
" Gala harus di bawa kerumah sakit." ucap Amar lansung mengendong Gala.
"Dia kenapa?" tanya Ami panit.
"Sepertinya dia terkena DBD, ayo segera." jawab Amar lansung membawa Gala ke mobil.
Ami yang nampak panik lansung mengambil tas dan segera menyusul Amar. Gala di peluk oleh Ami kembali di kursi depan. Amar membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit keluarganya.
Awalnya Amar ragu untuk membawa ke sana. Banyak pertimbangan yang di pikirkan oleh Amar. Akan tetapi setelah memikirkan dengan matang, akhirnya Amar membawanya kesana karena fasilitas yang lengkap. 15 menit mobil Amar memasuki rumah sakit. Amar parkir di depan Instalasi Gawat Darurat. Nampak perawat jaga IGD berlari membawa brankar menyambut Gala.
Amar meletakkan Gala di atas brankar. Amar menyuruh Ami agar menemani Gala terlebih dahulu. Amar segera memindahkan mobilnya menuju parkiran rumah sakit.
Ketika Amar masuk ke ruang IGD nampak dokter sedang menangani Gala. Amar hanya berdiri memantau kesigapan dokter. Setelah di periksa oleh dokter, Gala di putuskan untuk di rawat inap.
Amar segera menyelesaikan administrasi agar Gala bisa di pindahkan ke instalasi rawat inap. Setelah selesai barulah Galah di pindahkan ke ruangan rawat inap.
Ami nampak panik dan bingung karena pertama masuk kerumah sakit untuk berobat seperti ini. Ia hanya dia dan ikut kemana Amar tanpa protes. Ketika sudah berada di dalam ruangan rawat inap Ami terdiam karena hanya ada satu ranjang.
"Mar kok cuma sendirian, biasa ada beberapa ranjang."
"Ini kelas VIP."
Kok nggak yang biasa aja, nanti uang aku nggak cukup bayar." ucap Ami dengan jujur.
"Di sini nggak terlalu mahal, emang gaji kamu berapa sih sebulan, masa nggak kumpul - kumpul uangnya." jawab Amar.
"Nggak usah kepo kamu." jawab Ami kesal.
Amar hanya tersenyum melihat muka kesal Ami. Amar sengaja memilih kamar VIP agar mereka nyaman.
"Kamu udah makan?" tanya Amar kepada Ami.
__ADS_1
"Nanti aku bisa cari sendiri."
"Dengan ninggalin Gala sendirian di sini?"
"Makanya ambil kamar yang ada dua ranjang atau empat gitu biar agak rame."
"Orang pilih yang sepi agar cepat pulih, ibu ini malah aneh."
"Besok pas kerja gimana dengan Gala?"
"Ya kamu liburlah, anak sakitpun." jawab Amar.
Amar duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ami yang duduk di dekat Gala hanya diam memandang Gala.
Ami sekilas memandang ke arah Amar yang nampak sedang mempelajari sesuatu dari ponselnya. Ami tidak tau entah apa yang di pelajari oleh pemuda itu. Ami sangat berterima kasih kepada pemuda itu karena selalu menolongnya.
"Apakah dia malaikat yang dikirim Allah?" tanya Ami dalam hatinya.
Ami memandang Amar yang tampak jauh gagah. Lalu ia memandang dirinya sendiri yang jauh dari kata cantik.
"Aku tau aku ini gagah jadi tidak usah begitu memperhatikan aku, nanti kamu bisa terpesona dan nggak bisa lepas dari aku." ucap Amar tapi masih fokus kepada ponselnya.
"Siapa yang terpesona sama anak muda kayak kamu." jawab Ami memalingkan pandangannya.
"Emang aku anak muda kayak mana?"
"Masih kencuran."
"Eh hati - hati, sekali jatuh nggak bisa bangkit lagi." ucap Amar tersenyum.
"Aku kebawa dulu sebentar." ucap Amar lagi berpamitan.
__ADS_1
Ami kembali dalam lamunannya. Hatinya memikirkan Amar yang sudah pergi. Ia sangat berterima kasih kepada lelaki itu karena selalu membantunya keluar dari masalah.
"Apa yang kamu suka dari aku yang udah tua begini?"
"Siapalah aku sehingga kamu bisa bilang cinta dengan mudahnya*."
"Baru sebentar di tinggal udah segitunya memikirkan aku." ucap Amar memukul pundak Ami.
"Mana ada ya." ucap Ami kaget.
"Kamu makan dulu, nanti kamu tidur aja di sofa sana, biar aku yang duduk jaga Gala." ucap Amar.
"Terima kasih sekali lagi." ucap Ami lansung mengambil nasi yang di sodorkan Amar.
Ami lansung duduk dan menyuap nasinya. Amar awalnya hanya duduk menyaksikan Ami makan. Entah kenapa dia merasa sangat ingin menggoda Ami.
"Enak ya?" tanya Amar
"Enak, kamu belum makan?" tanya Mira kepada Amar.
"Tadi sudah, tapi tiba-tiba lapar lagi lihat kamu makan, boleh coba nggak?" tanya Amar sedikit meringis.
"Tapi ini sisa."
"Sama teman pun, biasa kami makan bersama juga, sama kayak kamu sama teman-teman kerja." jawab Amar mencoba meyakinkan.
"Ya udah sini aku suapin." ucap Ami lalu menyuapi Amar sebagai rasa terima kasihnya.
"Benaran enak." ucap Amar tersenyum.
"Mau lagi?" tanya Ami.
__ADS_1
"Makan aja dulu, setelah kamu baru aku lagi, biar bisa sambil baca materi untuk kuliah besok."
Ami kali ini hanya mengikuti apa yang di katakan Amar. Ia melihat Amar nampak sedang fokus pada ponselnya. Ia merasa dengan hadirnya Amar, membuatnya merasa bersyukur.