Siapalah Aku

Siapalah Aku
BAB 99


__ADS_3

Sudah dua minggu Amar sudah tidak bertemu dengan Ami lagi. Amar berusaha agar tidak mendatangi Ami. Amar berusaha untuk menghapus cintanya kepada Ami.


Setelah kejadian di mall itu, mereka sama sekali tidak bertemu. Amar berusaha untuk fokus kepada pendidikannya sehingga ia bisa menyelesaikan dengan cepat.


Sedangkan kedua orang tuanya sudah tidak sibuk menjodohkan dirinya lagi asal dia menjauhi Ami. Mamanya tidak bisa menerima Ami sebagai menantu di karenakan umur Ami yang lebih tua daripada Amar. Apalagi dengan status Ami yang sudah janda.


Hari ini Amar sedang duduk termenung di dalam mobilnya di depan sekolah Gala. Entah kenapa hatinya merasakan rindu yang mendalam kepada Gala.


Amar melihat bahwa anak-anak yang lain susah di jemput oleh orang tuanya. Namun Galah masih duduk menunggu di depan gerbang sekolahnya. Amar memperhatikan sudah setengah jam Galah menunggu.


"Kenapa Ami belum menjemput Gala?" tanya Amar bicara sendiri.


Setelah sepuluh menit kemudian Amar memutuskan untuk turun dari mobil. Dari jauh ia melihat wajah Gala seperti ingin menangis. Amar mendekati Gala yang sudah sedih.


"Om Amar eh pak dokter." ucap Gala awalnya gembira lalu kembali bersedih sambil menundukkan kepalanya.


"Kok pak dokter?" tanya Amar ingin tau apa yang akan keluar dari mulut anak kelas satu SD ini.


"Kata mama nggak boleh panggil om lagi, kata mama Gala harus menghargai profesi pak dokter." ucap Gala dengan agak bersedih.


"Kita udah nggak boleh dekat lagi ya pak dokter?" tanya Gala dengan sedih.

__ADS_1


"Siapa bilang?" tanya Amar.


"Kata mama kita itu beda, kita itu tidak satu level dan sampai kapanpun kita tidak akan bisa dekat." ucap Gala menundukkan wajahnya.


"Kita itu sama aja sayang, Gala panggil oom aja ya."


"Nanti mama sedih jika Gala tidak mengikuti mama, Gala nggak apa-apa jika nggak kawan sama pak dokter lagi asal mama tidak bersedih."


Hati Amar terasa robek mendengar ucapan polos seorang anak kecil. Anak yang sudah dia sayangi beberapa tahun ini.


"Kenapa mama belum jemput Gala?" tanya Amar.


"Mama sakit sejak dua hari yang lalu, Gala sedang menunggu ojek jemputan, sedangkan papa sedang di luar kota." ucap Gala semakin bersedih.


"Nggak usah, mama nggak bolehkan ikut orang lain selain pak ojek."


"Tapi ini om Amar bukan orang asing."


"Tapi om..."


"Udah, ayo om antar pulang, om janji nanti om akan bawa Gala jalan - jalan lagi." bujuk Amar

__ADS_1


"Nanti bagaimana jika pak ojeknya datang."


"Oke biar om kabari mama dan pak security, oke."


Gala menganggukkan kepalanya pertanda ia sudah setuju. Amar menggandeng Gala seperti seorang bapak mengandeng anak lelakinya.


"Om sama mama marahan ya om kayak papa sama Mama?" tanya Gala ketika dalam perjalanan.


"Nggak sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Amar.


"Karena papa dulu juga peduli sama Gala, sekarang udah nggak, papa dulu juga sering buat mama menangis sama kayak om."


"Mama menangis karena om?"


"Siapa lagi jika bukan om yang jahat sama mama, om pasti berantem sama mama makanya mama menangis."


"Om nggak berantem sama mama, emang mama bilang begitu?"


"Nggak sih, cuma Gala sering liat mama sering menangis sambil liat foto om di hp."


"Benaran?" tanya Amar tersenyum senang. Entah mengapa hatinya senang sekali mendengar cerita Gala.

__ADS_1


"Benaran om."


"Okey terima kasih atas informasinya boy." ucap Amar senyum - senyum sendiri sambil menyetir mobilnya.


__ADS_2