
Andin sedang duduk di kursi ruang tengah sambil menunggu suaminya pulang. Sedangkan anak-anaknya sudah tidur dari pukul 9 malam tadi.
Saat ini jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi tidak ada tanda-tanda suaminya pulang. Andin duduk sambil memainkan ponselnya. Ia mencoba menelpon suaminya namun tidak di angkat sama sekali.
"Kemana ya? kok belum pulang?" tanya Andin berbicara sendiri.
Karena ngantuk Andin membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Detik berganti menit dan menit berganti jam, Yusuf baru pulang ketika jam telah menunjukkan pukul 1 malam dini hari.
Yusuf melihat Andin tertidur di sofa, dia berlalu menuju kamar tanpa membangun Andin. Mendengar suara pintu, Andin terbangun dari tidurnya.
Andin segera menyusul suaminya menuju kamar. Ketika Andin masuk kamar, Yusuf sedang menuju kamar mandi.
"Mas mau makan setelah mandi?" tanya Andin dengan lembut.
"Nggak usah, aku udah kenyang, lain kali nggak usah masak buat aku, buat kamu dan anak - anak aja, terus tidak usah menunggu aku pulang." ucap Yusuf.
"Ya mas." jawab Andin dengan nada rendah.
Yusuf masuk ke kamar mandi sedangkan Andin keluar dari kamar. Hatinya sangat sedih dengan kondisi seperti ini. Dia memasukkan kembali lauk yang sudah dia masak malam ini kedalam lemari penyimpanan makanan.
Setelah itu dia kembali lagi ke kamar dengan lesu. Andin menemukan Yusuf sedang tertidur lelap.
"cepat kali tidurnya." gerutu Andin.
Andin merebahkan tubuhnya di sebelah Yusuf. Dia membelakangi Yusuf lalu mencoba memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
...****************...
Andin sudah berada di lobi kantor suaminya. Dia lansung menuju ruangan kerja suaminya. Andin agak tertegun melihat Yusuf sedang berduaan dengan wanita.
Mereka nampak sedang berpelukan. Hati Andin terasa sakit sekali melihat adegan itu.
"Siapa dia mas?" tanya Andin dengan agak emosi.
"Karena kamu sudah tau, baik aku jujur aja, ini adalah pacarku Dania."
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu mas? istighfar mas."
"Sudah, jangan banyak protes, kamu bisa keluar sekarang." usir Yusuf.
"Mas, apa yang kalian lakukan itu dosa."
"mas aku ini istri kamu, aku wajib mengingat kamu." jawab Andin.
"Dulu ketika aku mengingat kan kamu, adakah kamu mematuhinya." ujar Yusuf.
"Dulu aku memang salah mas, makanya aku memperbaikinya."
"Nah lansung aja, kamu bisa ambil mobil setelah kita berpisah nanti." ujar Yusuf.
"Apa? cuma mobil? aku nggak mau, aku akan ambil semua aset kita bersama."
__ADS_1
"Ohw nggak bisa, rumah untuk aku dan kami akan tinggal disana nanti." jawab Yusuf.
"Nggak, rumah untuk aku dan anak - anak."
"Ya udah, silahkan ambil semuanya." ujar Yusuf pasrah.
"Baik, permisi." ucap Andin dengan agak emosi dengan membanting pintu.
Wanita yang ada di ruang kerja Zaki itu tersenyum melihat ekspresi Andin yang notabenenya sombong.
"Gimana pak?" tanya perempuan kepada Yusuf
"Jalani aja dulu." jawab Yusuf.
"Kamu yakin dengan rencana kamu? kamu harusnya kasih tau dia bahwa perusahaan kamu sedang di ambang kebangkrutan."
"Biarkan saja dia taunya seperti ini." jawab Zaki.
"Minta tolong kepada keluarga dia, dia kan orang kaya." ucap wanita itu.
"Aku ini lelaki, aku nggak akan bergantung kepada keluarganya." ucap Yusuf.
"Ya udah , aku pamit."
Zaki hanya diam tanpa menjawab ucapan wanita itu. Tidak lama kemudian datanglah Andin kembali.
__ADS_1
"Apa lagi sih kamu kesini?" tanya Yusuf.
"Ini apa? tanya Yusuf lagi.