
Semenjak pembicaraan di kantor, Mira dan Zaki saling berdiam diri. Zaki merasa bersalah dengan apa yang terjadi, akan tetapi dia tidak tau bagaimana memulai dengan Mira.
Sedangkan Mira merasa malu untuk bercengkrama dengan Zaki saat ini. Setelah mengakui apa yang ada di hatinya dia merasa malu meskipun sekedar bertemu.
Ketika di rumah keduanya saling diam dan canggung. Mereka tidur saling membelakangi satu sama lain.
Zaki merasa hampa dengan malam ini. Dia tidak ingin berlama-lama berdiaman dengan Mira.
"Aku harus cari cara untuk memulainya, tapi bagaimana ya?" tanya Zaki dengan pelan.
"Atau aku minta maaf aja." ucapnya lagi.
"Belum juga beberapa jam, aku sudah tidak tahan seperti ini, ini tidak bisa di biarkan." ucapnya lagi pelan.
"Berisik." ucap Mira yang mendengar suara Zaki.
"Dengar ya sayang?" tanya Zaki membalikkan badannya namun Mira masih membelakangi dirinya.
"Sayang jangan seperti ini,mas nggak bisa seperti ini, mas minta maaf." ucap Zaki dengan tulus.
"Udah mas ayo tidur, malas bahasnya." ucap Mira yang sebenarnya belum ngantuk.
"Sayang aku tidak ada memikirkan dia saat berhubungan dengan kamu, benaran."
"Aku nggak tau mas bohong atau tidak."
"Sayang tolonglah maafkan mas, mas tau mas salah besar melakukan hal itu, tapi mas benar - benar tidak sengaja."
"Sudah mas, tadi dikantor mas juga bilang seperti itu."
__ADS_1
"Tapi kamu jangan menghukum mas selama ini, mas mana tahan." ucap Zaki memeluk Mira sambil meraba-raba tubuh istrinya.
"Jangan coba-coba memancing aku mas." jawab Mira menjauhkan tangan Zaki dari tubuhnya.
"Berdosa loh menolak suami."
"Apa hukumnya jika suami menyebut nama orang lain saat....."
"Kamu jangan trauma begitu, mas jamin itu hanya terjadi satu kali dalam hidup mas." Zaki memotong ucapan Mira.
"Tapi bagaimana jika aku masih belum mau? mas mau memaksa aku? bisa di pidanakan loh."
"Mas nggak peduli sayang, kamu mau pidanakan silahkan." jawab Zaki mulai mencium tengkuk Mira.
"Geli mas." jawab Mira mulai tertawa.
Mira hanya pasrah ketika suaminya sudah memberikan ciuman di area lehernya. Ia membalas memeluk Zaki. Entah kenapa rasa marah dihatinya mencair begitu saja.
"Sayang, kamu wangi banget." ucap Zaki berbisik di telinga Mira.
"Mas geli." suara Mira agak serak ketika Zaki menggigit lembut area telinganya.
"Kamu siap sayang melaksanakan tugas negara?" tanya Zaki disela - sela ciumannya.
"Sejauh mana kamu bisa merayu aku."
"Kamu menantang aku sayang." ucap Zaki semakin tertantang.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara pintu kamar di ketok menghentikan mereka. Zaki merasa kesal ketika ada yang berani mengganggunya.
"Buka dulu pintunya mas."
"Paling bi Darmi, biarin aja sayang." ucap Zaki lalu ******* bibir Mira kembali.
"Zaki buka pintunya." terdengar suara papanya dengan samar - samar dari luar kamar.
"Papa mas, ayo buka." ucap Mira mendorong suaminya.
"Papa ini seperti nggak pernah muda aja." ucap Zaki kesal berjalan membuka pintu.
Tapi sebelum sampai berjalan ke arah pintu, dia berbalik kembali ke ranjang. Ia berjalan sambil tersenyum bahagia menatap Mira.
"Kok balik lagi mas?"
Zaki lansung memeluk istrinya lalu mencium keningnya.
"Mas tidak tau kapan ini dimulai, yang rasakan saat ini mas tidak bisa tanpa kamu, mas hanya ingin di peluk kamu, mas yakin mungkin ini namanya cinta, mas cinta kamu, I Love You my wife." ucap Zaki menatap mata Mira.
Mira terdiam mendengar ucapan Zaki yang tidak di diduganya. Melihat Mira terdiam,Zaki mencoba memencet hidung Mira.
"Kok nggak di jawab?"
"apanya?" tanya Mira.
"Zaki, buka pintunya, papa mau bicara." terdengar suara papanya lagi.
"Ah mengganggu aja." ucap Zaki lansung berjalan ke arah pintu.
__ADS_1