Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 106


__ADS_3

Mira sedang berjalan menuju toilet sendirian. Sedangkan Zaki sedang melayani tamu - tamu penting malam ini. Acara masih berlanjut dengan meriah di salah hotel kepemilikan Alan.


Saat berkaca di dalam toilet tiba-tiba Bila masuk dan lansung berjongkok di depan Mira. Mira agak terkejut melihat Bila datang tiba-tiba.


"Bu Mira maafkan sikap saya selama ini, saya mengaku bersalah, jangan pecat saya Bu." ucap Buka dengan wajah panik.


"Ngapain mbak, ayo berdiri mbak jangan seperti itu." ucap Mira kaget.


"Ibu tolong maafkan saya, saya janji tidak akan mengulang perbuatan saya untuk anak baru kedepannya, saya janji Bu." Bila masih belum mau berdiri.


"Iya saya sudah maafkan mbak, jadi nggak usah seperti ini." ucap Mira.


"Terima kasih ya Bu." Bila merasa lega karena nyonya besar big bosnya sudah memaafkannya.


"Sama - sama, saya pamit dulu ya." pamit Mira.


"Silahkan Bu." ucap Bila menundukkan kepalanya.


Mira berjalan dengan elegan memasuki tempat acara. Zaki melihat istrinya kembali dan ia agak kuatir ketika melihat Bila karyawannya yang juga ada di belakang Mira.


"Maaf saat permisi sebentar pak." ucap Zaki berpamitan kepada tamu yang sedang bicara dengannya.


Zaki menghampiri istrinya yang sudah duduk bergabung dengan Dita dan yang lainnya. Dia berdiri di samping istrinya lalu berbisik.


"Kamu di apain sama Bila?" tanya Zaki kuatir.


"Nggak ada, dia cuma minta maaf."


"Benaran seperti itu?" masih berbisik


"Iya mas."


"Haduh yang mesranya." ucap Siska heboh.


"Maklum masih hangat." jawab Zaki membuat semua ibu - ibu yang di meja itu tertawa.


"Udah sana sama bapak - bapak, ini meja ibu - ibu bergengsi tinggi." ucap Dita mengusir Zaki.


"Sabar, saya masih kangen sama istri saya, gimana dong?" tanya Zaki di buat - buat genit.


"Nanti aja bucinnya di rumah, mengganggu aja." usir Dita.


"Dia kira nggak capek apa kita sebagai wanita melayani kebucinan bapak - bapak." ujar Siska.


"Curhat nih." ujar Febi yang dari tadi hanya sebagai pendengar.


"Eh mending kamu ajak calon ipar kamu gabung di sini, ngapain dia sama Amar aja dari tadi." usul Dita.


"Gimana caranya? belum akrab juga." ucap Siska bingung.

__ADS_1


Setelah berpisahnya rombongan bapak - bapak dari para istri mereka, Amar memang hanya berduaan dengan Ami. Dia nampak sangat menjaga Ami di acara ini. Dia takut jika Ami belum bisa menyesuaikan dengan kakak ipar dan teman - temannya.


Sedangkan Amar dan Ami nampak sangat menikmati waktu mereka malam ini. Gala sedang main bersama dengan anak - anak yang lain.


"Gimana?" tanya Amar kepada Ami.


"Apanya yang gimana?"tanya Ami bingung dengan pertanyaan Amar.


"Kamu betah nggak disini? jika nggak kita pulang aja." ucap Amar berbisik kepada Ami.


"Aku nggak apa-apa, nggak usah pikirin aku." jawab Ami.


"Jadi gimana?" tanya Amar lagi.


"Apanya lagi yang gimana?" tanya Ami sambil menyerngit.


"Kamu sudah bersedia menjadi istri aku?" tanya Amar dengan deg degan.


"Aku tidak suka kamu bahas hal seperti itu lagi." ucap Ami lansung berdiri dan berjalan menuju area luar.


Amar mengejar Ami dengan cepat. Ia menitipkan Gala kepada kakaknya untuk sementara. Ia segera menyusul Ami keluar dari tempat acara.


"Kamu itu maunya apa sih?" tanya Amar agak marah.


"Kamu yang maunya apa? apa kata orang nanti jika kita menikah?"


"Kenapa harus memikirkan kata orang, ini hidup kita." ucap Amar memengang tangan Ami.


"Apa selama ini aku nampak main - main, apa selama ini kamu melihat aku kurang serius sama kamu, dimana kurang seriusnya." ucap Amar dengan nada tinggi.


"Kenapa kamu yang harus marah?"


"Kenapa aku marah kamu tanya, jadi selama ini kamu udah dekat sama aku kenapa? kamu PHP aku?" tanya Amar.


"Aku ini sudah tua, nanti aku akan lebih dulu keriput daripada kamu,aku bisa lebih dulu pikun daripada kamu, aku ini perempuan."


"Justru itu, ketika kamu tidak kuat lagi berdiri saat tua nanti, aku masih bisa menggendong kamu, merawat kamu, aku tidak peduli dengan kerut di wajah kamu, aku cinta kamu dari sini." ucap Amar memukul dadanya.


Ami menangis mendengar penjelasan Amar. Baginya cinta Amar begitu besar kepadanya. Baginya cinta Amar begitu tulus kepadanya.


"Apa aku pantas mendapatkan itu semua?"tanya Ami sambil menangis.


"Ini bukan soal pantas atau tidak, tapi yang aku tau aku mencintaimu tulus tanpa ada apanya." ucap Amar membawa Ami kepelukannya.


Ami menangis di dada Amar sambil menyembunyikan wajahnya. Amar mengelus punggung wanita yang di cintainya dengan lembut.


"Jadi apa kamu berpikir aku masih main - main? lupakan trauma kamu, aku bukan lelaki bajingan itu, aku tidak akan berjanji kepadamu, tapi aku berjanji kepada Allah bahwa aku akan menjagamu seumur hidupku." ucap Amar meyakinkan Ami lagi.


"Terima kasih." ucap Ami masih di peluk Amar.

__ADS_1


"Jadi mau?" tanya Amar melepaskan pelukan Ami agar bisa melihat ekspresi wajah wanita itu.


Ami mengangguk dengan malu. Amar tersenyum melihat wajah wanita itu memerah menahan malu.


"Udah tua masih aja kayak anak ABG yang malu - malu." ucap Amar sambil tersenyum.


"Kamu." Ami mencubit tangan Amar karena malu.


"Udah, ayo kita masuk ke dalam lagi, nanti yang lain pada cariin, dan mulai malam ini belajar memanggil aku dengan panggilan Abang atau mas." ucap Amar dengan tersenyum.


"Banyak maunya." ucap Ami berjalan meninggalkan Amar.


"Hey barengan dong sayang." ucap Amar mensejajarkan jalannya dengan Ami.


"Ayo gandeng tangan aku, biar agak mesra dikit."


"Nggak ah, nanti diliat papa dan mama kamu, merekakan ada di sini juga." Ami menolak tangan Amar.


"Biar lebih cepat di nikahi." ucap Amar mengambil paksa tangan Ami.


"Pemaksa." ucap Ami merengut.


"Nggak apa-apa, yang penting kamu jadi milik aku." ucap Amar tersenyum penuh kemenangan.


Amar masuk dengan wajah sumringah sedangkan Ami masih malu-malu. Saat sedang masuk ke dalam, tidak sengaja Amar bertemu dengan teman satu sekolahnya yang sudah menjadi pengusaha.


"Amar." panggilnya.


"Eh Andi, apa kabar?"


"Baik, ini pacar kamu?"


"Ini Bu Ami kan? benaran Bu Ami?" tanya teman Amar Andi.


"Iya ini Ami calon istri aku." jawab Amar.


"Kok bisa? sejak kapan kamu suka Bu Ami? apa sejak sekolah?" tanya Andi sambil tersenyum.


"Jodoh tidak ada yang tau kan? apa ada yang salah?" tanya Amar dengan tersenyum santai.


"Iya juga, selamat ya, semoga selalu berjodoh."!ucap Andi tiba-tiba merasa bersalah.


"Aku pamit dulu ya mar, Bu Ami." ucap Andi ingin menyalami Ami.


"Maaf dia calon istri aku." ucap Amar mengambil tangan Ami.


"Tapi ini salam hormat seorang murid dengan guru, ya kan Bu Ami?"


"Tidak harus bersentuhan, kan bukan mahram, cukup kamu bawakan kado yang mewah untuk gurumu ini." ucap Amar menarik Ami menjauh dari Andi.

__ADS_1


"Mak belum apa-apa, udah cemburu tidak jelas." ucap Andi sambil berjalan.


__ADS_2