
Mira memilih masuk kedalam kamar Zaki. Ia merasa lebih baik menunggu di kamar. Apalagi dengan adanya Eliza membuat dia lebih malas pulang ke apartemen.
Mira melihat Zaki masuk kedalam kamar dengan wajah kesal. Raut mukanya nampak lebih menyeramkan dari biasanya. Mira agak takut untuk sekedar bertanya.
"Kamu maunya apa sih?"tanya Zaki lansung mencekik Mira.
"Aku kenapa?" tanya Mira mencoba menjawab.
"Apa yang kamu berikan ke papa sehingga papa sangat peduli sama kamu ha." ucap Zaki sambil mencekik Mira dengan kuat.
"huk huk huk." Mira terbatuk-batuk saat tangan Zaki melepaskan dirinya. Dia terjatuh kelantai tanpa berdaya.
"Bagaimanapun cara kamu untuk memisahkan aku dan Eliza itu tidak akan berhasil, aku dan kamu hanya menikah bohongan, jadi kamu nggak usah berharap lebih." ucap Zaki memakai Mira.
"Sebagai tamengnya kamu harus tetap pulang ke apartemen, jika kamu di sini maka aku tidak akan bisa ketemu Eliza." Zaki menarik tangan Mira dengan kuat.
Mira terpaksa mengikuti langkah kaki Zaki. Ia merasa tangannya sangat sakit. Mira hanya diam saat Zaki membawa mobilnya dengan kencang.
Sesampai di apartemen Zaki lagi - lagi menarik tangannya dengan cengkraman kuat. Mira merasa tangannya mulai kesakitan.
"Lepas, sakit tau." Mira mencoba memberontak.
"Kamu tidak akan aku lepaskan."
__ADS_1
"Jika kamu merasa aku ini penghalang, kamu bisa biarkan aku pergi." ucap Mira mencoba memberikan perlawanan.
"Kamu bisa pergi tapi kamu harus ganti uang aku atau pilih masuk penjara." ancam Zaki.
Mira terdiam mendengar ancaman Zaki. Ia melepaskan cengkraman Zaki. Lalu berlari masuk ke kamarnya.Eliza melihat semua itu menjadi heran.
"Apa apa sayang? kok kamu berantem sama dia?" tanya Eliza dengan lembut.
"Biarkan aja dia, jangan ikut campur."
"Kok kamu jadi marah ke aku sayang." ucap Eliza dengan kesal.
"Maaf, maaf, jangan ngambek gitu dong." bujuk Zaki kepada Eliza.
"Kamu tadinya suruh papa pulang, kita pesan makan online aja ya."
"Oke, nggak masalah." jawab Eliza dengan senyum.
"Senyum kamu bikin aku nggak bisa lepas dari kamu." ucap Zaki mencium punggung tangan Eliza.
Zaki dan Eliza duduk menonton televisi. Eliza duduk sambil memeluk Zaki. Sedangkan Zaki masih memikirkan ucapan papanya saat berkunjung tadi.
Setelah makanan mereka sampai, Eliza makan hanya sedikit. Zaki hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat wanita itu selalu makan tidak banyak.
__ADS_1
"Kok makannya sedikit kali sih?" tanya Zaki.
"Udah sayang, nanti jika kebanyakan badan aku penuh sama lemak aja, aku ini artis harus jaga makan."
"Olahraga sayang."
"Kamukan tau, aku ini malas olahraga."
"Kamu kapan kembali?"
"Kenapa tanya begitu? kamu nggak senang aku di sini?"
"Bukannya gitu, aku maunya kamu tidak usah pergi, tetap dalam pelukan aku sehari - hari."
"Maunya kamu." ucap Eliza berlari masuk kekamar.
"Bukannya juga mau kamu." ucap Zaki mengejar Eliza.
Mira hanya mendengar ucapan mereka dari dalam kamarnya. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit. Tidak ada yang menyadari jika wanita itu mengintip lewat pintu kamarnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Mira. Wanita itu melihat ke arah kamar Zaki ketika melewati ruang itu. Rasa penasarannya lebih tinggi dari apapun. Mira sangat kaget ketika melihat apa yang mereka lakukan.
Mira segera kembali ke dalam kamarnya. Ia tidak menyangka bahwa hubungan mereka sudah sejauh itu. Mira mencoba memejamkan matanya agar bisa melupakan apa yang ia lihat tadi.
__ADS_1