Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 90


__ADS_3

"Siapa dia Amar?"tanya mama lagi setelah menutup pintu.


"Hey ada apa ini?" tanya papanya ketika melihat anak dan istrinya dalam ketegangan.


"Mama duduk dulu, biar Amar jelaskan." ucap Amar menenangkan mamanya.


Setelah mamanya duduk, Amar juga duduk di depan mamanya. Sedangkan papanya duduk di sebelah kanan mamanya.


"Dia adalah guru Amar ketika sekolah dulu." ucap Amar masih belum berani berterus terang.


"Ada apa ini ma?" tanya papanya masih penasaran.


"Dia tadi bersama seorang wanita dan seorang anak membuat keributan di ruang IGD." jawab mamanya Amar.


"Ada masalah apa mar?" tanya papanya.


"Tadi anak wanita itu mengalami tidak kekerasan dari ibu tirinya, dan Amar membantu menyelidiki pa."


"Lalu apa salahnya ma?" tanya papanya heran kepada istrinya.


"Papa nggak liat lansung sih bagaimana cara dia menenangkan perempuan itu."ucap mamanya ketus.

__ADS_1


"Ya wajarlah ma, kan dia dokter." jawab papanya.


"Mama tidak percaya bahwa mereka hanya hubungan guru dan murid." ucap mamanya.


"Amar jelasin kepada mama kamu." ucap papanya tegas karena tidak mau istrinya pusing memikirkan anaknya.


"Dia Amar ketika SMA, dan Amar suka sama dia waktu itu, cuma waktu itu hanya suka begitu saja, ketika tau dia sudah menikah, Amar patah hati lalu berusaha melupakannya, akan tetapi Allah mempertemukan kami kembali saat dia sedang di selingkuhi suaminya dua tahun yang lalu, dan mereka akhirnya bercerai, setelah beberapa bulan mereka bercerai, Amar mengejar dia kembali." Amar menceritakan dengan agak takut.


"Gila kamu jatuh cinta sama guru kamu sendiri." ujar mamanya memukul Amar.


"Apa yang salah ma? kami sama-sama singgle." jawab Amar.


"Apa yang salah ma jika hati ini jatuh hati kepadanya."


"Kamu masih bisa cari wanita yang jauh lebih cantik, lagian dia biasa aja mama liat, udah janda dan punya anak pula."


"Ma itu bagus, aku pilih satu dapat dua." jawab Amar.


"Mama tidak bercanda Amar, mama tidak suka jika kamu menjalin hubungan dengan wanita yang umurnya jauh di atas kamu, apalagi dia janda." ucap mamanya sewot kali ini.


"Ma, please tolong Amar ma."

__ADS_1


"Pa tolong bilangin anak kamu itu, sampai kapanpun mama tidak akan pernah setuju, jika papa coba - coba bela dia, maka jangan tidur di kamar yang sama dengan mama." ucap mama Amar meninggalkan ruangan papanya.


"Amar papa tanya, sekarang hubungan kalian seperti apa?" tanya Papanya.


"Kami hanya dekat pa, aku sudah berusaha mengejarnya namun dia tidak membuka pintu apapun untuk aku, dia trauma."


"Mungkin dia sadar bahwa umur kalian terlalu jauh, sebelum jauh lebih baik lupakan dia, cari yang lain, ada cindi atau dokter Mela." ucap papanya menepuk bahu anaknya.


"Tapi pa, aku tidak bisa meninggalkan dia saat ini, dia sendirian."


"Papa akan bantu dia menyelesaikan masalahnya." jawab papanya.


"Biarkan aku membantunya kali ini pa, setelah itu aku akan meninggalkannya secara perlahan." ucap Amar mencoba menenangkan dirinya.


"Baik jika itu jalan yang hendak kamu tempuh, papa percaya percaya dengan ucapan kamu." ucap papanya.


"Amar pamit dulu pa, masih ada yang Amar urus."


"Baiklah, papa percaya kamu dengan muda menyelesaikan kasus ini."


Amar berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju IGD. Dia berjalan dengan cepat karena kuatir Ami mencarinya. Dia tau saat ini Ami sangat membutuhkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2