
"Kami duluan ya mbak." pamit Mira.
Ami kembali memilih barang sesuai list yang di dibutuhkannya. Namun dia masih mendengar pembicaraan kedua perempuan tadi.
"Mir, bukannya lelaki itu Amar, adik ya Galuh yang di jodohkan sama kamu?" tanya Ibunya Mira.
Mendengar nama Amar di sebut, jantung Ami bergetar lebih cepat. Ia menoleh ke arah pintu, betapa terkejutnya dia karena ternyata memang Amar sedang berjalan menuju masuk ke minimarket.
Ami segera untuk bersembunyi karena ia belum siap bertemu dengan Amar. Sedangkan ibu Mira lansung menegur Amar ketika berpapasan.
"Kamu Amarkan?" tanya ibu Mira.
"Iya, maaf tapi siapa ya? saya kayak pernah jumpai tapi lupa." jawab Amar mencoba mengingat kembali wajah itu.
"Kamu lupa dengan kami? ini Mira loh, adiknya Abian." jawab ibunya bersemangat.
"Ohw iya, bukannya kita pernah bertemu juga?" tanya Amar mengingat kejadian di mall Minggu lalu.
"Ohw jadi kalian pernah ketemu, mungkin pertanda jodoh." ucap ibu Mira.
"Bisa aja ibu, apa kabar?" tanya Amar masih ramah.
__ADS_1
"Baik kami, kami tinggal di sini, mampir dulu yuk kerumah." ajak ibu Mira berbasa-basi.
"Lain kali aja Bu, saya .asih ada perlu."
"Ya udah, kami duluan." pamit Mira menarik tangan ibunya.
"Apa sih ibu nih, malu - maluin aja." gerutu Mira.
"Kan usaha, mana tau jodoh." jawab ibunya.
Amar hanya tersenyum sekilas melihat kepergian kedua perempuan itu. Dia mengedarkan kembali pandangannya kedalam minimarket. Tidak nampak bahwa Ami ada didalam.
Sedangkan Ami sedang berusaha mencari jalan keluar. Ami mengendap-endap di balik tak minimarket. Namun tiba-tiba dia lagi - lagi menabrak seseorang lagi.
"Kangen aku hm." ucap Amar tersenyum melihat wanita itu.
"Kamu ngapain sih di sini?" tanya Ami pura pura kaget.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu Kemana aja menjauh dari aku, sampai pindah rumah segala." ucap Amar.
"Siapa yang menjauh, itu perasaan kamu aja."
__ADS_1
"Kamu dengar baik-baik, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa pergi dari aku." ucap Amar percaya diri.
"Yang sopan dong nak, aku itu pernah jadi guru kamu."
"Jangan harap aku panggil ibu, panggil ibu dari anak-anakku baru aku mau"
"Jangan terlalu banyak bermimpi, cinta itu tidak segampang itu, apalagi dengan umur aku yang jauh lebih tua dari aku." jawab Ami.
"Apa masalahnya dengan umur?" tanya Amar.
"Ya adalah, dari pola pikir aja udah beda, apalagi aku lebih tua dari kamu, aku bakalan lebih tua duluan, sementara kamu masih gagah dan bisa - bisa selingkuh."
"Hei tidak semua laki-laki sama dengan mantan suami mu yang keparat itu, aku lebih muda dari pada kamu justru tepat."
"Adapula tepat? ngehalu lagi kamu?"
"Jika kamu tua maka tubuhku masih kuat untuk menggendong kamu, tanganku masih kuat untuk memandikan kamu dan merawat kamu, aku ini lelaki yang akan menjaga kamu sampai kamu nenek.".ucap Amar meyakinkan.
"Semua lelaki akan bilang seperti itu, manis sekali karena masih mengejar, giliran udah dapet maka di sia - siakan."
"Jangan kerena kamu pernah gagal sekali, maka semua lelaki kamu anggap seperti itu."
__ADS_1
"Udahlah, aku mau pulang, Gala di rumah sendiri."
"Ya udah, sini aku bayar." ucap Amar mengambil keranjang belanja Ami lalu membayarnya di kasir. Pada awalnya Ami menolak, akan tetapi ia tidak bisa menolak keinginan Amar.