
Mira kaget melihat mamanya bersimpuh di lantai. Ia segera membantu mama mertuanya untuk bangun.
"Ma bangun ma, aku sudah memaafkan kalian." ujar Mira.
"Terima kasih Mir, kembalilah kerumah, kami tidak akan ganggu kamu lagi, lagian mama dan papa udah bercerai." ujar mamanya membuat Mira agak terkejut.
"Iya Mir, sedangkan pernikahan aku dalam goncangan hebat, suami aku ingin kita berpisah, tapi aku tidak mau, tolonglah kembali Mir."
"Nanti aku pikirkan kembali, tolong beri aku waktu untuk berpikir." jawab Mira.
"Apa perlu Zaki kesini jemput kamu?" tanya Andin lagi.
"Nggak usah kak, aku bisa kesana sendiri jika memang aku ingin kesana."
"Baiklah kami tunggu, mungkin kami pamit dahulu." ucap mama mertuanya.
Mira melihat mereka berjalan keluar dari pintu pagar. Mira merasa sangat kasihan dengan masalah rumah tangga mereka.
"Udah ngupingnya?" tanya Mira yang sebenarnya tau bahwa Dita dan ibunya sedang menguping pembicaraan mereka.
"Kamu mau kembali sama mereka?" tanya ibunya.
"Bisa jadi Bu."
"Jangan, mereka terlalu kejam."
__ADS_1
"Tapi mereka orang kaya loh Bu, apa ibu nggak pengen kita jadi kaya raya." ucap Mira sambil tersenyum.
"Jika memang Zaki mau kamu bersamanya, biar dia ikut kamu kesini dulu, nanti setelah beberapa bulan baru kamu pikirkan, apakah dia benar berubah." ucap Dita.
"Ibu setuju dengan Dita, lebih baik dia yang ke sini."
"Aku lebih nyaman tinggal di sana sih Bu." jawab Mira.
"Ah kamu memang keras kepala." ucap ibunya meninggalkan Mira dan Dita di ruang tamu.
"Aku pamit dulu, semoga aja mereka benar-benar berubah." pamit Dita kepada Mira.
"Aamiin, terima kasih." ucap Mira.
Dita meninggalkan rumah Mira. Dita tersenyum saat mendengar gerutu dari mulut Dita.
"Lain kali aku buatkan. minuman yang enak." jawab Mira dengan keras.
"Nggak usah, kita lebih bersyukur di kasih air putih saat benar - benar haus daripada air warna tapi saat tidak haus." jawab Dita.
"Ya udah mungkin lebih bagus, biar kami bisa hemat." teriak Mira.
"Terlalu hemat nggak akan cepat kaya." ejek Dita sambil bercanda.
Mira hanya tertawa mendengar ejekan Dita. Dia tau bahwa perempuan itu adalah wanita yang baik. Hanya karena keinginan orang tuanya yang membuat wanita itu marah saat itu.
__ADS_1
"Kemana si Dita?" tanya ibunya muncul membawa minuman kesukaan Dita.
"Ternyata begitu peduli dengan menantu." ejek Mira.
"Ya peduli lah, dia menantu ibu yang pertama, kemaren kan karena kamu aja ibu terbawa - bawa." ucap ibunya masih melihat ke arah gerbang.
"Hmmm plin - plan, aku tau ibu sayang sama Dita, tapi ibu merasa tidak enak hati sama ayah."
"Ibu takut kecewakan kamu dan ayahmu."
"Aku paham, tapi ibu juga harus lindungi hati Dita, Abian bisa gila jika tidak ada Dita." ucap Mira.
"Kok kamu tau?" tanya ibunya.
"Mama nggak liat selalu bahwa bang Bian bucin banget sama Dita."
"Bukan nggak tau, tapi ya sudahlah." jawab Ibunya.
"Dah ah, mau masuk dulu Bu." pamit Mira.
"Jadi gimana? tanya ibunya .
"Apalagi Bu?"
"Udahlah, ayo bantu ibu masak untuk makan malam." ajak ibunya.
__ADS_1
"Dengan senang hati ibu." jawab Mira sambil tertawa senang.