Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 85


__ADS_3

"Mira cepat ke ruangan pak Zaki, saya takut jika semua kena amukan." ucap pak Anwar setengah berteriak.


"Baik pak." jawab Mira berjalan ke ruang pak Zaki.


"Rasain Lo, bisa nangis kamu di sana nanti." ucap Bila sambil mencibir. Mira tidak menghiraukan apapun yang keluar dari mulut busuk Bila.


Mira berjalan dengan santai sambil tersenyum senang. Tidak ada wajah ketakutan di wajahnya sedikitpun. Di jalan menuju ruangan CEO dia berpapasan dengan manager keuangan.


"Siang buk." sapanya kepada wanita cantik yang menjabat sebagai manager keuangan.


"Siang." jawabnya jutek.


"Sayang cantik - cantik tapi sombong banget." ucap Mira dalam hatinya.


"Kamu mau kemana?" tanyanya bingung karena ini akses menuju ruangan CEO.


"Saya di panggil pak Zaki buk."


"Kamu karyawan yang melanggar aturan divisi saya?" tanyanya dengan wajah yang tidak enak di liat.


"Saya nggak melanggar Bu, tapi saya di suruh sama yang lainnya." jawab Mira jujur.


"Kamukan bisa menolak."


"Bagaimana cara saya menolak Bu? tolong nanti ibu ajarkan saya, karena saya ini karyawan baru selalu di tindas."


"Kamu membantah saya? berani kamu membantah saya, apa nggak takut kamu saya pecat." ucapnya berlaga sombong.


"Saya nggak bermaksud seperti itu Bu, saya hanya memohon agar ibu berbaik hati kepada saya."

__ADS_1


"Udahlah buruan sana sebelum pak Zaki marah." ucapnya meninggalkan Mira sendirian.


Mira merasa masa bodoh dengan manager seperti itu. Dia baru sekali ini bertemu dengan manager keuangan secara lansung. Biasa ia hanya bertemu dengan asistennya yaitu Bu Rara yang katanya saudara pak Zaki.


Ia sudah sampai dipintu pimpinan mereka. Sekretaris lansung menyambutnya dengan hangat.


"Mau ketemu bapak Bu?"tanya sekretaris dengan lembut.


"Iya bu" jawab Mira.


"Jangan panggil saya ibu Bu, panggil saya Rina saja." ucapnya sambil tersenyum tapi sopan.


"Boleh seperti itu?" tanya Mira ragu.


"Boleh Bu, bahkan saya akan kurang ajar membiarkan ibu memanggil saya seperti tadi, baik saya antar keruangan bapak buk."


"Baik terimakasih."


"Pak ada ibu." ucap Rina.


"Baik Rina, jangan biarkan ada yang masuk ya."


"Baik pak." jawab Rina mengerti perintah.


Rina kembali menutup pintu ruangan Zaki. Sedangkan Mira berjalan menuju meja kerja Zaki.


Saat mau duduk si kursi yang berada di hadapan Zaki, Zaki berbicara.


"Siapa yang suruh kamu duduk di sana?" tanya Zaki dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Maaf pak." jawab Mira mulai merasa agak takut.


"Dia marah ya?" tanyanya dalam hati.


"Dari mana kamu?" tanya Zaki masih dengan aura dingin.


"Dari luar pak." jawab Mira masih berdiri mulai gemetar.


"Duduk sini." ucap Zaki menepuk pahanya.


Mira agak kaget ketika Zaki menyuruhnya duduk di atas pahanya.


"Ini perintah bos."


"Tapi tidak semua perintah bos bisa di kabulkan pak, ini termasuk pelecehan terhadap karyawan."


"Kamu mau saya pecat." ucap Zaki masih dingin tapi ada sedikit senyuman.


"Tidak apa-apa pak, toh suami saya masih mampu membiayai saya." jawab Mira membuat Zaki merasa sedikit kesal.


"Jika suami kamu mampu, kenapa kamu masih bekerja di bawah perintah orang lain, bisa - bisanya kamu mau pergi keluar di jam kerja."


"Saya hanya cari pengalaman pak."


"Jangan buat mas marah Mira, sini cepat duduk di sini." ucap Zaki mulai kesal.


"Tapi pak....."


"Ini perintah suami." potong Zaki yang mulai kesal dengan jawaban Mira.

__ADS_1


Mira tersenyum melihat Zaki mulai terpancing dengan jawaban yang ia berikan. Ia berjalan ke arah Zaki lalu duduk di pelukan Zaki.


"Apa seperti ini?" tanya Mira dengan wajah mereka beberapa cm saja membuat Zaki agak kikuk.


__ADS_2