
Mira dan Zaki sudah bersiap keluar untuk malam ini. Mira sengaja memakai bedak yang agak tebal agar bisa menutupi wajahnya.
Zaki sudah bersiap dengan jeans hitam dan turtleneck cream. Mira agak terpesona dengan tampilan gagah Zaki.
"Ternyata dia memang gagah." batin Mira meronta.
"Udah siap?" tanya Zaki kepada Mira karena wanita itu hanya diam melihatnya.
"Udah, lansung berangkat?" tanya Mira.
"Nggak, tidur dulu baru besoknya berangkat."
"Jangan bercanda deh."
"Udah tau masih aja nanya." ucap Zaki gemas.
Zaki menggenggam tangan Mira lalu membawanya turun kebawah. Zaki sudah mengabarkan papanya lewat telpon bahwa hari ini makan diluar.
Mereka sudah masuk kedalam mobil. Mira kaget ternyata yang bawa mobil bukanlah Zaki. Mira dan Zaki duduk di kursi belakang.
Mobil berjalan dengan perlahan menuju tujuan mereka. Semua di dalam mobil nampak hening. Zaki sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Rik, besok kamu atur semua meeting saya, dan pastikan Minggu depan tidak ada jadwal meeting."
"Baik pak."
"Saya Minggu depan ada urusan di kota J selama 4 hari, Tolong kamu atur semua pekerjaan saya."
"Baik pak."
__ADS_1
"Ini pasti dia menemui wanita itu, aku harus cari cara agar dia batal berangkat." pikir Mira.
"Pastikan papa saya tidak curiga tentang keberangkatan saya."
"Baik pak."
"Kasihan juga ibu Mira jika tau bahwa suaminya masih berhubungan dengan wanita itu." ucap Riki dalam hatinya.
Tanpa terasa mereka telah sampai di restoran yang sudah di boking oleh Riki. Zaki berjalan di depan terlebih dahulu sedangkan Mira berjalan mengekor di belakangnya.
Mira memperhatikan sekelilingnya tapi tidak menemukan siapa - siapa selain pelayan.
"Kok sepi sih? restorannya nggak enak ya?" tanya Mira kepada Zaki dengan nada pelan agar tidak terdengar oleh pelayan.
"Ini restoran terenak di sini katanya." ucap Zaki dengan tersenyum.
"Pasti tidak enak, buktinya tidak ada yang makan di sini." ucap Mira.
"Wah ini seperti kencan romantis aja." ucap Mira dengan senang hati.
Zaki tidak mengetahui bahwa Riki akan memesan makan malam romantis seperti ini.
Mira makan dengan lahap karena menu yang tersaji sangat enak.
"Sepertinya enak, buktinya kamu makan selahap itu." ejek Zaki.
"Iya enak banget." ucap Mira senang.
"Kamu memang makannya banyak?"
__ADS_1
"Iya, aku butuh tenaga banyak agar bisa bertahan hidup untuk besok." ucap Mira adanya.
Mira memang terbiasa banyak makan daripada ngemil. Ia dari kecil sudah terbiasa memakan nasi banyak karena jarang ada makanan ringan dirumahnya.
"Jika kamu sanggup habiskan saja semua."
"Jangan terlalu mengejek begitu." ucap Mira.
"Hahahaha, siapa yang mengejek, kamu yang terlalu sensitif."
Mira tidak membalas ucapan dari Zaki. Mira terdiam dan terkadang menatap Zaki.
"Kamu mau ngomong sama aku?" tanya Zaki kepada Mira.
"Boleh nggak kita tidak tinggal di rumah papa?" tanya Mira dengan ragu.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin bebas, ingin masak sendiri, dan biar aktingnya juga tidak terlalu berat."
"Tapi itu akan membuat papa akan memperlama memberikan jabatan CEO buat aku."
"Emang papa ada janji buat memberikan jabatan dalam waktu dekat?"
Zaki lansung terdiam mendengar pertanyaan Mira. Dia merasa bahwa dirinya terlalu bodoh saat ini.
"Kenapa aku mendadak bodoh ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Gimana?"
__ADS_1
"Ya udah kita pindah ke apartemen dulu sebulan ini, karna aku yakin papa tidak akan setuju." jawab Zaki karena baru menyadari kebodohannya.