu itu pernah jadi murid aku."
"Jika aku bukan muridku dulu kamu mau gitu?"
"Ya belum tentu juga, aku bukan pecinta brondong, catat itu, apalagi saat ini aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun."
"Kamu buang trauma kamu, aku janji tidak akan menyakiti kamu."
"Jika kamu masih seperti ini ke aku, jangan pernah temui aku lagi."
"Oke fine, kita berteman deh, tapi jangan minta aku memperlakukan kamu seperti murid kepada guru."
"Kenyataannya memang seperti itu."
"Biarkan aku tidak sopan kepada guruku yang satu ini, jadilah temanku untuk saat ini, guru itu bisa jadi temankan?"
"Oke baiklah, ingat hanya TEMAN."
__ADS_1
"Fine." ucap Amar mengalah.