
"Mira ngapain di sini?" terdengar suara lelaki yang khas bagi Mira.
Mira mendongakkan kepalanya lalu melihat pria yang menegurnya. Dia berpikir itu Galuh akan tetapi itu adalah Amar.
"Kamu ngapain di sini sendiri?" tanya Amar melihat Mira sendirian di halte.
"Aku nunggu taksi Am, kamu kenapa bisa disini?" tanya Mira.
"Tadi aku lewat dan liat kamu di sini, ayo aku antar pulang."
"Aku tidak tinggal sama kedua orang lagi."
"Aku tau, kamu tinggal di rumah suami kamu itu."
"Tapi aku...."
"Kamu ada masalah?masalah harus di selesaikan dengan kepala dingin, nggak baik kabur dari suami." nasehat Amar.
"Kamu dokter kan Am?"
"Iya, kenapa? kamu sakit?"
"Satu - satu dong tanyanya." ucap Mira.
"Baik, tapi kita bisa ngobrolnya di mobil aja."
"Baiklah."
"Mau di antar kemana?"
"Pergi ke kafe aja gimana?"
"Oke."
Mira masuk kedalam mobil Amar. Amar lansung tho the point menanyakan hal yang tadi ditanyakan Mira.
"Jadi kenapa jika aku dokter?" tanya Amar penasaran.
"Gimana ya mau memulai, kita nggak terlalu akrab."
__ADS_1
"Keluarga kita udah dekat loh, atau perlu aku telpon bang Bian." ucap Amar.
"Nggak usah, nanti bang Bian bisa marah besar."
"Makanya cerita."
"Aku masih ragu, cuma kekasih masa lalu suamiku kembali dan dia mengandung."
"Eliza?" tanya Amar tersenyum.
"Kok kamu tau? kamu kenal dia?"
"Kenal, kamu tidak mengenal perempuan itu, dia kan artis pendatang baru."
"Dia mengaku hamil anak Zaki."
"Dan kamu percaya?"
"Ya bisa jadi karena mereka pernah punya masa lalu."
"Dia hamil berapa bulan? atau kamu mau dia tes DNA."
"Bisa, kamu lupa bang Galuh termasuk dokter kandungan hebat, kamu bisa minta tolong dia, aku rasa dia tidak akan menolak untuk membantu kamu, apalagi jika bang Bian yang minta tolong."
"Tapi aku yakin itu bukan anak Zaki, dia suka tidur dengan banyak lelaki." ucap Amar lagi.
"Masa iya?"
"Kamu nih nggak percaya, dia demi bisa main film aja berani tidur dengan produser, sekarang kan dia lagi di campakkan produser itu karena ketahuan oleh istrinya."
"Kamu tau darimana?"
"Aku ini gini - gini tapi banyaklah teman yang nakal, dan banyak teman-teman aku yang sudah pakai dia." ucap Amar tersenyum kecut.
Mereka telah sampai di kafe xx punya kakak ipar Alan. Amar membawa Mira masuk kedalam kafe tersebut.Mereka duduk di meja yang ada di lantai dasar.
"Jadi dia benar-benar tidur sama banyak orang?"
"Iya, bahkan suami kamu itu pernah dia khianati, padahal kurang kaya apa Zaki."
__ADS_1
"Sekarang masih sama?"
"Siapa yang mau tidur sama perempuan hamil, tapi kadang memang ada sih yang kelainan ****, mereka pengen tau sensasi tidur dengan wanita hamil."
"Dia jual diri?"
"Apalagi demi gaya hidup dia."
"Isss kok ada wanita seperti itu, menjijikkan sekali." ucap Mira.
"Makanya dia sengaja menjebak suami kamu, mungkin dia berpikir bahwa suami kamu masih tergila - gila dengan dia."
"Tapi saya rasa suami kamu tidak akan mudah dia bohongi, semua lelaki nakal tau kok bagaimana liarnya dia." ucap Amar lagi.
"Terima kasih atas informasinya."
"Sama telpon suami kamu."
"Aku pulang sendiri aja."
"Aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendirian, apalagi sedang hamil begini?"
"kamu tau darimana?" tanya Mira heran.
"Keluarga kamu dah heboh dengan kehamilan kamu dan berita itu juga sampai ke rumah aku." jawab Amar.
Mira menghubungi suaminya lewat ponsel. Ketika sedang menelpon tiba-tiba Mira melihat sepasang suami istri mendekati mejanya.
"Di sini mar?" tanya Bella.
"Iya kak, kakak di sini juga?"
"Iya, nemani mas Alan, Ami mana?" tanya Bella kepo melihat keberadaan Mira.
"Dirumahlah kak, ayo duduk dulu gabung." tawar Amar agar nanti suami Mira tidak cemburu kepadanya.
"Baik." ucap Alan yang paham situasi.
Alan dan Bella duduk bergabung di meja Amar. Amar sempat cerita - cerita dengan Alan seputar bisnis. Setelah 20 menit bergabung sampailah Zaki di kafe tersebut.
__ADS_1
"Sayang kamu nggak apa-apa?" tanya Zaki ketika baru datang. Tapi setelah itu dia diam melihat ada Amar dan yang lainnya.