
Ami POV
Aku adalah seorang yang bekerja sebagai guru di salah satu SMP di kota ini. Aku sudah bekerja kurang lebih 10 tahun.
Aku pernah gagal dalam membina rumah tangga. Aku menikah di umur 25 tahun. Kami di karuniai seorang anak setelah 3 tahun pernikahan.Namun setelah 8 tahun pernikahan kami, dia ketahuan selingkuh.
Disaat itu aku benar-benar hancur sekali. Rasanya seperti kehilangan separoh nafas ini. Terkadang ingin rasanya menyudahi semua atau menghilang ditengah malam. Namun ketika memandangi anak laki-laki ku satu - satunya aku menangis lagi.
Aku tidak mungkin lemah seperti ini. Anakku masih butuh kasih sayang dari seorang ibu. Anakku masih belum mengerti apa-apa.
Aku hanya manusia biasa yang mencoba untuk bertahan. Aku masih memikirkan nasib anakku ketika dia mencari di mana ayahnya. Namun sikap buruk suamiku belum sepenuhnya berubah. Dia masih berhubungan dengan selingkuhannya.
Aku tau semuanya ketika perempuan selingkuhannya melahirkan seorang anak perempuan. Hatiku hancur lagi ketika tau bahwa mereka sudah menikah secara diam-diam.
Aku sudah tidak bisa untuk berdiri seperti semula. Aku tidak berdaya menghadapi semua kenyataan yang ada. Aku memilih pergi meninggalkan secara diam-diam.
Berkat adanya bantuan dari teman akhirnya aku memberanikan diri untuk menggugatnya. Setelah melalui proses panjang akhirnya kami resmi bercerai.
__ADS_1
Aku mencoba untuk pindah rumah dengan membawa anakku. Aku dan anakku tinggal di kamar kos - kosan yang ada kamar mandi di dalamnya. Rumah hasil pembelian bersama di tempati oleh suami dan selingkuhannya.
Aku rela tidak mendapatkan apa-apa yang penting aku dan anakku jauh darinya. Namun berjalannya waktu, tiba - tiba ada lelaki yang selalu menungguku. Dia mendekati ku entah dengan motif apa.
Yang membuatku emosi adalah, laki - laki ini adalah muridku 7 tahun yang lalu. Lelaki ini adalah anak yang baik dan pintar pada masanya.
Aku sangat terganggu dengan kehadirannya. Apalagi dia sangat tidak sopan kepadaku. Pernahkah kamu merasakan ketika orang yang sudah kamu anggap sebagai anak tiba - tiba mengaku sangat mencintaimu.
Berkali-kali aku tolak kehadirannya dengan tegas. Aku selalu memarahinya ketika panggilannya berubah menjadi kamu. Tapi dia tidak pernah menyerah.
Beberapa bulan terakhir ini, dia selalu datang menjemputku sepulang kerja. Aku malas berdebat dengannya lagi. Jadi aku hanya masuk kemobilnya dengan cepat agar tidak ada yang melihat kami.
Namun aku tidak bisa berlama-lama di kantor karena harus menjemput anakku yang berumur 5 tahunan yang dititipkan ke penitipan.
Aku keluar dari gerbang sekolah. Aku masih melihat mobil dia masih terparkir di sisi gerbang sekolah. Aku malas melihat insiden tarik menarik di area ini. Akhirnya aku lansung naik ke mobilnya tanpa menunggu dia turun.
"Alhamdulillah akhirnya calon istriku udah terbiasa naik sendiri ke dalam mobilku." ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mimpimu."
"Percayalah mimpi aku akan jadi nyata."
"Terserahmu lah." jawabku dengan kesal.
"Kok gitu? dulu kamu juga mendoakan kesuksesan aku juga,iya kan?"
"Guru mana yang nggak mendoakan kesuksesan muridnya?"
"Masalahnya dulu selain sukses pekerjaan, doaku adalah sukses untuk mendapatkan cintanya kamu." jawab Ammar dengan tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Mana ada seperti itu, kamu itu sesat saat ini makanya harus di luruskan kembali." ucapku.
"Aku sudah lama mencintai kamu, aku mencintaimu sejak kelas 2 SMA."
"Kamu stress ya, masa murid menyukai gurunya."
__ADS_1
"Nih aku buktinya aku yang ada di depanmu."
Aku hanya diam melongo ketika tau fakta bahwa dia menyukai aku sejak bangku sekolah.