
"Sah." ucap para saksi dengan serentak.
Amar tersenyum mendengar kata sah. Setelah lama dia berusaha akhirnya dia mendapatkan cintanya. Wanita yang dia kejar - kejar cintanya menyetujui menjadi istri.
Ami segera menyalami suaminya, setelah itu Amar lansung mencium kening Ami. Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat Amar yang sudah tidak sabaran untuk memeluk Ami.
"Sabar, tunggu nanti malam." bisik Galuh di telinga kana Amar.
"Kenapa harus menunggu malam jika ada waktu luang." ucap Amar membalas ucapan kakaknya dengan tersenyum.
Galuh hanya tertawa mendengar jawaban adiknya. Adiknya memang terkenal agak nakal daripada dia, Galuh juga tau bahwa pergaulan adiknya tidak kaleng - kaleng. Amar bisa bergaul dengan berbagai macam kalangan.
Yang membuat heran Galuh, dari banyaknya temannya kenapa adiknya hanya jatuh cinta kepada satu wanita. Selain itu Amar juga diketahui sangat serius dengan cita - citanya sebagai dokter. Dengan semua usahanya terbukti bahwa dia bisa menyelesaikan pendidikan dokter spesialis ketika masih umur muda.
Setelah Akad nikah, Ami dan Amar masuk kedalam kamar mereka. Amar melihat Ami sedang membuka kerudungnya.
"Bisa nggak keluar dulu?" tanya Ami kepada Amar yang berdiri memperhatikan Ami.
"Kenapa harus keluar?"
__ADS_1
"Aku mau ganti baju."
"Ya ganti aja toh aku suami kamu, kenapa harus malu?"
Ami tidak menjawab Amar, tapi berjalan menuju toilet. Dia berjalan membawa baju agar menggantinya dalam kamar mandi. Akan tetapi Amar menghentikan langkahnya Ami dan lansung memeluk Ami dari belakang.
"Biar aku yang bantu membukakannya, kamu tidak perlu repot-repot kekamar mandi segala." ucap Amar berbisik di telinga kanan Ami.
Ami merasa malu mendengar bisikan Amar. Dia tidak menyangka bahwa lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu akan seagresif itu.
"Ini masih siang loh, malu." ucap Ami menahan gejolak di dadanya.
"Aku belum mandi."
"Kamu mau mandi atau nggak sama aja." jawab Amar memutar tubuh Ami.
Amar lansung mencium kening Ami dengan deg degan. Amar berusaha untuk menetralisir dadanya agar bisa santai. Tanpa aba-aba lagi Amar lansung ******* bibir Ami yang seksi menurutnya.
Amar sudah tidak sanggup menahan gejolak yang ada pada dirinya. Melihat tidak ada perlawanan dari Ami, ia segera membopong Ami ke atas ranjang.
__ADS_1
Saat Ami dalam kungkungan Amar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mereka berdua kaget minta ampun melihat mama Amar berada di ambang pintu.
"Amar, kamu ngapain?" teriak mamanya histeris.
Amar menghembuskan nafas dengan kasar karena kehadiran mamanya sangat mengganggu. Sedangkan Ami nampak sangat malu sekali karena bajunya sudah dalam keadaan terbuka bagian dadanya.Amar segera membantu istrinya menutupinya.
"Kamu yang ganggu pasti, Ami mau di dandani karena acara satu jam lagi mau di mulai."
"Masih lama ma? mama ganggu aja." jawab Amar kesal.
"Apa kamu bilang, masih lama? kamu tau nggak make up itu nggak sebentar." ucap mamanya sambil menjewer telinga anak bungsunya.
"Sakit ma, ampun." ucap Amar merasa sakit ketika telinganya di jewer mamanya.
"Ami ayo mandi, biar MUA nya masuk setelah kamu mandi, oh ya jangan lupa makan dulu ya sayang." ucap mamanya kepada Ami.
"Awas jika kamu ganggu Ami lagi, mama kacau nanti malam." ancam mamanya.
"Sekarang kamu ambilin Ami makan ke luar sana daripada bengong di sini." ucap mamanya lagi kepada Amar. Sedangkan Amar hanya menggaruk kepalanya sambil berjalan keluar kamar.
__ADS_1