Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 75


__ADS_3

Mira sedang memulai pekerjaan barunya. Ia tidak jadi membuka bisnis jual baju online lagi. Setelah di pikir - pikir dan kurangnya dananya membuatnya banting stir. Mau tidak mau dia mulai bekerja.


Ibunya menawarkan bekerja di perusahaan Abian. Alan tetapi Mira tidak ingin kehadirannya merusak kebahagiaan Dita.


Mira nampak sibuk di kubikelnya mengerjakan sebuah laporan keuangan yang di suruh oleh manager.


Karena masih training, ia masih sering salah. Ia tidak luput dari kemarahan Bu Rara sebagai tangan kanan Manager.


"Mira, kenapa kamu salah - salah terus? kerja yang becus dong."


"Maaf, saya ulang lagi buk." jawab Mira agak ketakutan.


"Jangan hanya bilang maaf, belajar dari kesalahan."


"Iya Bu."


"Iya, iya trus, kamu itu paham nggak sih dengan omongan saya." ucap Bu Rara dengan suara keras.


"Paham Bu." jawab Rara dengan malu.


Bagaimana tidak malu, ia dimarahi sekian kalinya didepan umum.


"Cepat kamu beresin semua, awas jika salah lagi, sebentar lagi CEO baru kita mau datang ke sini melihat kinerja kita."


"Baik Bu." jawab Mira kembali ke kubikelnya. Ia harus menunjukkan kepada bu Rara bahwa ia bisa bekerja dengan baik.


Mira mulai konsentrasi membuat laporan keuangan perusahaan. Ia tidak ingin ada kesalahan lagi dalam pengerjaan kali ini.


"Mira, tolong kerjain ini donk." ujar Bila yang baru datang menghampiri Mira.

__ADS_1


"Tapi saya masih ada laporan keuangan yang belum selesai kak." ucap Mira.


"Kamu itu masih baru di sini, jika gua bilang kerjain berarti kerjain." ucap wanita itu dengan nada keras.


"Kenapa ini?" tanya kepala pengawas kepada mereka.


"Ini pak saya menyuruh Mira menyelesaikan ini tapi dia keberatan, padahal dia cuma punya satu kerjaan." jawab Bila membuat Mira ingin marah.


"Mira, kamu ini masih training tapi sudah berani membantah senior kamu, cepat kerjain tugas yang dia kasih." ucap pak Anwar kepala pengawas.


"Jika dia nggak bisa di sini pindahkan aja dia ke bagian gudang pak." usul Bila.


"Nanti akan saya pertimbangkan." jawab pak Anwar tersenyum kepada Bila.


"Makan siang bareng yuk pak." ajak Bila lagi.


Bila dan pak Anwar pergi meninggalkan Mira sendirian. Mira melihat semua karyawan sudah pergi makan siang. Sedangkan dia masih fokus mengerjakan laporan keuangan.


Mira menahan perutnya yang terasa lapar. Hatinya menangis dengan nasib hidupnya yang belum kunjung kelar.


Garis kemiskinan belum juga menghilang dari dirinya saat ini. Meskipun dia di kasih jatah oleh Abian tiap bulan, tapi ia tidak pergunakan. Mira hanya membiarkan di rekening dan kadang memberikan kepada yang lebih membutuhkan.


Seseorang melewati kubikel dengan aura yang maskulin. Mira masih tidak menyadari bahwa bosnya melewati kubikelnya.


"Jam istirahat gunakan untuk istirahat sebaik mungkin." tegur bosnya.


"Baik pak." jawab Mira menjawab ucapan itu.


Mira melihat kepada orang yang telah menegurnya. Ia kaget saat melihat orang yang sudah berjalan beberapa meter. Dari belakang laki - laki itu sekilas mirip Zaki.

__ADS_1


"Kok mirip Zaki?" tanya Mira bertanya dalam hatinya.


"Ahk nggak mungkin, Zaki kan kantornya di kota B." ucapnya lagi sambil melangkah ke arah kantin kantor.


Semua meja nampak penuh dengan karyawan. Mira melihat ada sebuah kursi kosong di bagian tengah. Dia berjalan sambil membawa makanannya.


"Permisi, apa boleh bergabung?" tanya Mira dengan sopan.


"Silahkan, jika kamu mau makan ini." jawab seorang wanita memasukkan air kedalam nasi Mira.


"Kok nasi aku di masukan air?" tanya Mira masih sabar.


"Emang kenapa? kamu mau ribut dengan aku?".


"Maaf kak, tapi ini perusahaan, jangan kayak preman." ucap Mira menjawab.


"Kamu belum tau siapa saya ha?" tanya wanita itu dengan nada keras.


"Saya tidak peduli siapa anda, selagi Anda salah maka tetap salah." jawab Mira lagi.


puk puk puk


Ketika wanita itu bertepuk tangan semua temannya yang duduk di sana berdiri. Mereka merebut piring yang ada di tangan Mira. Mereka menumpahkan nasi tersebut di kepala Mira.


"Ini jika Lo berani menantang kami." ucap perempuan itu.


Semua orang yang berada di kantin tertawa seolah melihat sirkus. Tidak ada satupun di antara mereka yang berniat menolongnya.


"Wah wah ada pertunjukan seru nih." Sahib Bila datang bergabung ke meja itu.

__ADS_1


__ADS_2