Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 27


__ADS_3

"Kenapa kalian pindah?" tanya papa Zaki di meja makan.


"Ini hanya sementara pa, kami ingin berduaan selalu, papa maklum lah kan kami ini pengantin baru." jawab Zaki membuat wajah Mirah memerah karena malu.


"Ya udah, tapi tiap Minggu harus pulang setidaknya dua kali."


"Baik pa." jawab Zaki.


Sebenarnya berat hati papa Zaki melepaskan mereka. Papa Zaki tau rumah ini akan sepi tanpa mereka. Apalagi mengingat hubungannya kurang harmonis dengan istrinya.


Papa Zaki telah berangkat ke kantor sedangkan Zaki masih duduk di kasur dengan Mira. Zaki melihat Mira nampak sibuk memasukkan sebagian bajunya.


"Nggak usah banyak-banyak bawa baju, nanti ujung - ujungnya balik kerumah ini lagi." ucap Zaki.


"Iya."


"Besok pas aku keluar kota gimana?"


"Aku tidur di ruko aja sama Tiwi." ucap Mira.


"Kamu penakut juga ya." ejek Zaki.


"Biarin."


"Sore ini kita lansung aja ke apartemenku, aku siang masih ada meeting, jika udah siap ayo berangkat" ucap Zaki kepada Mira.


Mereka berangkat menuju ruko Mira terlebih dahulu. Mira turun dengan senyum merona. Dalam otaknya sedang mencari cara bagaimana caranya menggagalkan kepergian Zaki 3 hari kemudian.

__ADS_1


Mobil Zaki telah meninggalkan area ruko. Zaki melihat ruko Mira agak termenung. Dia merasa bahwa ruko wanita itu mulai tidak layak.


"Rik, tolong kamu aturkan bagaimana caranya agar salah satu ruko kita dia tempati untuk buka usaha tanpa dia tau." ucap Zaki.


"Baik pak." jawab Zaki.


"Bagaimana persiapan meeting hari ini Rik?"


"Semua baik pak, udah siap 100 persen."


...****************...


"Bagaimana mar?" tanya papanya kepada Amar di ruang kerjanya.


"Apanya yang bagaimana pa?" tanya merasa kurang senang.


"Menurut kamu gimana dengan Cindi?" tanya papanya.


"Dia cantik nggak?"


"Cantik pa, tapi buat apa tanya aku?" tanya Amar masih ke pura - pura Bagong.


"Jika jadi istri kamu papa rasa cocok mar." ucap papanya mencoba menawarkan.


"Pa aku masih belum mau menikah, lagian aku tidak mau seperti bang Galuh yang di jodohkan pa." jawab Amar.


"Baiklah, tetaplah fokus pada gelar mu." nasehat papanya.

__ADS_1


"Udahlah pa, anak masih mau fokus sama sekolahnya main jodoh - jodohin aja." ucap mamanya sambil membawa lauk dari dapur.


"Mana tau cocok ma, Cindi anaknya baik banget, bibit keluarganya jelas." jawab papanya.


"Tapikan Amar masih belum ingin menikah, jika memang berjodoh nanti pasti ketemu." ucap mamanya.


"Atau kamu punya wanita lain?" tanya papa menatap curiga.


"Untuk saat ini belum ada pa." jawab Amar.


"Ahk papa ini ngapain kepo kali sama urusan anaknya ,macam nggak pernah muda aja." jawab Mama Amar.


"Papa hanya pengen tau, soalnya papa nggak pernah liat dia gandeng cewek." ucap papanya sambil tertawa.


"Ada loh pa, papa aja lupa dia pernah pacaran sama si... siapalah nama anak itu, Bella tau itu, yang pernah di bawanya kerumah." jawab mamanya.


"Udahlah pa, ma bahas apa sih, aku pamit dulu mau ke kampus dulu setelah itu baru kerumah sakit."


"Kamu fokus sama kuliah aja mar, biar cepat selesainya." nasehat mamanya.


"Aku mau merasakan punya uang dari gaji aku ma." jawab Amar dengan sopan.


"Kamu nggak pengen kuliah keluar gitu?" tanya mamanya.


"Nanti ma, ada waktunya." jawab Amar tersenyum.


"Ya udah, hanya kamu penerus kami, abangmu udah fokus mengurus rumah sakit."

__ADS_1


"Doakan aku ma pa, semoga bisa seperti kalian."


"Harus lebih hebat dari kami." ucap papanya tersenyum.


__ADS_2