
"Maaf apa kita pernah ketemu atau kenal?" tanya Mira membuat lelaki itu menyerngitkan keningnya.
"Kurang tau juga, tapi sepertinya belum, atau apakah kamu salah satu pasien saya?" tanya lelaki itu.
"Ohw anda dokter, maaf mungkin saya salah mengenal, sekali lagi maafkan saya." ucap Mira dengan ramah.
"Oke, nggak masalah." ucap lelaki itu.
"Baik, saya duluan." pamit Mira.
Mira meninggalkan lelaki itu yang masih berdiam diri. Entah kenapa sosok lelaki itu nampak memang tidak asing di matanya.
Kring Kring
Mira di kagetkan dengan suara ponselnya dalam tas. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia malas untuk menjawab karena melihat yang menelpon dirinya.
"Hallo, Assalamualaikum bang." jawab Mira dengan sopan.
"Waalaikumsalam, kamu dimana?" tanya penelpon di seberang sana.
"Di mall."
"Oke, awas kamu menemui lelaki itu, Abang dan ayah sedang mengurus perceraian kalian."
Mira hanya diam mendengarkan apa yang di bicarakan. Akan tetapi hati kecilnya tidak menerima apa yang di katakan penelpon yaitu Abian.
"Bang ada baiknya Abang tidak ikut campur, aku bisa memutuskan sendiri."
"Ini Abang di suruh ayah dan ibu, jika kamu bisa maka kamu tidak akan terjebak dalam pernikahan seperti itu."
"Abang tidak lupa dengan pernikahan Abang dulu? bukannya juga seperti neraka awalnya." ejek Mira mulai kesal dengan sikap Abian yang menurutnya mulai keterlaluan.
"Ini berbeda dengan kamu, setidaknya mertua kami sama-sama mensupport, nah kamu tidak dapat support dari orang tua dia, kamu hanya di siksa bahkan hampir mati."
"Abang tidak lupakan pada awalnya ibu juga kurang menyukai Dita?"
"Kamu jangan mendebat Abang, ibu tidak pernah menyiksa fisik Dita, lagian ini Abang di desak oleh ayah dan ibu."
"Bang biar aku yang bicara sama ayah dan ibu, Abang cukup fokus sama pernikahan Abang." ucap Mira mencoba membujuk saudara tirinya.
"Silahkan, tapi jika ayah dan ibu masih meminta abang, maka jangan salahkan Abang ikut campur."
"Baik." ucap Mira.
Mira kaget ketika Abian mematikan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
"Dasar, benar kata istrinya dulu, emang beruang kutub satu ini."gerutunya dengan kesal.
"Kenapa dulu aku bisa jatuh hati sama dia yang dinginnya sedingin kulkas 16 pintu." gerutu nya lagi.
"Lagi gerutuin aku?" tanya seseorang membuat Mira kaget tidak karuan.
"Eh eh eh, kok kamu di sini?" tanya Mira kaget melihat Zaki berada di dekatnya.
"Berati kita masih jodoh." jawabnya memaksakan senyumnya.
"Ya udah, awas minggir." ujar Mira meninggalkan Zaki.
"Kamu udah pikirkan jawaban yang kemaren?"
"Belum sempat."
"Emang kenapa belum sempat, ayolah tolong aku kali ini."bujuk Zaki membujuk Mira.
"Aku belum memikirkan, kasih waktu."
"Emang kamu sibuk apa sih sampai nggak sempat segala."
"Emang dalam hidupku penting gitu memikirkan kamu." ucap Mira berbohong karena sebenarnya Mira selalu memikirkan Zaki.
"Kamu terlalu GR, kamu tidak tau bahwa keluarga baku sedang mengajukan gugatan cerai."
"Mana bisa gitu, emang keluarga kamu nggak tau dosa gitu, dosa loh memisahkan dua insan terikat keluarga." ucap Zaki dengan suara lembut.
"Lalu apakah seorang suami tidak berdosa jika dia selingkuh di belakang istrinya, eh bukan di belakang tapi didepan mata." ejek Mira.
"Aku janji deh akan berubah, ayolah papa tanyain kamu terus."
"Ini demi CEO lagi?"
"Bukan, aku sekarang sudah kembali bekerja di perusahaan, ini demi kesembuhan papa, aku akan belajar untuk mencintai kamu." bujuk Zaki memegang tangan Mira.
Adegan itu tidak mereka sadari bahwa akan berbahaya nantinya. Karena tanpa mereka diketahui ada yang sedang memotret mereka secara diam-diam.
"Nanti aku pikirkan, semoga papa cepat sembuh, ini demi papa bukan demi kamu." ucap Mira dengan cepat karena ia tidak mau membuat Zaki GR.
"Iya demi papa, terima kasih ya, aku tunggu jawabannya secepatnya."
"Baik, aku pulang dulu."
"Biar aku antar."
__ADS_1
"Nggak usah, nanti bang Bian bisa marah."
"Nggak apa-apa, aku siap dengan semua konsekuensinya." jawab Zaki menyakinkan Mira.
Mira mencoba percaya dengan apa yang di ucapkan Zaki. Dia membiarkan Zaki untuk mengantarkannya pulang.
Ketika sampai di gerbang rumah Mira sangat kaget melihat Abian sudah berdiri di depan gerbang. Ketika Mira turun ia nampak menghampiri mobil Zaki.
"Keluar kamu." ucap Abian dengan emosi kepada Zaki.
Ketika Zaki baru keluar dari mobilnya Abian lansung meninjunya. Zaki membiarkan Abian memukulnya. Bukan karena ia takut dengan Abian, tapi ia masih menghormati laki-laki itu sebagai iparnya.
"Sudah bang." Mira mencoba menarik Abian.
Mendengar suara keributan Dita, ayah dan ibunya keluar dari rumah. Mereka sangat kaget ketika Abian memukul Zaki. Dita berlari untuk melindungi Zaki.
"Cukup mas, kamu sangat keterlaluan." ucap Dita dengan marah.
"Berdiri kamu Dita, jangan coba-coba kamu bela dia." ucap Abian mencoba menarik tangan Dita dengan kasar.
"Sakit tau, kenapa kamu jadi kasar seperti ini." teriak Dita mencoba menghempas tangan Abian.
"Sudah Abian, tenang." ucap Ibunya memegang tangan kirinya karena tangan kanannya sudah dipegang oleh Mira.
"Kamu pergi nggak dari sini, jika tidak aku yang menghajar kamu." ucap ayah Mira dengan emosi memegang kerah baju Zaki.
"Ayah jangan menyalahkan satu pihak aja, ayah harus tanya anak ayah juga." ucap Dita mulai geram dengan keluarga Mira.
"Kamu makin jadi ya Dita."tegur Abian dengan emosi.
"Udah Dit, kamu jangan bela aku." ucap Zaki menenangkan Dita. Ia tidak ingin Dita berantem dengan suaminya karena dia.
"Ada apa ini?" tiba-tiba semua diam mendengar suara ayah Abian yaitu Faiz Arkarna.
"Ayah." ucap Abian kaget.
"Kenapa kamu membentak istrimu di depan umum? apa ini yang aku ajarkan" Ayah Abian menampar pipi Abian dengan keras membuat semua orang terdiam.
"Masuk semua kedalam, jika tidak mau saya hajar satu persatu, saya tidak segan kepada siapapun." ucapnya menarik menantu perempuan satu-satunya.
Dita sudah merasa di atas angin karena ada ayah mertuanya. Ia sangat tau bahwa ayah mertuanya ini sangat menyayangi dirinya. Bagaimanapun darah Arkarna pasti akan melindungi cucu keponakannya.
Dita duduk di sebelah kiri ayah mertuanya. Sedangkan Abian di sebelah kanan. Di sebelah Abian duduk ibunya dan ayah Mira lalu Mira. Sedangkan Zaki duduk disebelah kiri Dita.
"Ada masalah apa ini? sampai ribut-ribut diluar rumah."tanya Ayah Abian.
__ADS_1